MENDAKI TANJAKAN, MEMBAWA TANGGAPAN RINGAN

باسم الله، الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، ثم بعد:

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, apa yang dikatakan oleh Ade An-Nanejediy At-Tanjakaniy memang perlu ditanggapi, Insya Allah kita akan berikan tanggapan ringan, dia berani katakan di dalam postingannya yang dia publikasikan secara umum tentang kita, dia katakan: “Dulu mendukung salah satu paslon waktu pilpres, walaupun sudah dihapus postingannya tapi tidak ada rujuknya.”
Alhamdulillah kita menghapus postingan ketika itu karena sudah muncul salah paham oleh mereka, bahkan sampai salah seorang senior mereka mengatakan: “Bahwa kita mengharapkan kemenangan dari demokrasi” Hasbunallahu Wani’mal Wakil. Padahal hakekatnya kita membandingkan antara yang baik dalam penampakkannya terhadap Islam dan pembelaannya terhadap Islam, dan kita terang-terangan katakan kepada tim sukses paslon yang menemui kita bahwa kita tidak akan pernah mendukung mereka maupun selain mereka. Lalu At-Tanjakani katakan kita mendukung, Subhanallah, dengan apa kita mendukung?. Kita akan kemukakan secara ilmiyyah, mudah-mudahan saja mereka juga bisa ilmiyyah dan tidak hanya asal komentar sana sini. Dahulu saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang beriman bersamanya menyatakan kecondongannya kepada Romawi saat Romawi perang melawan Persia dan mereka mengharapkan Romawi yang menang, dan orang-orang musyrik Quraisy menampakkan kecondongannya kepada Persia. Apakah At-Tanjakaniy akan mengatakan orang-orang beriman bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendukung Romawi?. Apakah ada riwayat Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat itu mengirim pasukan membantu Romawi?. Ataukah saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirimkan dana?!. Mereka condong kepada Romawi karena membandingkan siapa yang masih percaya kepada Allah?. Kecondongan mereka kepada Romawi karena Romawi masih percaya adanya Allah. Berkata Niyar bin Mukram Al-Aslami Radhiyallahu ‘Anhu:

وكان المسلمون يحبون ظهور الروم عليهم لأنهم وإياهم أهل كتاب

“Dahulu kaum Muslimin akan merasa senang dengan kemenangan Romawi atas Persia, karena mereka adalah ahlul kitab.” Kemudian beliau bacakan ayat:

وَیَوۡمَىِٕذࣲ یَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

“Pada hari itu, bergembiralah orang-orang beriman.” [Surat Ar-Rum: 4].
Dari sini beranikah At-Tanjakaniy mau katakan kaum Muslimin saat itu mendukung Romawi sebagaimana katakan kita mendukung paslon?.
Alhamdulillah para tim sukses paslon yang berkali-kali dan bergantian meminta dukungan ke kita namun kita nyatakan tidak memberi dukungan kepada mereka dan tidak pula kepada lawan mereka, mereka lebih memahami kalau kita tidak pernah mendukung mereka daripada At-Tanjakaniy ini, Subhanallah.
Adapun pernyataan At-Tanjakaniy: “Dulu mendukung salah satu paslon waktu pilpres…” Ini sangat nampak ketidakinshafannya, kalau dulu dia merasa inginkan kebaikan kepada kita, kenapa tidak tanggapi secara ilmiyyah dan hikmah di waktu itu?!. Ini orang mirip dengan turunan madakhilah yang kemudian pecah darinya, yaitu mereka mengoleksi kutub Asy-Syaikh Rabi Al-Madkhali, berentet bertahun-tahun di Maktabah mereka yaitu “Majmu’ Rasa’il wa Fatawah”, tanpa ada koreksian atau tanggapan sedikitpun, bahkan dipuji-puji berlebihan saat itu. Namun lihat di saat Asy-Syaikh Rabi mengomentari dan membicarakan petinggi mereka, langsung mereka cari kesalahan-kesalahan di dalam kutubnya hingga lahirlah kitab bantahan yang dibangga-banggakan karena telah membantah kesesatannya seputar iman.
Dan kita melihat At-Tanjakaniy ini mirip juga dengan Abu Jasmine pemilik Ashhabul Hadits, ingin mau menggiring orang lain kepadanya, maka tidak heran ada orang-orang yang dia hubungi nanti akan disampaikan tentang orang yang dia selisihi lalu nanti diminta hubungi atau tanggapi. Cukup apa yang dia publikasikan di media sosialnya itu sebagai pancingan atas orang-orang, yang akan meresponnya akan terlihat hanya pandai komentar, namun tidak ilmiyyah.
Adapun pernyataannya tentang kita: “Sekarang nuduh mamlakah pakai mata batin waktu ru’yatul hilal.” Maka ini pun kita sudah beritahukan dalam menjawab orang yang menghubungi lewat WA yang bernama Shalih, yang orang ini teranggap sebagai ustadz mereka dan pembimbing grup mereka, dia menyebutkan mata batin itu bahasa orang Shufi lalu nanya apa maksudnya?. Alhamdulillah sudah diberitahu bahwasanya itu ungkapan atas orang yang mengaku melihat hilal dengan mata kepala namun ternyata tidak melihat. Dikirimkan bukti foto, dengan gampangnya menyatakan itu bisa jadi bikinan atau editan. Ini tuduhan lagi, akan merentet mereka ini pada berbagai kesalahan tanpa mereka sadari. Kalau itu dianggap bikinan atau editan, coba bawakan bukti yang sebenarnya, karena telah jelas kaidah:

