KARAKTERISTIK SALAFIYYÛN TSÂBITÛN

Pertanyaan:
Salafiyyûn Tsâbitûn (orang-orang salafî kokoh) terus membicarakanmu, bahwa kamu adalah mumayyi’ mubtadi’ (orang lembek lagi pembuat bid’ah), karena kamu mengambil faîdah dari pembimbingmu Asy-Syaikh Doktor ‘Abdullâh Al-Jarbû’, mereka berkata tentangnya: “Dia bukan di atas kelurusan, dia mati-matian membela dan memuji pengikut Sayyid Quthb yaitu Ibnu Jibrîn. Dahulu mereka bergembira dengan kematian Al-‘Allâmah Ibnu Jibrîn sebagaimana mereka bergembira dengan kematian Ustâdz kita Abû Mas’ûd Al-Jâwî.

Jawaban:
Dua orang syaikh yaitu Samâhatusy Syaikh Shâlih Al-Fauzân dan Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz Ãlusy Syaikh memiliki perkataan yang baik dan nasehat yang bagus saat keduanya merekomendasikan atas Asy-Syaikh ‘Abdullâh bin Jibrîn semoga Allâh merahmatinya. Apakah mereka (Salafiyyûn Tsâbitûn) akan mencela keduanya dan akan membicarakan keduanya?!.

Kita Alhamdulillâh akan mengambil faîdah dari ‘ulamâ kita, baik keberadaan mereka di Kerajaan Saudi Arabia atau di selain Kerajaan Saudi Arabia. Kita akan mengambil faîdah dari mereka sebagaimana kita mengambil faîdah dari kitâb-kitâb Asy-Syaikh Ibnu Jibrîn semoga Allâh merahmatinya.

Adapun mereka (Salafiyyûn Tsâbitûn itu) maka tidak akan mengambil faîdah kecuali dari orang yang bersama mereka atau dari orang yang tidak menyelisihi mereka, jika seorang syaikh mereka menyelisihi mereka tentang suatu masalah yang mereka menamainya masalah manhaj maka mereka menganggapnya mubtadi’ (pembuat bid’ah), mereka meninggalkannya, mereka tidak menerima kitâb-kitâbnya dan mereka menghapus namanya dari nama-nama syaikh mereka. Mereka berlepas diri darinya di saat hidupnya dan setelah wafatnya. Akan tetapi mereka tidak berlepas diri dari orang yang berbuat syirik kepada Allâh dengan syirik yang besar, bahkan mereka memberi udzur kepadanya dan menggolongkannya termasuk dari saudara-saudara mereka orang-orang beriman: “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kâfir sebagai para walî (pelindung dan penolong) selain dari orang-orang beriman. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allâh.” Ayat dari surat Ãli ‘Imrân.

Inilah perihal mereka, bersamaan dengan itu mereka mengklaim bahwa mereka adalah Salafiyyûn Tsâbitûn. Telah benar Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimîn semoga Allâh merahmatinya saat beliau berkata: “Adapun salafiyyah dengan maksud keberadaannya sebagai kelompok khusus yang memiliki karakteristik (sebagai pembeda dengan selain mereka) atau menyesat-nyesatkan orang-orang yang selain mereka maka mereka itu bukanlah termasuk salafiyyah sama sekali.”
Dan beliau juga berkata: “Tidak ada keraguan bahwasanya wâjib atas seluruh orang-orang Muslim hendaklah madzhab mereka adalah madzhab para Salaf, tidak menggabungkan diri dengan kelompok tertentu yang disebut dengan Salafiyyûn. Wâjib bagi umat Islâm keberadaan madzhab mereka adalah madzhab Salaf Shâlih, tidak berkelompok dengan mereka yang dinamai Salafiyyûn, karena di sana ada jalan Salaf dan di sana ada pula jalan kelompok hizbiyyah yang dinamai Salafiyyûn. Dan yang dituntut adalah mengikuti Salaf.

Adapun bergembiranya mereka dengan kematian seorang syaikh atau seorang ustâdz yang dikenal termasuk dari para dâ’î yang mengajak kepada Allâh maka mereka itu bukanlah di atas manhaj Salaf, Nabiurrahmah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menekankan masalah ini dan memperjelasnya saat beliau berkata: “Tidak termasuk dari kami orang yang tidak menyayangi orang kecil kami dan tidak mengenal hak orang besar kami.”
Saling berkasih sayang adalah suatu karakter yang menjadikan orang beriman bersama saudaranya orang beriman yang lainnya seperti tangan bersama mata, jika tangan sakit maka mata menangis, dan jika mata menangis maka tangan menghapus air matanya.

Ini adalah satu tanda dari tanda-tanda pengikutan terhadap manhaj Salaf, berkata Ibnul ‘Utsaimîn semoga Allâh merahmatinya: “Adapun Salafiyyah adalah pengikutan terhadap manhaj Salaf pada ‘aqîdah, perkataan, amalan, perbedaan pendapat, kesepakatan, saling berkasih sayang dan saling mencintai sebagaimana perkataan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam: “Permisalan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling berkasih sayang dan saling bersimpati seperti permisalan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh mengeluh kesakitan maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan begadang.” Inilah Salafiyyah yang sebenarnya.

Diterjemahkan dari jawaban:
Muhammad Al-Khidhir.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7528