MENGHUKUMI PERKARA SESUAI PADA ZHAHIRNYA
Pertanyaan:
Saya izin bertanya tentang rincian kaidah fikih:
الْأَحْكَامُ تُنَاطُ بِِالمَظَانِّ وَالظَّوَاهِر، لَا عَلَى الْقَطْعِ وَاطِّلَاعِ السَّرَائِرِ
Mohon pencerahannya, Ahsanallâhu ilaikum.
Jawaban:
Di dalam kaidah syar’iyyah disebutkan:
الْأَحْكَامُ تُنَاطُ بِِالمَظَانِّ وَالظَّوَاهِر، لَا عَلَى الْقَطْعِ وَاطِّلَاعِ السَّرَائِرِ
“Hukum-hukum itu tergantung pada berbagai dugaan dan zhahirnya, tidak pada memastikan dan melihat-lihat yang tersembunyinya.”
Ini merupakan salah satu kaidah syar’iyyah yang ditetapkan oleh Ahlul ‘Ilmi berdasarkan perkataan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِذَا ضَرَبۡتُمۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ فَتَبَیَّنُوا۟ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَنۡ أَلۡقَىٰۤ إِلَیۡكُمُ ٱلسَّلَـٰمَ لَسۡتَ مُؤۡمِنࣰا تَبۡتَغُونَ عَرَضَ ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا فَعِندَ ٱللَّهِ مَغَانِمُ كَثِیرَةࣱۚ كَذَ ٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبۡلُ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَیۡكُمۡ فَتَبَیَّنُوۤا۟ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِیرࣰا
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi berperang di jalan Allâh, maka telitilah kalian dan janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan salâm kepada kalian: “Kamu bukan seorang mu’min” lalu kalian membunuhnya, dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allâh ada harta yang banyak. Demikian pula keadaan kalian dahulu, lalu Allâh mengaruniakan ni’mat-Nya atas kalian, maka telitilah kalian. Sesungguhnya Allâh adalah Khabîr (Maha Mengetahui) terhadap apa yang kalian kerjakan.” [Surat An-Nisâ’: 94].
Penerapan kaidah yang kita sebutkan berkaitan dengan masalah tabayyun (mencari kejelasan) seperti yang disebutkan pada ayat tersebut, terdapat padanya pengulangan perintah:
فَتَبَیَّنُوۤا۟
“Maka telitilah kalian.” yaitu jangan kalian bergampangan mengatakan orang yang menampakkan keislaman yang dia mengucapkan salâm kepada kalian atau dia mengucapkan Lâ Ilaha Ilallâh bahwa dia bukan orang mu’min, akan tetapi hendaklah kalian menghukumi sesuai zhahirnya, berkata Al-Qurthubî Rahimahullâh pada penafsirannya terhadap ayat tersebut:
وَفِي هٰذِهِ مِنَ الْفِقْهِ بَابٌ عَظِيمٌ وَهُوَ أَنَّ الْأَحْكَامَ تُنَاطُ بِِالمَظَانِّ وَالظَّوَاهِر، لَا عَلَى الْقَطْعِ وَاطِّلَاعِ السَّرَائِرِ
“Pada ayat ini terdapat bâb yang agung tentang fikih, yaitu bahwasanya hukum-hukum itu tergantung pada berbagai dugaan dan zhahirnya, tidak pada memastikan dan melihat-lihat yang tersembunyinya.” (Tafsîr Al-Qurthubî: 7/51).
Penerapan kaidah yang sesuai dengan ayat tersebut berkaitan dengan kisah Usâmah bin Zaid membunuh seseorang yang mengucapkan kalimat tauhîd, berkata Usâmah bin Zaid Radhiyallâhu ‘Anhumâ:
بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلاً فَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَقَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلاَحِ. قَالَ: أَفَلاَ شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لاَ، فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ
“Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam mengutus kami pada suatu peperangan, pada pagi hari kami menyerang Huraqât yang termasuk dari qabîlah Juhainah, lalu aku mendapati seseorang, sedangkan dia mengucapkan: “Lâ Ilaha Ilallâh” namun aku membunuhnya, sehingga aku merasa ketidaktenangan di dalam hatiku karena kejadian itu, kemudian aku menceritakannya kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam maka beliau berkata: “Apakah dia telah mengucapkan Lâ Ilaha Ilallâh lalu kamu membunuhnya?” Aku berkata: “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya dia mengucapkannya kerana takut terpada pedangku.” Beliau berkata: “Adakah kamu membelah dadanya sehingga kamu mengetahui apakah dia jujur mengatakannya atau tidak?.” Beliau mengulang-ulang ucapan itu kepadaku hingga aku berangan-angan seandainya aku baru masuk Islâm pada saat itu.” Riwayat Muslim (no. 287).
