KA’BAH PUSAT BUMI, BUKAN KUTUB UTARA

Fakta Ka’bah sebagai pusat bumi sudah semestinya diketahui oleh umat manusia, khususnya umat muslim. Mâsyâ Allâh, betapa istimewanya umat muslim, kiblatnya shalat menjadi pusatnya bumi. Namun, hal ini akan membingungkan jika kita masih berpedoman pada bumi yang berbentuk bola. Akan banyak kejanggalan pada bumi bola jika dikaitkan dengan fakta Ka’bah sebagai pusat bumi, karena untuk arah kiblat pun akan menjadi rancu. Mengapa? Karena orang yang berada di belahan bumi lain yang berkebalikan dengan lokasi Ka’bah, akan kebingungan menentukan akan shalat ke arah mana.

Sebenarnya fakta ini juga akan membingungkan orang-orang yang berpedoman pada bumi datar model bulatan dengan kutub utara sebagai pusatnya. Padahal jika masih memakai gambaran melingkar dengan kutub utara sebagai pusat, ini menjadi tak berbeda jauh dengan bumi bola, sama-sama melingkar, yang membuat rancu mana arah timur dan baratnya. Dua hal yang sebenarnya masih sama-sama propaganda.

Apa bukti bahwa Ka’bah adalah pusat bumi? Semenjak dahulu negeri-negeri yang berpusar dekat dengan pusat bumi senantiasa Allâh istimewakan dalam sejarah-sejarah peradabannya, seperti pusat lahirnya bidang-bidang ilmu terkhusus ilmu agama, pusat ibadah, lahirnya para nabî, dan konflik yang tak berkesudahan. Sebaliknya, untuk kutub utara, belum dijumpai adanya permulaan peradaban manusia, ilmu, maupun lahirnya para nabî di sana.

Ada beberapa sumber dari dalîl maupun perkataan ‘ulamâ yang Insyâ Allâh secara gamblang sudah cukup sebagai petunjuk. Namun sebelum petunjuk itu diulas, maka alangkah baiknya kita singkirkan dulu pedoman bumi melingkar dengan kutub utara sebagai pusat, baik itu bola maupun datar. Hendaknya mencukupkan untuk menyimak dulu, jangan sampai membantah dengan perkataan semisal: “Itu tidak masuk akal dengan perjalanan matahari dan bulan”, padahal belum menyimaknya.

PETUNJUK YANG PERTAMA.

Kiblat ada di antara timur dan barat. Bukan di timur, bukan pula di baratnya.

At-Tirmidzî telah meriwayatkan di dalam “Sunan”nya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ “مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ”، قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَإِنَّمَا قِيلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ لِأَنَّهُ مِنْ وَلَدِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ”، مِنْهُمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ، و قَالَ ابْنُ عُمَرَ: إِذَا جَعَلْتَ الْمَغْرِبَ عَنْ يَمِينِكَ وَالْمَشْرِقَ عَنْ يَسَارِكَ فَمَا بَيْنَهُمَا قِبْلَةٌ إِذَا اسْتَقْبَلْتَ الْقِبْلَةَ، و قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ: مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ، هَذَا لِأَهْلِ الْمَشْرِقِ وَاخْتَارَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ التَّيَاسُرَ لِأَهْلِ مَرْوٍ

“Dari Abû Hurairah dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata: “Antara timur dan barat adalah kiblat.” Abû ‘Îsâ berkata: “Ini adalah hadîts hasan shahîh. Sesungguhnya disebut dengan ‘Abdullâh bin Ja’far Al-Makhzûmî karena ia adalah anak dari Al-Miswar bin Makhramah. Sungguh telah diriwayatkan lebih dari seorang dari kalangan sahabat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau berkata: “Antara timur dan barat adalah arah kiblat.” Di antara yang berpendapat seperti itu adalah ‘Umar Ibnul Khaththâb, ‘Alî bin Abî Thâlib dan Ibnu ‘Abbâs. Ibnu ‘Umar berkata: “Jika engkau jadikan arah barat pada sisi kananmu dan arah timur pada sisi kirimu, maka antara keduanya adalah kiblat. Dan dengan begitu engkau telah menghadap ke kiblat.” Berkata Ibnul Mubârak: “Antara timur dan barat adalah kiblat, dan ini adalah untuk penduduk wilayah timur.” Dan ‘Abdullâh Ibnul Mubârak memilih arah kiri bagi penduduk Marwa.”

PETUNJUK YANG KEDUA

Berkata Al-Imâm Al-Qurthubî di dalam “Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ãn” (2/153) tentang perkataan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمّةً وَسَطاً

“Demikianlah Kami telah menjadikan kalian (wahai umat Islâm) sebagai umat pertengahan.” (Surat Al-Baqarah:143].

المعنى: وكما أن الكعبة وسط الأرض، كذلك جعلناكم أمة وسطا. انتهى

“Maknanya: Sebagaimana Ka’bah adalah pusat bumi, demikian pula Kami telah menjadikan kalian sebagai umat pertengahan.”

PETUNJUK YANG KETIGA

Dari referensi yang kami temui, penamaan Makkah sebagai Ummul Qurâ (Ibu Kota), memiliki turunan kata “Makak”, atau biasanya dipakai dalam mengeluarkan sumsum dari tulang, karena letak sumsum berada di tengah-tengah tulang. Maka Makkah sama dengan tengah-tengah bumi. Kemudian Ummul Qurâ diartikan sebagai induk dari seluruh kota.

