HUKUM MENTA’YÎN PELAKU SYIRIK BESAR

Pertanyaan:
Ustâdz, apa itu ta’yîn dalam pengkafiran dan contoh penerapannya?

Jawaban:

التَّعْيِينُ مَصْدَرُ عَيَّنَ، ومعناه التَّخْصِيصُ لِلشَّيْءِ مِن بَيْنِ أمثالِهِ

“Ta’yîn adalah mashdar dari ‘ayyana, maknanya adalah pengkhususan terhadap suatu perkara di antara dari sekian perkara yang semisal dengannya.”
Secara umumnya ta’yîn adalah penetapan atau penentuan hukum dengan terang dan jelas kepada orang tertentu yang melakukan suatu perbuatan. Jika diterapkan kepada orang yang melakukan kesyirikan besar, yang dia tidak segera bertaubat darinya maka dia ditetapkan sebagai musyrik bi’ainih, dia orang musyrik dengan sesungguhnya, dia dianggap non Muslim karena kesyirikan besar yang dia perbuat. Sekalipun dia masih menampakkan amal ketaatan dan masih shalat, namun karena dia telah mencampuradukkan kesyirikan besar dengan keimanan maka dia dihukumi sebagaimana Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ telah menghukumi musyrik atas orang terdahulu yang melakukan kesyirikan di saat luang dan melakukan ketaatan di saat sempit, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِی ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ یُشۡرِكُونَ

“Apabila mereka naik di kapal maka mereka berdoa kepada Allâh dalam keadaan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, namun tatkala Allâh menyelamatkan mereka ke daratan maka mereka melakukan kesyirikan lagi.” [Surat Al-Ankabût: 65].
Mereka dinamai sebagai orang-orang musyrik.

Di dalam Al-Qur’ãn dan As-Sunnah telah jelas ada ta’yîn terhadap orang yang melalukan kesyirikan, meskipun orang yang melakukan kesyirikan itu orang yang paling berjasa dan paling banyak berbuat kebaikan kepada Khalîlullâh, semisal ayah Ibrâhîm yang bernama Ãzar atau nama lainnya Târakh atau Târah telah dita’yîn sebagai kâfir musyrik. Tatkala Ibrâhîm Al-Khalîl ‘Alaihish Shalâtu was Salâm memohon kepada Allâh ‘Azza wa Jalla:

يَا رَبِّ، إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لاَ تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ، فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الأَبْعَدِ

“Wahai Rabbku, sesungguhnya Engkau telah menjanjikanku bahwa Engkau tidak akan menyedihkanku pada hari manusia dibangkitkan. Maka kesedihan apa lagi yang lebih menyedihkanku daripada ayahku yang terjauhkan dariku?!.”
Ibrâhîm Al-Khalîl ‘Alaihish Shalâtu was Salâm telah mengetahui ketetapan dan ketentuan Allâh ‘Azza wa Jalla yang berlaku kepada ayahnya, dengan itu, beliau memohon kepada Allâh Ta’âlâ untuk memaafkan dan mengampuni ayahnya, maka Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ menjawab permohonan Khalîl-Nya dengan perkataan yang sangat jelas:

إِنِّي حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Sungguh Aku telah mengharamkan Surga bagi orang-orang kâfir.”

Demikian pula Khalîlullâh Nabiuttaubah Muhammad ‘Alaihish Shalâtu was Salâm mengetahui ketetapan Allâh Ta’âlâ yang telah jelas terhadap ayah beliau, sehingga beliau menta’yîn ayah beliau termasuk dari orang-orang musyrik. Berkata Muslim di dalam “Shahîh”nya:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

“Telah menceritakan kepada kami Abû Bakr bin Abî Syaibah, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Affân, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammâd bin Salamah, dari Tsâbit, dari Anas, bahwa seseorang berkata: “Wahai Rasûlullâh, dimana ayahku? Beliau menjawab: “Di dalam Neraka”. Tatkala orang tadi pergi, maka beliau memanggilnya lalu beliau berkata: “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di dalam Neraka.”

Inilah yang benar dalam penerapan ta’yîn pada pengkafiran, tidak ada yang menyelisihi dan membantah ini kecuali orang salah jalan, yang dia menyimpang dari jalan Salaf atau dia mempunyai irjâ yang membingungkan dan meragukan jalannya. Kalau dia hidup di zaman ini lalu beralasan dengan al-‘udzru bil jahli maka alasan itu terlalu dipaksa-paksakan bila diletakkan dan diterapkan di zaman ini.

Diletakkan dan diterapkan di zaman sebelum diutusnya Nabî akhir zaman saja sudah sangat salah, padahal zaman itu tersifati kaumnya dengan Jâhiliyyah dan Ummiyyîn, namun Nabî akhir zaman tidak memberi udzur kepada mereka, beliau tetap menta’yîn dalam mengkafirkan, karena pada zaman itu sudah ada para penegak hujjah, ada Waraqah bin Naufal dan yang lainnya, yang jumlah para penegak hujjah hanya satu dua orang atau beberapa orang saja, namun keberadaan mereka sudah menjadi hujjah yang pasti. Lalu bagaimana dengan di zaman ini, yang hujjah telah tersiar dimana-mana dan para penegak hujjah sudah sangat banyak?.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Ahad, 9 Muharram 1444 / 7 Agustus 2022 di Cipancur Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6659