KENALILAH KESALAHAN SEHINGGA TIDAK TERJADI PADAMU
Pertanyaan:
Ustâdz, mengingat hak Allâh di atas segala-galanya, dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada ‘Ulamâ, saya izin bertanya tentang seorang ‘Ulamâ yang bernama Syaikh Prof. DR. Rabî’ Al-Madkhâlî yang dibantah oleh sebagian ‘Ulamâ soal pemikiran dan paham murji’ah. Tapi ada pengalihan dari para dâ’î yang fanatik kepadanya, bahwa yang membantahnya karena iri, dengki dan benci. Sebab dia banyak bantah Ahlul Bid’ah, dia pembawa bendera Jarh wat Ta’dîl dan banyak pujian ‘Ulamâ kepadanya. Seakan-akan mereka tidak mengakui kalau dia salah pada perkara îmân. Bagaimana meluruskan masalah seperti ini?.
Jawaban:
Tatkala ada dari orang yang memiliki ilmu menjelaskan tentang suatu kesalahan pada seseorang, siapapun dia dan bagaimanapun kedudukannya maka penjelasan terhadap kesalahannya tersebut perlu bagi orang lain untuk mengetahuinya sehingga tidak terjatuh ke dalam kesalahan semisalnya, berkata Hudzaifah Ibnul Yamân Radhiyallâhu ‘Anhumâ:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ، مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan dan aku dahulu bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku.”
Sungguh betapa bagus apa yang telah dikatakan oleh seorang penyair:
عَرَفْتُ الشّرَّ لا لِلشّرِّ *** لَكِنْ لِتَوَقّيهِ
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ الشّرَّ *** منَ الناسِ يقعْ فيهِ
“Aku mengetahui kejelekkan bukan untuk berbuat jelek, akan tetapi untuk menjauhinya. Barangsiapa yang tidak mengetahui kejelekkan pada orang lain maka dia akan terjatuh padanya.”
Jangan sampai seseorang melakukan pengalihan dari diketahuinya suatu kesalahan. Siapa yang ingin kesalahan tidak diketahui atau tatkala ingin diterangkan suatu kesalahan itu justru diterapkan manhaj muwâzanah pada pembuat kesalahan tersebut maka ini suatu kesalahan yang pernah diingkari oleh Asy-Syaikh Rabî’ Al-Madkhâlî sendiri, beliau katakan:
ذكر النبي صلى الله عليه وسلم عيوب أشخاص معينين دون ذكر محاسنهم من باب النصيحة
“Nabî Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan tentang aib-aib pada orang-orang tertentu dengan tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka itu termasuk dari bâb nasehat.”
Asy-Syaikh Rabî’ banyak berbicara tentang masalah muwâzanah ini dan menganggapnya manhaj baru.
Oleh karena itu, tatkala ada orang berilmu menyebutkan kesalahan beliau saja, itu sesuai dengan manhaj beliau, maka jangan kemudian dialihkan dengan menyebutkan kebaikan-kebaikannya dan jasa-jasanya dengan maksud menutupi kesalahannya, karena sungguh banyak orang yang memiliki kebaikan dan jasa, semisal Arnold John Wensinck pemilik kitâb Mu’jam Al-Mufahras Li Alfâdzhil Hadîtsin Nabawî sebanyak 6 jilid.
Jika ada yang menyebutkan kesalahan orang ini, bahwasanya dia adalah orang yang tidak beriman dan dia adalah orientalis, jangan kemudian diharuskan untuk menyebutkan kebaikan dan jasannya, karena itu bertentangan dengan manhaj yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Rabî’ bin Hâdî Al-Madkhâlî.
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada malam Kamis 22 Rabî’uts Tsânî 2022 di Klapanunggal Bogor.