KEBIMBANGAN ‘ÂDZIRÛN

Pertanyaan:
Sudah ada beberapa ikhwah menanyakan tulisan orang yang menamai dirinya Ibnu ‘Abdirrahmân Hanîf Indrapurî yang berjudul “Menepis Tuduhan Bahwasanya Ahlussunnah telah Terjatuh pada Paham Irjâ'” yang dikoreksi oleh syaikhnya Abû Fairûz ‘Abdurrahmân bin Soekojo Al-Indonesî dan mengatakan: Isinya bagus dengan pendalîlan jelas.”

Jawaban:
Kasihan sekali Abû Fairûz sampai bisa memuji dan menganggap bagus dan mengakui pendalîlan jelas atas tulisan orang semisal Hanîf itu?! Awal kemunculan Hanîf ini membuat beberapa tulisan bantahan sana sini, tatkala ditabayyuni oleh kenalannya, dia mengaku pernah ta’lîm di beberapa tempat ta’lîm namun dia tidak bisa lagi ikut ta’lîm karena di rumahnya nemani orang tuanya. Karena dia tahu diri bukan thâlibul ‘ilmi dan juga bukan thuwailibul ‘ilmi, dia mengutarakan niatnya akan pergi menuntut ilmu ke Abû Turâb di Bengkulu. Mungkin sekarang sudah jadi alumni pondok Abû Turâb jadi tampil kembali dengan wajah baru dalam upayanya menyaingi orang-orang berilmu hingga terus mencoba mengalihkan orang lain kepada tulisannya itu, kasihan sekali dia, berkata Nabiuttaubah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk menyaingi orang-orang berilmu atau untuk mendebati orang-orang bodoh atau untuk mengalihkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allâh akan memasukkannya ke dalam Neraka.”

Dan yang lebih patut dikasihani lagi syaikhnya Abû Fairûz, bisa-bisanya memuji dan merekomendasikannya, kenapa bukan dia saja yang menulis berbahasa Arab memuat argumen dan penafsîrannya sebagai bantahan terhadap para ‘ulamâ Saudi mumpung para ‘ulamâ itu masih pada hidup?!. Bukankah Abû Fairûz sudah berpengalaman mencari rekomendasi walaupun pada akhirnya sebagian yang merekomendasikannya mencabut rekomendasi dan sebagian yang lain menyesali memberi rekomendasi kepadanya?!.
Itu dia dapat merekomendasikan orang yang mengikutinya, nanti dia akan cari lagi rekomendasi yang diikutinya, yang diikutinya juga akan cari pula rekomendasi dari yang diikutinya. Menyadari ataupun tidak, nampak kebingungan dan keragu-raguan di antara mereka dalam menjadi ‘âdzirûn, padahal Samâhatusy Syaikh Shâlih Al-Fauzân Hafizhahullâh wa Ra’âh telah ingatkan dan peringatkan:

لا يجوز لأحد أن يتكلم في هذه المسائل الخطرة إلا بعد أن يتعلم ويتبصر ويدرس العقائد دراسة صحيحة على أهل العلم، ثم بعد ذلك إذا اضطره الحال إلى الكلام تكلم، فإن لم يُضطر إلى هذا فلا يتكلم

“Tidak boleh bagi seorangpun untuk berbicara tentang masalah-masalah yang bahaya ini kecuali setelah dia menuntut ilmu, meneliti dan belajar kepada Ahlul ‘Ilmi tentang ‘aqîdah-‘aqîdah yang benar. Kemudian setelah itu, apabila keadaan mendesaknya untuk berbicara maka dia berbicara dan jika keadaan tidak mendesak maka jangan dia berbicara.”

Mereka pada perkara memberi udzur terhadap pelaku syirk akbar atau terhadap orang yang batal keislamannya ingin sekali mereka jadikan itu sebagai masalah khilâfiyyah yang teranggap, bahkan mereka memperjuangkannya hingga mencari rekomendasi atau saling menguatkan di antara mereka, namun pada perkara penghizbiyahan terhadap seseorang, mereka tanpa mau menerima ada yang mengkhilâfi, jangankan sekelas Asy-Syaikh DR. Rabî’ Al-Madkhâlî yang dulunya ditinggi-tinggikan oleh mereka, Al-Imâm Ahmad bin Hanbalpun kalau seandainya Allâh hidupkan kembali, sebagian mereka nyatakan tidak akan mau menerimanya dalam mengkhilâfi, Wallâhul Musta’ân.

( Muhammad Al-Khidhir ).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7417