KETERASINGAN ITU BERULANG KEMBALI

Seorang tokoh yang dihormati dan diakui namun tidak diterima seruannya dan tidak diikuti ajakannya untuk benar-benar bertauhîd, keadaannya seperti Raja An-Najâsyî Ashhamah Radhiyallâhu ‘Anhu wa Rahimah.

Seorang ‘âlim yang diakui keshâlihan dan keutamaannya, diangkat dan dijadikan sebagai tokoh agama yang dimuliakan namun tidak diteladani dan tidak diikuti dakwah Tauhîd yang diserukannya, keberadaannya seperti seorang uskup yang berkata kepada Salmân Al-Fârisî Radhiyallâhu ‘Anhumâ:

أَي بُنَيّ وَاللّهِ مَا أَعْلَمُهُ بَقِيَ أَحَدٌ عَلَى مِثْلِ مَا كُنًّا عَلَيهِ

“Wahai muridku, demi Allâh aku tidak mengetahui seorangpun yang masih tersisa semisal dengan apa yang kita berada di atasnya.”

Nyata sudah keterasingan itu, sungguh betapa benar perkataan Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

وَمَا أَنْتُمْ في أَهْلِ الشِّرْكِ إِلَّا كَالشَّعْرَةِ الْبَيْضَاءِ في جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ أَوْ كَالشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ في جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَحْمَرِ

“Dan tidaklah jumlah kalian dibandingkan dengan ahli syirk (orang-orang berbuat syirik) kecuali seperti satu helai rambut yang berwarna putih di kulit banteng yang berwarna hitam atau seperti satu helai rambut hitam di kulit banteng yang berwarna merah.”

Keterasingan itu memang terjadi karena menjadi ahli Tauhîd, keterasingan itu nyata tatkala merealisasikan dua rukun Tauhîd yaitu al-kufru bith thâghût dan al-îmânu Billâh.

Keterasingan itu pasti terjadi tatkala tidak mau menjadikan ahli syirk sebagai ahli Islâm atau tidak mau mengakui mereka sebagai saudara-saudari seagama?!.

(Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir)

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8733