MENGAITKAN KESESATAN DENGAN PERSELISIHAN
Pertanyaan:
Apakah sudah cukup Ustadz menyesatkan suatu kelompok lantaran perselisihan terus terjadi sesama mereka? Seperti pula yang menyesatkan Salafi lantaran berselisih tak kunjung selesai dari dulunya, mohon nasehatnya Ustadz?.
Jawaban:
Dalam menyesatkan suatu kelompok maka harus menjelaskan letak kesesatannya, setelah itu baru mengaitkan dengan perselisihan mereka, sebagaimana yang Allah Ta’ala terangkan metode ini di dalam kitab-Nya:
وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ ٠ مِنَ ٱلَّذِینَ فَرَّقُوا۟ دِینَهُمۡ وَكَانُوا۟ شِیَعࣰاۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَیۡهِمۡ فَرِحُونَ
“Janganlah kalian menjadi bagian dari orang-orang berbuat syirik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” [Surat Ar-Rum: 31-32].
Kalau hanya sebab perselisihan lalu dijadikan itu sebagai kesesatan maka ketahuilah bahwa makhluk terbaik dari kalangan manusia juga berselisih, Nabiullah Abul Basyar Adam berselisih dengan Kalimullah Musa ‘Alihimash Shalatu was Salam, disebutkan oleh Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalatu was Salam:
حاجَّ مُوسَى آدَمَ
“Musa berhujjah kepada Adam.” Yakni menyalahkannya, beliau katakan:
أنْتَ الذي أخْرَجْتَ النَّاسَ مِنَ الجَنَّةِ بذَنْبِكَ وأَشْقَيْتَهُمْ
“Engkau yang mengeluarkan manusia dari Surga dengan sebab satu dosamu dan engkau telah membuat mereka sengsara.”
Adam pun membalas:
فَحَجَّ آدَمُ مُوسَ
“Lalu Adam berhujjah pula kepada Musa.” Yakni membantah argumennya karena menyalahkannya, beliau katakan:
أتَلُومُنِي علَى أمْرٍ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَنِي
“Apakah kamu menyalahkanku karena suatu perkara yang Allah telah menetapkannya kepadaku sebelum dia menciptakanku.”
Tidak berhenti di sini berselisihnya dari kalangan manusia terbaik, namun berselisih pula dua orang rasul yang merupakan ayah dan anak, yaitu Dawud dan Sulaiman ‘Alihimash Shalatu was Salam, berkata Allah ‘Azza wa Jalla:
فَفَهَّمۡنَـٰهَا سُلَیۡمَـٰنَۚ وَكُلًّا ءَاتَیۡنَا حُكۡمࣰا وَعِلۡمࣰاۚ
“Lalu Kami beri pemahaman kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” [Surat Al-Anbiya’: 79].
Tidak hanya dari kalangan manusia terbaik yang berselisih, ternyata dari kalangan malaikat pun berselisih, Malaikat ‘Azab dan Malaikat Rahmah berselisih tentang orang yang telah berbuat dosa besar dengan membunuh seratus jiwa, berkata Malaikat Rahmah:
جاءَ تائِبًا مُقْبِلًا بقَلْبِهِ إلى اللهِ
“Dia datang dalam keadaan bertaubat lagi menghadap kepada Allah dengan ketulusan hatinya.”
Malaikat Rahmah menyebutkan salah satu kebaikannya yaitu keluar dari negerinya berhijrah dengan hati yang ikhlas karena Allah Ta’ala namun Malaikat ‘Azab tidak memperhitungkan kebaikannya karena melihat begitu banyak dan besar dosanya, Malaikat ‘Azab katakan:
إنَّه لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ
“Sungguh dia tidak melakukan kebaikan sedikit pun.”
Kita yakin tidak akan ada seorang pun yang merasa beragama akan menganggap sesat mereka berdua karena telah berselisih.
Maka dari itu kita menasehatkan di kala menghukumi suatu kelompok maka hendaklah melihat kepada apa yang mereka yakini, jika mereka berakidah dengan selain akidah para Shahabat Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam maka dapat dipastikan bahwa mereka sesat, karena Allah Ta’ala telah tegaskan di dalam Al Qur’an:
فَإِنۡ ءَامَنُوا۟ بِمِثۡلِ مَاۤ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَوا۟ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡا۟ فَإِنَّمَا هُمۡ فِی شِقَاقࣲۖ فَسَیَكۡفِیكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡعَلِیمُ
“Jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah As Sami’ (Yang Maha Mendengar) lagi Al ‘Alim (Maha Mengetahui).” [Surat Al-Baqarah: 137].
Dan Allah Ta’ala juga katakan:
وَمَن یُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَیَتَّبِعۡ غَیۡرَ سَبِیلِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا
“Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min, maka Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [Surat An-Nisa’: 115].
Kita tanpa ragu mengatakan bahwa murji’ah dengan berbagai macam kelompoknya di zaman ini adalah sesat karena mereka menganggap para pelaku syirik sebagai saudara mereka seagama, bagi mereka yang penting orang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat atau sudah mengaku beragama Islam meskipun melakukan syirik dan tidak bertaubat darinya maka tetap sebagai saudara mereka seagama, ini jelas bertentangan dengan manhaj Salaf.
Dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang beliau perangi adalah orang-orang yang melakukan kesyirikan, dan perkara ini berlanjut hingga di zaman Khulafaur Rasyidin, makanya di saat Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu memerangi orang-orang Muslim yang memerangi beliau maka yang pertama kali ditanyakan kepada beliau adalah:
أَمُشركُون هُم؟ فَقالَ: منَ الشركٍ فَرُّوا
“Apakah mereka orang-orang berbuat syirik? Beliau pun menjawab: “Dari syirik mereka lari (menyelamatkan diri).”
Maka dari sinilah kita berani katakan bahwa kaum murji’ah dengan berbagai macam kelompok mereka di zaman ini, bahwasanya mereka adalah orang-orang sesat karena menganggap orang-orang berbuat syirik sebagai saudara mereka seagama, meskipun mereka saling menganggap dan saling mengakui seagama namun nampak sekali pada mereka saling berpecah belah, dan demikianlah keadaan mereka, disebabkan karena mereka lebih memilih ahli syirik daripada Ahli Tauhid, mereka pun berpecah belah sebagimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan di dalam kitab-Nya:
وَإِنَّ هَـٰذِهِۦۤ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةࣰ وَ ٰحِدَةࣰ وَأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَٱتَّقُونِ ٠ فَتَقَطَّعُوۤا۟ أَمۡرَهُم بَیۡنَهُمۡ زُبُرࣰاۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَیۡهِمۡ فَرِحُونَ ٠ فَذَرۡهُمۡ فِی غَمۡرَتِهِمۡ حَتَّىٰ حِینٍ
“Sungguh (agama Tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan mereka sampai suatu waktu.” [Surat Al-Mu’minun: 52-54].
[Abu Ahmad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu]
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1892
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13664