MENYIKAPI ORANG YANG TIDAK SHALAT DAN YANG BERBUAT SYIRIK
Pertanyaan:
Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang meninggalkan shalat dan orang-orang yang biasa melakukan kesyirikan?.
Jawaban:
Kalau mereka menebar kebencian dan memusuhi maka kita berlepas diri dari mereka dan kita nampakkan sikap tegas kepada mereka. Adapun kalau mereka tidak membuat kebencian dan permusuhan maka kita berlaku baik kepada mereka, terlebih kalau mereka memiliki hubungan kekeluargaan dengan kita atau mereka para tetangga kita maka mereka memiliki hak kekeluargaan dan hak tetangga bagi kita. Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa berlaku baik terhadap Abû Thâlib yang musyrik selaku pamannya dan beliau juga berlaku baik kepada remaja yahudî selaku pembantunya.
Sikap kita seperti itu yang merupakan sikap yang benar, sebagai bentuk penyelisihan terhadap kaum khawârij, yang mana mereka menganggap kalau orang sudah kâfir maka halâl sudah darah, kehormatan dan hartanya sehingga di manapun mereka berkesempatan untuk membunuhnya dan merampoknya maka mereka lakukan. Padahal Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersama para Shahabatnya telah menyontohkan dengan sebaik-baik contoh, di saat Islâm sudah memiliki wilayah di Madînah maka umat Islâm tidak memulai memerangi orang-orang kâfir di Madînah, namun memulai memerangi orang-orang musyrik Makkah sebagai balasan atas permusuhan mereka, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
وَقَـٰتِلُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِینَ یُقَـٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوۤا۟ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِینَ
“Dan perangilah di jalan Allâh orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allâh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Surat Al-Baqarah: 190].
Dijawab oleh Muhammad Al-Khidhir pada hari Senin 7 Rabî’ul Awwal 1444 / 3 Oktober 2022.