لكن البيّنة على المدّعي

“Akan tetapi wajib bagi penuduh untuk membawakan bukti.”
Kemudian membuat kesimpulan lagi bahwa foto atau vidio itu bisa dibuat oleh orang-orang yang hiqd terhadap Saudi, ini juga sudah salah, mengandalkn sangkaan lagi:

إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمࣱ

“Sungguh pada sebagian sangkaan itu adalah dosa.” [Surat Al-Hujurat: 12].
Lihatlah betapa mudahnya menilai hiqd terhadap perkara yang tidak jelas bagi mereka, kemudian menuduh lagi.
Apa susahnya kalau peru’yah mereka bawakan bukti gambar hilal atau vidio mereka?!. Bukankah alat dan camera HP mereka tentu lebih canggih?!.
Tim dan komunitas Lirru’yatisy Syar’iyyah Lilhilal saja dapat mempublikasikan hasil ru’yah mereka, tidak hanya di awal bulan yang ada hari besar Islamnya namun setiap bulan mereka publikasikan. Sedangkan mereka itu, bukti yang ditampakan hanya selfi-selfi mereka di hadapn kamera atau hanya tunjuk-tunjuk jari.
Maka dari itu, kita ingatkan At-Tanjakaniy dan yang ingin berjalan dengannya untuk adil dalam memutuskan hukum, jangan hanya memberlakukan pembatal Islam pada Hamas karena tidak mengkafirkan hutsi dan Iran, tapi juga lihat penguasa yang mereka ulil amrikan?! Jangan hanya menganggap gerakan Hamas tidak islami, sementara gerakan penguasa yang mereka ulil amrikan islami-islami saja:

كُونُوا۟ قَوَّ ٰ⁠مِینَ لِلَّهِ شُهَدَاۤءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا یَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰۤ أَلَّا تَعۡدِلُوا۟ۚ ٱعۡدِلُوا۟

“Jadilah kalian sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah kalian.” [Surat Al-Ma’idah: 8]. Ini perintah Allah.
Sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Asy-Syaikh As-Si’di Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih:

كما تشهدون لوليكم فاشهَدوا عليه، وكما تشهدون على عدوكم، فاشهدوا له، فلو كان كافرا أو مبتدعا، فإنه يجب العدل فيه

“Sebagaimana kalian telah mempersaksikan tentang wali (penguasa atau kawan) kalian maka persaksikanlah pula tentangnya, dan sebagaimana kalian mempersaksikan terhadap musuh kalian. Persaksikanlah kalian tentangnya meskipun dia kafir atau mubtadi’, karena sungguh wajib untuk berbuat adil padanya.”

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/11763