MENGENAL HANIF
Pertanyaan:
Ada pertanyaan yang di sini disebutkan secara makna, penanya menyebutkan tentang hanif, apakah hanif itu dapat dimaknakan pada anak yang baik, beradab atau berakhlak mulia? Ataukah ini pergeseran makna sebenarnya karena yang dimaknakan dalam Al-Qur’an yaitu agama yang lurus?.
Jawaban:
Hanif secara bahasa yakni menurut bahasa Arab adalah mail (kecenderungan atau kecondongan), menurut istilah:
الحَنيفُ هُو المائل من شرٍّ إلى خير
“Hanif adalah kecenderungan dari keburukan kepada kebaikan.”
Kalau dibawa kepada definisi ini maka umum, mencakupi apa yang disifatkan pada seorang anak yang lebih cenderung pada kebaikan, adab dan akhlak yang mulia. Adapun kalau melihat pada pensifatan kepada Khalilullah Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam yang disebutkan di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ إِبۡرَ ٰهِیمَ كَانَ أُمَّةࣰ قَانِتࣰا لِّلَّهِ حَنِیفࣰا
“Sungguh Ibrahim adalah umat (panutan) yang taat kepada Allah lagi hanif.” [Surat An-Nahl: 120].
حَنِيفاً أي مَائِلاً عَنِ البَاطِل إِلَى الدِّينِ الحَقِّ، مُتَشبِّثاً بِالدِّينِ وَمُتَمسِّكاً
“Hanif yaitu orang yang condong dari kebatilan kepada ad-din al-haq (agama yang benar), orang yang berpegang teguh kepada agama tersebut dan tidak menyerah.”
Yakni agama Islam, sebagaimana diterangkan di dalam Al-Qur’an:
مَا كَانَ إِبۡرَ ٰهِیمُ یَهُودِیࣰّا وَلَا نَصۡرَانِیࣰّا وَلَـٰكِن كَانَ حَنِیفࣰا مُّسۡلِمࣰا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ
“Tidaklah keberadaan Ibrahim itu sebagai orang Yahudi dan tidak pula sebagai orang Nasrani, akan tetapi beliau adalah seorang yang hanif (beragama yang benar) lagi muslim (berserah diri kepada Allah) dan sekali-kali tidaklah keberadaannya termasuk dari golongan orang-orang musyrik.” [Surat Ali ‘Imran: 67].
Dahulu Zaid bin ‘Amr bin Nufail Radhiyallahu ‘Anhu wa Rahimah pernah bertanya kepada seorang ‘alim yahudi dan seorang ‘alim nashara tentang agama yang benar, keduanya sama jawabannya, yaitu:
مَا أَعْلَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ حَنِيفًا
“Aku tidak tahu tentang agama yang benar kecuali hanya agama hanif.”
Beliau bertanya:
وَمَا الْحَنِيفُ
“Apa itu hanif?.”
Keduanya sama jawabannya, yaitu:
دِينُ إِبْرَاهِيمَ لَمْ يَكُنْ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلاَ يَعْبُدُ إِلاَّ اللَّهَ
“Agama Ibrahim, tidaklah keberadaan beliau sebagai yahudi, tidak pula sebagai nashrani dan tidaklah beliau beribadah kecuali hanya kepada Allah.”
Setelah beliau mendengarkan fatwa dari dua ‘alim tersebut beliau pun mengangkat kedua tangannya lalu mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْهَدُ أَنِّي عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ
“Ya Allah, sungguh aku bersaksi bahwa aku benar-benar di atas agama Ibrahim.”
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/11253
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/275