Dari kaidah dan dalîl tersebut menunjukkan tentang ketidakbolehan menghukumi perkara batin dan perkara tersembunyi, kita hanya boleh menghukumi pada perkara yang nampak, ketika seseorang sudah mengucapkan Lâ Ilaha Ilallâh atau nampak melaksanakan syari’at yang diwajibkan padanya maka kita hukumi sebagai muslim, apa yang ada di dalam hatinya dan yang tersembunyi padanya maka itu urusan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, berkata Allâh ‘Azza wa Jalla:
فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَخَلُّوا۟ سَبِیلَهُمۡ
“Jika mereka telah bertaubat, mereka menegakkan shalat dan mereka menunaikan zakat maka bukakanlah jalan mereka.” [Surat At-Taubah: 5].
Ayat ini diperjelas oleh hadîts dari Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘Anhu, dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَإِذَا قَالُوهَا وَصَلَّوْا صَلاَتَنَا، وَاسْتَقْبَلُوا قِبْلَتَنَا، وَذَبَحُوا ذَبِيحَتَنَا، فَقَدْ حَرُمَتْ عَلَيْنَا دِمَاؤُهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Lâ Ilaha Ilallâh, jika mereka telah mengucapkannya dan mereka shalat sebagaimana shalat kita, mereka menghadap ke kiblat kita, mereka menyembelih sebagaimana kita menyembelih, maka telah diharamkan bagi kita terhadap darah mereka dan harta mereka kecuali dengan kebenaran, perhitungan terhadap mereka adalah urusan Allâh.” Riwayat Al-Bukhârî (no. 392).
Orang-orang munâfiq di zaman Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sangat banyak, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengumumkan nama-nama mereka secara terbuka karena mereka berpura-pura menampakkan keislaman, sebagaimana pada ‘Abdullâh bin Ubaî bin Salûl, tatkala ‘Umar Radhiyallâhu ‘Anhu mengusulkan:
يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ
“Wahai Rasûlullâh, biarkanlah aku memenggal kepala orang munâfiq ini.”
Maka Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
دَعْهُ لاَ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ
“Biarkan dia, sehingga manusia tidak bercerita bahwa Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam membunuh para Shahabatnya.” Riwayat Al-Bukhârî (no. 4905).
Manusia jelas akan menilai sesuai zhahirnya, karena ‘Abdullâh bin Ubaî bin Salûl ini menampakkan diri bersama kaum Muslimîn, terlihat shalat di masjid dan menampakkan diri di tengah-tengah kaum Muslimîn, apalagi puteranya yang bernama ‘Abdullâh termasuk Shahabat Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, kalau dia dibolehkan untuk dibunuh ketika itu maka tentu fitnahnya besar. Ketika dia telah jelas mati dalam keadaan munâfiq berdasarkan pengkhabaran dari Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ maka kita menghukuminya sebagai orang munâfiq sebagaimana kita menghukumi orang-orang yang mati dalam keadaan kâfir atau musyrik, oleh karena itu berkata Al-Qurthubî Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:
ظَاهِرُ حَالَةِ الْمَرْءِ عِنْدَ الْمَوتِ يُحْكَمُ عَلَيهِ بِهَا، فَإِنْ مَاتَ عَلَى الْإِيمَانِ حُكِمَ لَهُ بِهِ، وَإِنْ مَاتَ عَلَى الْكُفْرِ حُكِمَ لَهُ بِهِ، وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِبَاطِنِ حَالِهِ
“Zhahirnya keadaan seseorang itu ketika matinya, dihukumi atas dirinya dengan keadaan matinya, jika dia mati di atas keimanan maka dia dihukumi mati di atas keimanan, jika dia mati di atas kekufuran maka dia dihukumi mati di atas kekufuran. Rabbmu yang lebih mengetahui tentang perkara batinnya.” (Tafsîr Al-Qurthubî: 10/401).
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah menghukumi keadaan orang-orang di saat matinya, beliau menghukumi seorang anak Yahûdî yang mati sebagai seorang mu’min, berkata Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘Anhu:
كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ: أَسْلِمْ، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهْوَ يَقُولُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ
“Dahulu ada seorang anak Yahûdî biasa membantu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam kemudian sakit, lalu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam menjenguknya, beliau duduk di samping kepalanya, lalu beliau berkata kepadanya: “Masuk Islâmlah.” Anak Yahûdî melihat kepada ayahnya yang ada di sampingnya, ayahnya berkata: “Taatilah Abul Qâsim Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, diapun masuk Islâm, kemudian Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam keluar sambil mengucapkan: “Segala puji bagi Allâh yang telah menyelamatkannya dari Neraka.” Riwayat Al-Bukhârî (no. 1356).
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menghukumi pamannya Abû Thâlib, ayahnya ‘Abdullâh dan ibunya Ãminah termasuk dari orang-orang musyrik sebagaimana dalîl-dalîlnya telah kami sebutkan di dalam “Kitâbut Tauhîd” (hal. 8-9 / Maktabah Al-Khidhir Bekasi).
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada malam Selasa tanggal 9 Dzulqa’dah 1441 / 30 Juni 2020 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.