PETUNJUK YANG KEEMPAT

Tempat terbit matahari adalah di sebelah timur dan tempat terbenamnya ada di sebelah barat, sebagaimana dalam perjalanan Dzulqarnain yang Allâh Ta’âlâ kisahkan dalam Al-Qur’ãn:

حَتّٰىٓ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِى عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّآ أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

“Hingga apabila beliau telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, beliau melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam.” (Surat Al-Kahf: 86).
Allâh Subhânahu wa Ta’âla katakan pula:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

“Apabila beliau telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur) maka beliau mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu” (Surat Al-Kahfi: 90).

PETUNJUK YANG KELIMA

Pohon zaitûn yang menghasilkan minyak terbaik dikenal tumbuh di negara-negara timur tengah. Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ katakan:

مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ

“Dari pohon yang diberkahi, pohon zaitûn yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat.” (Surat An-Nûr: 35).

Berkata Ibnu ‘Abbâs dalam penafsirannya: “Pohon zaitûn yang ada di padang Sahara dalam keadaan tidak tertutupi oleh naungan pohon lainnya, tidak tertutupi oleh gunung, tidak pula berada di dalam gua. Singkat kata, pohon itu tidak tertutupi oleh sesuatu pun. Maka pohon sejenis ini menghasilkan minyak yang paling baik.”

‘Ikrimah mengatakan: “Pohon tersebut adalah pohon zaitûn yang ada di padang Sahara; apabila matahari terbit, sinarnya langsung menerpanya; dan apabila tenggelam, terkena pula sinarnya sebelum tenggelam. Maka pohon zaitûn ini menghasilkan minyak yang paling jernih.”

Dan Mujahid mengatakan: “Tidak terletak di sebelah timur yang akibatnya tidak terkena sinar matahari di saat tenggelamnya, tidak pula terletak di sebelah barat yang akibatnya tidak terkena sinar matahari di saat terbitnya. Tetapi pohon ini terletak di antara arah timur dan arah barat, karenanya ia selalu terkena sinar mentari, baik di pagi hari maupun di petang hari saat matahari akan tenggelam.”

PETUNJUK YANG KEENAM

Ka’bah sejajar tegak lurus dengan Baitul Makmûr atau Ka’bah yang ada di langit ke tujuh. Baitul Makmûr adalah tempat para malaikat di langit melakukan thawâf, sebagaimana umat manusia melakukan thawâf di sekeliling Ka’bah bumi. Baitul Makmûr ini jika jatuh dari langit, maka akan jatuh tepat di atas Ka’bah.
Ada sebuah kajian sains menyatakan Ka’bah memiliki radiasi yaitu medan magnet yang menembus lurus tak berujung ke atas langit. Manusia memiliki keterbatasan untuk menjangkaunya. Hal ini Insyâ Allâh tidak bertentangan dengan nash, karena memungkinkan medan magnet dari Ka’bah diteruskan hingga Baitul Makmûr. Allâhu A’lam.

PETUNJUK YANG KETUJUH

Ketika menafsirkan tentang Ka’bah, dalam tafsîr Al-Jalâlain, akan ditemukan penyebutan bahwa burung tidak dapat terbang di atas ka’bah.
Dan di dalam Tafsîr Al-Baghawî juga disebutkan:

ومن الآيات في البيت أن الطير تطير فلا تعلو فوقه

“Termasuk dari tanda-tanda kekuasaan Allâh tentang Ka’bah adalah sesungguhnya burung yang sedang terbang tidak terbang di atasnya.”
Dan juga dalam Tafsîr Al-Qurthubî disebutkan:

ومنها أن الطائر لا يعلو البيت صحيحا

“Sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya tentang Ka’bah adalah burung yang dalam keadaan sehat tidak bisa terbang di atasnya.”

Burung tidak dapat melintas di atas Ka’bah karena adanya aliran energi yang berasal dari Ka’bah menuju ke atas langit. Diketahui pula Ka’bah merupakan zero magnetism area, sehingga jarum kompas tidak dapat berfungsi di sekeliling Ka’bah, karena adanya keseimbangan daya tarik kutub utara dengan kutub selatan.

Ini membantah pendapat yang dibawa oleh mainstream media, bahwa pesawat tidak dapat melintas di atas Ka’bah sebab di wilayah itu ada pelarangan penerbangan. Alasan yang bisa jadi sengaja dibuat-buat agar manusia tak menyadari ada kekuatan energi besar yang dibawa dari arah Ka’bah menuju langit, sehingga dapat menolak benda apapun yang akan melintas di atasnya.

Insyâ Allâh petunjuk-petunjuk di atas sudah cukup jelas sebagai penguat bukti ka’bah adalah pusat bumi. Pusat bumi bukan di timur, barat, selatan, maupun utara, melainkan wasath yaitu tengah-tengah (penengah, pusat atau inti). Karena pada nyatanya, dari banyak kajian tentang bumi yang kami telusuri, bumi peradaban tempat kita tinggal ini, sebelah utara dan selatanya adalah dua kutub yang luas membentang dari timur sampai ke barat. Ya, kutub utara dan kutub selatan tak sekecil yang digambarkan di bumi globe maupun bumi melingkar datar yang menjadikan kutub utara sebagai pusat lingkaran atau pusat buminya.

Ka’bah sebagai pusat bumi memisahkan antara negara bagian barat dengan negara bagian timur. Negara paling baratnya adalah benua Amerika, sedangkan negara paling timurnya adalah Jepang, Asia Tenggara, dan Australia. Selain itu, tidak kita temukan satupun petunjuk yang mengisyaratkan bahwa kutub utara adalah pusat bumi, yang ada justru banyak petunjuk bahwa Ka’bah dan negeri-negeri padang sahara sekitarnya ada di tengah, tidak berada di timur maupun barat. Wallâhu A’lam.

Ditulis oleh:
Imra’ah Al-Khidhir di Cipancur Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6194