MENELUSURI JEJAK NABÎ AL-KHIDHIR

Pertanyaan:
Ustâdz, tadi Pak Domir bilang dalam khutbahnya di masjid, katanya Nabî Khidhir itu sudah wafat, kuburannya di Irak, tapi ada orang bilang katanya masih hidup? Yang benar yang mana ini?.

Jawaban:
Pendapat yang benar tentang Nabiullâh Al-Khidhir ‘Alaihish Shalâtu was Salâm bahwasanya beliau telah wafat, pendapat ini yang benar dan kuat yang kita berpegang padanya. Kita berpendapat dengan pendapat ini dengan beberapa alasan:

Pertama: Kalau Nabî Al-Khidhir ‘Alaihish Shalâtu was Salâm masih hidup maka wâjib baginya untuk menampakkan diri di zaman Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dan wâjib baginya untuk menjadi pengikut Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana pula Nabî Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm kalau masih hidup maka wâjib pula untuk menjadi pengikut Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, berkata Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً وَلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعِي

“Sungguh benar-benar aku telah datangkan kepada kalian dengan syari’at ini dalam keadaan terang lagi jelas, kalaulah keberadaan Mûsâ masih hidup maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikutiku.”

Kalau Mûsâ dan Al-Khidhir ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm masih hidup maka pasti akan ikut membantu dan menolong dakwah Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka berdua akan ikut bergabung di dalam perang Badr karena itu merupakan perang terbaik yang telah ikut bergabung di dalamnya makhluk-makhluk terbaik, tidak hanya orang-orang beriman dari kalangan manusia namun para malaikat ikut bergabung pula.

Dan akan terbukti kalau ada seorang Nabî yang masih hidup, dia akan mengikuti syari’at Islâm ini, dia akan ikut shalat di belakang imâm orang-orang beriman dan akan ikut berjihâd bersama mereka, sebagaimana nanti Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ turunkan Nabî ‘Îsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm, beliau akan mengikuti Imâm Mahdî Muhammad bin ‘Abdillâh Radhiyallâhu ‘Anhumâ, akan ikut jihâd menolong syar’îat yang dibawa oleh Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dan akan ikut shalat di belakang Imâm Mahdî, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

مِنَّا الّذِي يُصلِّي عيسى ابنُ مريمَ خلفَه

“Dari kalangan kita yang akan mengimami shalat sedangkan ‘Îsâ Ibnu Maryam di belakangnya.” Riwayat Abû Nu’aim dari Abû Sa’îd Al-Khudrî Radhiyallâhu ‘Anhu.

Kalau Nabî Al-Khidhir masih hidup maka pasti beliau akan menampakkan diri sebagaimana Nabî ‘Îsâ, akan ikut berjihâd dan berdakwah, namun karena beliau telah wafat maka tidak pernah lagi muncul. Oleh karena itu pernah ada seorang dâ’î kondang tatkala dihadapkan permasalahan orang-orang Shûfî bahwa mereka belajar langsung ilmu kepada Nabî Al-Khidhir maka dâ’î tersebut katakan bahwa Nabî Al-Khidhir sudah wafat, yang ada hanya Majâlisnya di Bogor, yang menjadi pengajar di Majâlisnya seorang ustâdz muda yang bernama Muhammad Al-Khidhir.

Kemudian alasan yang kedua:
Nabî Al-Khidhir telah wafat karena Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah katakan:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ

“Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun, paling sedikit di antara mereka melewati usia itu.” Riwayat At-Tirmidzî.
Kalau Nabî Al-Khidhir masih hidup tentu akan disebutkan pengecualian beliau yang masih hidup sebagaimana pengecualian tentang Iblîs dan Dajjâl yang masih hidup sampai saat ini.

Kemudian alasan yang ketiga:
Kalau Nabî Al-Khidhir masih hidup tentu beliau sebagai mujaddid (pembaharu), dan seorang mujaddid pasti akan ada penggantinya karena dia akan mati. Nabî Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah sebutkan tentang pembaharu akan tergantikan dengan pembaharu berikutnya, pada setiap penghujung 100 tahun ada pembaharu, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguhnya Allâh mengutus untuk umat ini pada penghujung setiap 100 tahun seseorang yang akan memperbaharui agamanya.” Riwayat Abû Dâwud.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir sebelum kajian ‘Umdatul Ahkâm pada malam Kamis tanggal 4 Shafar 1444 / 1 September 2022 di Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6722