KEUTAMAAN MATI DI ATAS TAUHID
Pertanyaan:
Ijin bertanya Ustadz, saya mendengar seorang kyai meninggal di Makkah, jenazahnya masih utuh. Yang saya tanyakan: Apakah orang meskipun melakukan kebid’ahan jenazahnya juga Allah jaga. Jazakumullahu khairan Ustadz.
Jawaban:
Bisa jadi keberadaannya selama di Makkah ia mengikuti dakwah Tauhid, karena di Makkah saat itu dakwah Tauhid berkembang pesat. Dan sebelum itu, dari tokoh-tokoh kaum Padri yang dikenal julukan mereka Harimau Nan Salapan, sebagian mereka juga mendapatkan dakwah Tauhid di Makkah, saat mereka berangkat haji, mereka menyempatkan menimba ilmu di sana lalu kembali ke Sumatra membangun markiz kaum Padri.
Dan kita berhusnuzhan kepada Kyai tersebut, mungkin saja semasa hidupnya di Makkah ia mempelajari Tauhid, mungkin ia mengikuti dakwah Tauhid hanya saja belum sempat dikenal lalu ia wafat, bisa jadi akhir ucapannya La Ilaha Illallah, ia ucapkan dengan penuh ikhlas dan benar tanpa ragu padanya, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَن قال لا إلهَ إلَّا اللهُ صادقًا بها دَخَلَ الجنَّةَ
“Barangsiapa mengucapkan La Ilaha Illallah dalam keadaan penuh pembenaran padanya maka dia masuk Surga.”
Dan Nabiuttaubah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berkata:
مَن كان آخرُ كلامهِ لا إلهَ إلَّا اللهُ دخَلَ الجنَّةَ
“Barangsiapa keberadaan dari akhir ucapannya La Ilaha Illallah maka dia masuk Surga.”
Dan tentu keadaan orang seperti itu tercatat sebagai orang yang mati dalam keadaan husnul khatimah, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung pada akhir-akhirnya.”
Bisa memungkinkan keberadaan dari akhir hidup Kyai tersebut telah bertaubat dari kesesatan masa lalunya, seperti keberadaan salah seorang kawan kita yang ia bercerita bahwa ia selama di Indonesia belajar agama di komunitas LDII, kemudian ia ke Yaman untuk menuntut ilmu, dan ia yakin bahwa teman-temannya di Indonesia mengira ia masih beraliran LDII, padahal ia sudah bertaubat dan meninggalkan LDII, ia sudah mulai mempelajari Tauhid dan Sunnah. Dan di antara bentuk dari perealisasian Tauhid yang ia berpegang teguh padanya adalah pengkafirannya terhadap Hutsi, bahkan ia menta’yin pula tentang kekafiran tokoh-tokoh Hutsi. Saat Hutsi menyerang Dammaj, ia termasuk salah seorang yang dibantai oleh Hutsi, dan setahun setengah setelah ia di kubur di halaman samping rumah warga Dammaj, didapati jenazahnya masih utuh, Walhamdulillah.
Kalau orang hanya mengetahui keadaan masa lalunya sebagai LDII lalu mendengar jenazahnya masih utuh seperti itu, mungkin akan mengira itu sebabnya karena ia LDII, padahal yang harus dilihat adalah keadaan akhir hidupnya, bukan melihat ia bersama siapa?!. Karena sungguh orang meskipun sama-sama dalam satu komunitas kalau akhir dari amalannya beda maka tentu juga tidak akan sama keadaannya, seperti orang-orang yang dibantai oleh Hutsi, itu tidak semua yang mati masih pada utuh jenazahnya, namun didapati pula pada sebagian yang terbunuh tidak utuh namun sudah berubah menjadi tengkorak, ini sebagaimana yang dipersaksikan oleh kawan-kawan yang melakukan penggalian pemakaman syuhada’ saat di pindahkan jenazah-jenazah ke sekitar pemakaman umum Dammaj, Wallahu A’lam wa Ahkam.
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1033
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/12626