HUTSI MUSUH MURJI, TAPI SATU WALI

Pertanyaan:
Sekarang banyak murji’ah melaknat hutsi saat hutsi menyerang kapal AS-Israel di Laut Merah, bukankah hutsi diberi kuasa oleh pemerintah Yaman?. Apa memang boleh melaknat begitu?. Apakah itu masuk berduka cita dengan kerugian AS-Israel?.

Jawaban:
Tidaklah hutsi menjadi kuat seperti sekarang ini melainkan karena sebelumnya telah diberi medan kekuatan oleh penguasa Yaman yang kaum murji’ah menganggapnya sebagai wali amri, semoga ini menjadi koreksian dan peringatan bagi mereka yang memuji-muji penguasa mereka hingga berlebihan menjulukinya sebagai wali amri, jangankan penguasa seperti itu yang sangat jelas sebagai wali dimuqrathiyyah thaghuthiyyah, wali amri yang istiqamah dalam berhukum dengan hukum Allah yang ia masih hidup saja tidak perlu dipuji namun berhak untuk didoakan kebaikan, berkata Al-Imam ‘Abdullah Aba Bathin Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih:

وَوليّ الأمرِ يُدعَى لَه لا يُمدحُ لا سِيّما بما ليسَ فيه

“Dan wali amri didoakan kebaikan baginya, tidak dipuji, lebih-lebih pada apa yang tidak ada padanya.”
Mereka dulu sangat memuji Presiden Yaman ‘Ali ‘Abdullah Shalih, mereka menganggapnya sebagai wali amri, padahal tidak terpenuhi kriteria sebagai wali amri, karena wali amri adalah orang Muslim yang berhukum dengan hukum Allah, adapun yang tidak maka cukup disebut sebagai wali daulah (pemimpin negara) atau ra’is jumhuriyyah (presiden) sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Bazz dan yang lainnya dari kalangan Ahlul ‘Ilmi, sebagaimana diperjelas pula oleh Al-Imam Asy-Syaukani Rahimahumullah:

وكُلُّ مَن كانَتْ لَهُ وِلايَةٌ شَرْعِيَّةٌ لا وِلايَةٌ طاغُوتِيَّةٌ

“Dan (wali amri) adalah setiap orang yang memiliki otoritas syar’iyyah, bukan otoritas thaghutiyyah.”
Presiden Yaman ‘Ali ‘Abdullah Shalih saat menjabat ra’is jumhuriyyah yang berotoritas dimuqrathiyyah, dengan otoritasnya ia menguatkan hutsi. Padahal hutsi sebelumnya adalah orang-orang pedalaman, orang tertinggal, hanyalah sebagai qabilah kecil. Namun dikuatkan, didanai dan difasilitasi karena berani membela kepentingan politiknya, bahkan diikutkan ke dalam penamaan sebagai syababul mu’min (para pemuda beriman).
‘Ali ‘Abdullah Shalih untuk bisa menang melawan musuh-musuhnya dari partai yang bermanhaj ikhwanul muslimin, ia pun memperalat hutsi, mempersenjatainya dan mendanainya sebagaimana sebelumnya, licik dalam bersiasat. Ternyata orang seperti itu keadaannya dipuji-puji oleh hizbi murji’ hingga pernah menjulukinya sebagai doktor siasat, Subhanallahu.
Pada akhirnya, hutsi pun menjadikan ‘Ali ‘Abdullah Shalih sebagai mangsaan dan berhasil membantainya di saat ia lewat, hingga tepat diistilahkan senjata makan tuan. Hutsi menyembelihnya dengan rentetan tembakan hingga tewas di tangan mereka, dan sebelum itu murji’ah telah menyembelihnya dengan pujian-pujian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ

“Jauhilah oleh kalian saling memuji, karena sungguh itu adalah penyembelihan.”
Orang-orang Muslim tentu menyadari bahwa AS-Israel dan hutsi sama dalam kezhaliman, maka berperangnya mereka sesama mereka adalah suatu harapan, bahkan kita nyatakan dalam doa:

اَللّهُمَّ اشْغَلِ الظّالِمينَ بِالظّالِمينَ وَاجْعَلنا بَيْنَهمْ سالِمينَ

“Ya Allah, sibukkanlah orang-orang zhalim dengan orang-orang zhalim lainnya dan jadikanlah kami di antara mereka sebagai orang-orang yang selamat.”

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/669