MENGKRITISI PEMOTRETAN BUMI DARI LANGIT

“Melihat Bumi dari Jarak 110 Juta Kilometer”. Apakah kita akan percaya begitu saja pada kabar semacam ini? Ini berawal dari rasa penasaran mengenai info foto-foto “planet” bumi diambil dari jarak berapa kilometer-kah dari langit? Ternyata di media ada yang mengabarkan dari jarak 110.000.000 km. Nah, bagaimana jika kita cocokkan kabar ini dari segi keilmiyyahannya terhadap dalîl?

Jarak bumi dengan langit tingkat pertama juga jarak antar langit yang dikabarkan pada hadîts, yaitu berjarak 500 tahun perjalanan unta yang jauhnya setara ±55.224.000 km atau 73 tahun perjalanan kuda yang jauhnya setara ±54.578.304 km. Berarti jika bumi difoto dari jarak 110.000.000 km oleh robot penjelajah (katanya), kita bisa memperkirakan, bumi kira-kira difoto di tingkatan langit kedua. Lalu, jika ada langit kedua, dimanakah bumi lapis kedua berada, mengapa tak terlihat dari foto itu?

Kemudian dari sini, mari kita telaah dengan flashback ke kisah mi’râjnya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam. Keadaan beliau saat menaiki langit adalah:
1) Dengan kondisi hati yang sudah tercuci, terisi oleh îmân dan hikmah.
2) Tidak naik sendirian, melainkan bersama malaikat Jibrîl ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm.
3) Sebelum naik ke langit, beliau melakukan perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis terlebih dahulu dengan mengendarai burâq, begitu juga saat turun dari langit, beliau transit di Baitul Maqdis lagi sebelum kembali ke Makkah.

Saat menemani Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, setiap akan memasuki tiap pintu langit, maka dengan adab, Jibrîl mengetuk pintunya, sebagaimana adab seorang tamu akan bertamu ke rumah orang lain, dan keadaan penjaga pintu langit tak mengetahui sama sekali siapa yang ada di balik pintu jika tidak menanyakan terlebih dahulu siapa yang mengetuk, dan tidak akan membukakan pintu langit sebelum mengetahui dengan jelas siapa yang akan memasukinya, serta memastikan benar-benar yang bersangkutan telah Allâh utuskan melalui utusan-Nya yaitu malaikat Jibrîl, sehingga ini menunjukkan bahwa tak sembarangan yang bisa memasuki tingkatan-tingkatan langit, kecuali pada yang Allâh utuskan dan izinkan.

Meski bangsa jin dan syaithân sekalipun, tak akan mampu memasuki pintu-pintu langit, karena langit penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api yang mengintai. Jika jin dan syaithân saja tidak dapat melalui kuatnya penjagaan langit, apakah memungkinkan bagi manusia dan alatnya yang lemah dan terbatas, mampu menembus pintu-pintu langit? Apakah memungkinkan bagi orang kâfir secara khusus dan alatnya berupa roket, mampu menembus pintu-pintu langit? Berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âla:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ اَبْوَابُ السَّمَآءِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka.” (Surat Al-A’râf: 40).

Seseorang yang mengaku beriman, pasti akan mengimani peristiwa naiknya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam ke atas langit dan mampu mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Jika tak mengimani kabar ini, apa bedanya ia dengan orang-orang kâfir Makkah yang saat itu tidak mempercayai peristiwa yang baru saja Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam alami dalam semalam, karena itu merupakan peristiwa yang tak mampu dijamah oleh akal manusia?

Di era moderen ini, maka renungkanlah kabar-kabar yang kaum fâsiq sebarkan di media, terlebih yang bersangkutan dengan alam semesta yang terbatas dari jangkauan pandangan mata dan kemampuan manusia serta alat-alat buatannya. Maka jika diteliti kabar mereka pada dalîl, maka kabar mereka adalah suatu kecacatan yang wâjib kita tolak. Alangkah naifnya jika orang beriman percaya saja pada sesuatu yang dikabarkan oleh orang-orang fâsiq yang suka membuat tipu daya dan menjauhkan seorang hamba dari jalan Allâh.

Ditulis oleh:
Imra’ah Al-Khidhir.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6189