KEBENCIAN IMAM ASY-SYAFI’I TERHADAP FILSAFAT
Pertanyaan:
Orang yang mempelajari ilmu filsafat berargumen dengan Ibnu Taimiyah yang mempelajari ilmu filsafat, apa dibenarkan argumen seperti itu?.
Jawaban:
Alhamdulillah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah lautan ilmu, beliau sebelum mengupas kesesatan filsafat, beliau telah kuat dan kokoh akidah tauhidnya dan beliau kaya akan istilah-istilah Arab. Tidaklah beliau melihat suatu ilmu filsafat atau mendengarkannya melainkan beliau membantahnya. Adapun mereka yang membolehkan mempelajari filsafat, jangankan kapasitas istilah-istilah Arab, ilmu-ilmu akidah tauhid saja dipertanyakan. Maka apakah pantas untuk disamakan dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam mempelajari filsafat?!.
Sungguh bagus perkataan Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah:
ما جهل الناس واختلفوا إلا بتركهم مصطلح العرب وأخذهم بمصطلح أرسطو طاليس
“Tidaklah bodoh manusia dan tidak pula mereka berselisih melainkan karena mereka meninggalkan istilah-istilah Arab lalu mereka mengambil istilah-istilah Aris Toteles.”
Beliau juga katakan:
ولان يبتلى المرء بجميع ما نهى الله عنه ما خلا الشرك بالله خير من أن يبتليه الله بالكلام
“Seseorang diuji dengan semua apa saja yang Allah larang darinya selama bukan syirik kepada Allah itu lebih baik daripada orang yang Allah mengujinya dengan filsafat.”
Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah pernah memboikot Hafsh Al-Fardi dan beliau menghukuminya termasuk dari ahli bid’ah karena dia terpengaruh dengan filsafat hingga berpandangan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah berkata:
كان الشافعي بعد أن ناظر حفصا الفرد يكره الكلام، وكان يقول: والله لأن يُفتي العالم فيقال: أخطأ العالم، خير له من أن يتكلم فيقال: زنديق، وما شيء أبغض إليّ من الكلام وأهله
“Dahulu Asy-Syafi’i setelah mendebati Hafsh Al-Fardi, beliau benci filsafat. Beliau pernah berkata: “Demi Allah, orang berilmu berfatwa lalu dikatakan orang berilmu itu telah salah, itu lebih baik baginya daripada berfilsafat lalu dikatakan zindiq.” Tidak ada sesuatupun yang lebih aku benci daripada filsafat dan ahli filsafat.”
Dijawab:
Abu Ahmad Al-Khidhir pada hari Sabtu, 17 Rabi’ul Awwal 1446 / 21 September 2024 di Bogor.