MENYOAL BAITUL MAQDIS ADA DI HINDIA JAWA
Pertanyaan :
Ustâdz, apakah benar keyakinan anak-anak sosmed yang bilang Baitul Maqdis ada di Jawa dan orang-orang Jawa adalah warga Baitul Maqdis?.
Jawaban:
Orang kalau mempelajari ilmu agama tanpa bimbingan guru akan lebih banyak salahnya dan akan mudah terjerumus ke keyakinan sesat dan menyimpang, semoga Allâh menyelamatkan putera-puteri kita dari keyakinan-keyakinan menyimpang.
Tanpa diragukan lagi oleh para Salaf bahwa Baitul Maqdis berada di Syâm, bukan di Hindia Jawa. Oleh karena itu tatkala Shahabat yang mulia Abud Dardâ’ berada di Syâm dan suadaranya Salmân Al-Fârisî berada di ‘Irâq maka Abud Dardâ’ menuliskan surat kepadanya:
هلُمّ إلى الأرض المقدّسة
“Menyusullah ke negeri Muqaddasah ini.” Riwayat Mâlik di dalam “Al-Muwathâ'”.
Negeri Muqaddasah adalah Syâm, para ‘Ulamâ telah menafsîrkan:
الشام مصطلح عام يطلق على: سوريا ولبنان والأردن وفلسطين، وأهمها فلسطين لما لها من قدسية بوجود المسجد الأقصى فيها
“Syâm adalah suatu istilah umum yang dimutlakkan terhadap Sûriah, Libanon, Ordon dan Palestina. Paling istimewanya adalah Palestina karena ada padanya Qudsiyah, karena ada padanya Masjidil Aqshâ.”
Pengistimewaan ini, telah disebutkan oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِیۤ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَیۡلࣰا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِی بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِیَهُۥ مِنۡ ءَایَـٰتِنَاۤۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ
“Maha Suci Allâh, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Rasûl) pada malam hari dari Masjidil Harâm ke Masjidil Aqsâ yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia-lah As-Samï’ (Maha Mendengar) lagi Al-Bashîr (Maha Melihat).” [Surat Al-Isrâ’: 1].
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam karena sudah pernah sampai ke Baitul Maqdis maka beliau tahu persis tempat dan arahnya, beliaupun shalat menghadap ke arahnya sebagaimana Ahlul Kitâb juga shalat menghadap kepadanya, namun kemudian beliau ingin supaya Allâh mengalihkan ke Al-Bait di Makkah hingga beliau shalat menghadap ke arah Al-Harâm yang membuat orang-orang Yahudî semakin hasad dan dengki, Al-Bukhârî meriwayatkan di dalam “Shahîh”nya dari Al-Barâ’ bin ‘Âzib Radhiâllâhu ‘Anhu:
وكَانَتِ اليَهُودُ قدْ أعْجَبَهُمْ إذْ كانَ يُصَلِّي قِبَلَ بَيْتِ المَقْدِسِ
“Dahulu orang-orang Yahudî benar-benar bangga ketika Rasûl shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis.”
Adapun anak-anak medsos yang ikut-ikutan lancang berpendapat bahwa Baitul Maqdis ada di Hindia Jawa, maka konsekuensinya mereka akan membuka pintu kesesatan, akan membuat orang-orang bodoh akan beramai-ramai ziarah ke Baituth Thâghût karena mereka mengira itulah Baitul Maqdis yang didirikan oleh Nabiullâh Sulaimân ‘Alaihish Shalâtu was Salâm. Untuk membenarkan ziarah mereka itu, merekapun akan berdalîl dengan perkataan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى وَمَسْجِدِي
“Janganlah suatu perjalanan jauh ditempuh untuk beribadah kecuali ke tiga masjid: Masjidil Harâm, Masjidil Aqshâ dan Masjidin Nabawî.” Riwayat Al-Bukhârî.
Padahal sangat jelas yang dimaksud Masjidil Aqshâ adalah Baitul Maqdis yang ada di Palestina di Syâm sebagaimana telah kita terangkan. Dan Al-Bukhârî telah menafsirkan Masjidul Aqshâ adalah Baitul Maqdis sebagaimana yang beliau katakan pada Bâbnya di dalam kitâb “Shahîh”nya:
باب مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ
“Bâb Masjid Baitil Maqdis.”
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir sebelum kajian “Kitâbul Imân” pada hari Rabu 9 Rabî’ul Awwal 1444 / 5 Oktober 2022 di Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir Bogor.