KETIDAKSUKAAN KAUM MURJI’AH UNTUK SELALU MENDAKWAHKAN TAUHID DAN MEREALISASIKANNYA

Pertanyaan:
Grup sebelah sebutkan, pembahasan Ustâdz Al-Khidhir dan jamâ’ahnya itu itu saja, takfîr mu’ayyan, udzur bil jahl, tidak ada masalah lain apa?.

Jawaban:
Pembahasan tentang takfîr termasuk dari konsekuensi Tauhîd yang paling penting, berkata Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

 لا يصح دين الإسلام إلا بالبراءة من هؤلاء أي الطواغيت المعبودون من دون الله وتكفيرهم، كما قال تعالى: فَمَن یَكۡفُرۡ بِٱلطَّـٰغُوتِ وَیُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ

“Tidak sah agama Islâm kecuali dengan berlepas diri dari mereka ini, yaitu para thâghût yang diibadahi dari selain Allâh dan mengkâfirkan mereka, sebagaimana berkata Allâh Ta’âlâ: “Barangsiapa mengkufuri thâghût dan beriman kepada Allâh maka sungguh dia telah berpegang teguh kepada tali yang kokoh.” [Surat Al-Baqarah: 256].

Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam 10 tahun di Makkah mendakwahkan ini, beliau mengkufuri peribadahan selain Allâh dan orang-orang Quraisy paham betul kalau beliau mengeluarkan mereka dari agama Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm yakni mengkafirkan mereka, beliau terus menerus menyerukan mereka kepada Tauhîd dan mengkufuri thâghût, andaikan mereka di atas agama Ibrâhîm maka tentu selama 10 tahun beliau tidak akan habiskan untuk seruan itu.
Demikian pula Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih menghabiskan sisa umurnya untuk menyerukan Tauhîd dan merealisasikannya, berjuang dan berjihâd di jalan Allâh untuk menegakkannya hingga Kerajaan Saudi Arabia tegak dengan sebab beliau di antaranya, walaupun kemudian Syaikh Al-Albânî meremehkan beliau dan mencela beliau sebagaimana dengan terang-terangan dia katakan:

بخلاف الشيخ محمد بن عبد الوهاب، فلم تكن له هذه العناية، لا في الحديث ولا في الفقه السلفي، فهو من الناحية المذهبية حنبلي، ومن الناحية الحديثية كغيره، فليس له آثار في الفقه تدلنا على أنه كـابن تيمية سلفي المنهج في التفقه في الدين، لعل له في ذلك عذراً كما ألمحنا إليه آنفاً. وكذلك في الأحاديث فهو كغيره مع الأسف الشديد، لا معرفة عنده بالحديث الصحيح والضعيف

“Berbeda dengan Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb, dia tidak memiliki perhatian ini, tidak pada hadîts dan tidak pula pada fiqih Salafî. Dia dari sisi madzhab adalah Hambalî, dan dia dari sisi hadîts seperti selainnya. Dia tidak memiliki peninggalan-peninggalan ilmu tentang fiqih yang menunjukkan kepada kita bahwa dia seperti Ibnu Taimiyyah yang bermanhaj Salafî dalam mempelajari agama, mungkin dia memiliki alasan tersendiri tentang itu, sebagaimana kami isyaratkan baru saja. Demikian pula pada masalah-masalah hadîts, dia seperti yang lainnya menyesalkan sekali. Tidak ada pengetahuan yang dia miliki tentang hadîts shahîh dan hadîts dha’îf.”

Tidaklah orang semisal Syaikh Al-Albânî dan yang sepaham dengannya berbicara seperti ini karena sudah merasa paling berpengetahuan terhadap hadîts, kenyataanpun memperjelas hakekat Syaikh Al-Albânî, betapa banyak hadîts-hadîts yang dia shahîhkan atau dia hasankan ternyata juga dha’îf-dha’îf.

Orang-orang yang perhatian terhadap ilmu hadîts atau minimalnya mengikuti kajian kitâb-kitâb Sunan semisal kajian yang disampaikan oleh Fadhîlatusy Syaikh Al-Muhaddîts ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbâd Hafizhahullâh tentu akan mengetahui hadîts-hadîts dha’îf yang dihasankan atau dishahîhkan oleh Syaikh Al-Albânî, belum lagi para ulamâ’ hadîts lainnya. Jangankan mereka, Syaikh Al-Albânî sendiri kadang berlainan menghukumi suatu hadîts, dalam suatu kitâb dihukumi hasan atau shahîh, di kitâb lainnya dihukumi lain lagi. Dengan keadaannya seperti itu apakah kemudian pantas menjatuhkan Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh pada masalah hadîts?!.
Al-Imâm Ahmad Rahimahullâh paling mengetahui hadîts-hadîts antara shahîh dan dha’îfnya, namun beliau masih mengumpulkan di dalam “Musnad”nya hadîts-hadîts shahîh dan dha’îf.

Demikian pula Al-Bukhârî Rahimahullâh sangat mengetahui hadîts-hadîts antara shahîh dengan dha’îfnya, namun beliau masih mengumpulkan di dalam “Al-Adabul Mufrad” hadîts-hadîts shahîh dan dha’îf. Apakah berani mau dikatakan bahwa kedua imâm besar ini tidak ada pengetahuan hadîts shahîh dan hadîts dha’îf?!.

Kalau mau berbicara tentang fiqih Salafî yang paling banyak atau yang paling perhatian terhadap hadîts maka kita dapat melihat Salaf kita para Shahabat, terkhusus Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu, kenapa sampai yang paling banyak teriwayatkan dari beliau tentang masalah fiqih dan hadîts? Kenapa bukan Khalîfah Rasûlillâh Abû Bakr Ash-Shiddîq dan Amîrul Mu’minîn ‘Umar Al-Fârûq Radhiyallâhu ‘Anhumâ?!. Kenapa yang banyak Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu bukan Al-Khulafâ’ur Râsyidûn?!. Apakah mau berani katakan orang-orang termulia semisal Al-Khulafâ’ur Râsyidûn itu tidak ada pengetahuan tentang fiqih dan hadîts atau mau dikatakan tidak punya peninggalan-peninggalan ilmu tentang fiqih seperti Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu?!. Boleh jadi fiqih dan hadîts yang Abû Hurairah atau Shahabat lainnya sebutkan banyak pula didapatkan dari Khulafâ’ Râsyidûn hanya saja tidak disebutkan dari mereka karena mereka semua ‘udûl, Radhiyallâhu ‘Anhum Ajma’în.

Dan kalau mau berbicara tentang peninggalan-peninggalan ilmu justru yang paling terbesar adalah peninggalan Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb dan Raja Su’ûd, dengan sebab keduanya perpustakaan-perpustakaan ilmu terlindungi dan terwariskan, bukan hanya perpustakaan-perpustakaan ilmu yang telah dini’mati oleh Syaikh Al-Albânî dan umat Islâm secara umumnya namun Al-Harâmain (dua kota suci) terjaga dan terlindungi pula dengan izin Allâh ‘Azza wa Jalla.

( Muhammad Al-Khidhir ).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7427