KEWÂJIBAN BARÂ’ DARI KESYIRIKAN DAN PELAKUNYA
Pertanyaan:
Apakah pengertian Islâm yang disebutkan di dalam “Al-Mabâdiul Mufîdah” sudah pas dan cukup sempurna?.
Jawaban:
Defenisi Islâm yang paling bagus dan sempurna adalah defenisi yang disebutkan oleh Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih di dalam “Al-Ushûl Ats-Tsalâtsah”:
وهُو الاستسلامُ لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبَرَاءَةُ مِنَ الشِّركِ وَأَهْلِهِ
“Islâm adalah memasrahkan diri kepada Allâh dengan mentauhîdkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan.”
Adapun defenisi di dalam “Al-Mabâdiul Mufîdah”:
هُو الاستسلامُ لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والخُلُوصُ مِنَ الشِّركِ
“Islâm adalah memasrahkan diri kepada Allâh dengan mentauhîdkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya dan membersihkan diri dari kesyirikan.”
Maka ini kurang dan belum sempurna, karena Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ telah memerintahkan untuk berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya sebagaimana di dalam Sûrah Al-Kâfirûn, dan Allâh ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan mereka para pelaku kesyirikan itu sebagai orang-orang kâfir:
قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡكَـٰفِرُونَ
“Katakanlah: Wahai orang-orang kâfir.” (Al-Kâfirûn: 1). Sampai pada perkataan-Nya:
لَكُمۡ دِینُكُمۡ وَلِیَ دِینِ
“Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” (Al-Kâfirûn: 6).
Dan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ telah menjadikan Khalîl-Nya Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm sebagai teladan dalam perkara besar ini, beliau dan kita yang meneladaninya harus menyatakan sikap untuk barâ’ terhadap orang-orang yang berbuat kesyirikan, berkata ‘Azza wa Jalla:
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةࣱ فِیۤ إِبۡرَ ٰهِیمَ وَٱلَّذِینَ مَعَهُۥۤ إِذۡ قَالُوا۟ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَ ٰۤ ؤُا۟ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَیۡنَنَا وَبَیۡنَكُمُ ٱلۡعَدَ ٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَاۤءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥۤ
“Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrâhîm dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: “Sungguh kami barâ’ (berlepas diri) dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allâh, kami mengingkari kekafiran kalian dan telah nyata antara kami dan kalian ada permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allâh saja.” (Al-Mumtahanah: 4).
Jangan sampai seseorang tidak melaksanakan kewâjibannya untuk barâ’ dari orang-orang yang berbuat kesyirikan atau justru dia menyalahtempatkan kewâjiban barâ ini, dia tempatkan kewâjiban barâ’ ini kepada orang-orang Muslim lantaran suatu dosa. Padahal barâ’ dari pelaku kesyirikan adalah suatu kewâjiban, berkata Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:
فالواجب على المسلم أن يتبرأ من عابد غير الله، وأن يعتقد كفرهم وضلالهم حتى يؤمنوا بالله وحده سبحانه
“Wâjib atas seorang Muslim untuk berlepas diri dari siapa saja yang beribadah kepada selain Allâh dan wâjib meyakini tentang kekâfiran mereka dan kesesatan mereka sampai mereka beriman kepada Allâh Subhânah saja.”
Al-Imâm Ibnu Bâzz Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih setelah berkata dengan perkataan tersebut, beliau menyebutkan dalîl-dalîl, di antaranya perkataan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
“Barangsiapa melakukan pengingkaran terhadap thâghût dan dia beriman kepada Allâh maka sungguh dia telah berpegang teguh kepada tali kokoh yang tidak akan pernah putus.”.” (Al-Baqarah: 256).
Kemudian beliau tafsîrkan:
والكفر بالطاغوت معناه البراءة من عبادة غير الله واعتقاد بطلانها
“Melakukan pengingkaran terhadap thâghût maknanya adalah berlepas diri dari peribadahan kepada selain Allâh dan meyakini tentang kebatilannya.”
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir sebelum kajian “‘Umdatul Ahkâm” pada malam Jum’at tanggal 25 Rabî’ul Awwal 1444 / 21 Oktober 2022 di Bogor.