MERAIH KESELAMATAN DENGAN MEMBIASAKAN MELAKUKAN AMALAN KEBAIKAN DI SETIAP KESEMPATAN

Pertanyaan:
Bagaimana menanggapi jenazah seseorang yang dikubur sudah lama, namun saat digali untuk perbaiki lahatnya ditemukan masih utuh jenazahnya, padahal semasa hidup orang tersebut dikenal sebagai tokoh Ahlul Bid’ah, karena bikin bid’ah-bid’ah dan biasa melakukannya?

Jawaban:
Mungkin saja dia bertaubat di akhir hidupnya dengan penuh ketulusan yang tidak seorang pun mengetahuinya atau sebab kematiannya karena dia dizhalimi oleh orang lain sehingga dia mendapatkan keutamaan mati syahîd atau di akhir hidupnya dia melakukan suatu amalan yang menjadi penambah berat amal-amal kebaikannya. Dengan adanya sebab semisal itu yang dilakukan oleh seseorang maka Allâh Subhânahu wa Ta’âla akan memberikan ampunan kepadanya, karena Allâh Subhânahu wa Ta’âla telah katakan sebagaimana di dalam hadîts qudsî:

كلُّ بني آدمَ يُخطئُ باللَّيلِ والنَّهارِ ثمَّ يستغفرني فأغفرَ له ولا أبالي

“Setiap orang melakukan dosa pada malam dan siang hari kemudian dia bertaubat kepada-Ku maka Aku memberikan ampunan kepadanya dan aku tidak peduli (terhadap dosa-dosanya yang besar atau pun yang banyak).” Riwayat Ibnu Khuzaimah dari Abû Dzar Al-Ghifârî dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.

Pada kisah pembunuh 100 jiwa, setelah dia melakukan pembunuhan sebanyak 100 jiwa dia bertaubat dengan penuh ketulusan sebagaimana yang dipersaksikan oleh Malaikaturrahmah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:

جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ

“Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadap dengan ketulusan hatinya kepada Allâh.”
Orang yang tidak ingin melihat kebaikan dari pembunuh 100 jiwa ini tentu akan menghukuminya sebagaimana yang telah dihukumi oleh Malaikatul’adzâb ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:

إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ

“Sesungguhnya dia tidak melakukan kebaikan sedikitpun.”
Padahal kalau kita perhatikan kisah perjalanan hidupnya setelah dia membunuh 100 jiwa, kita akan dapati ada beberapa kebaikan yang telah dia lakukan, di antaranya:

Pertama: Dia melangkahkan kakinya untuk mencari orang berilmu supaya bertanya kepadanya.
Ini termasuk dari amalan utama yang diperintahkan oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:

فَسۡـَٔلُوۤا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Bertanyalah kalian kepada orang berilmu jika keberadaan kalian tidak mengetahui.” [Surat An-Nahl: 43].
Dan Nabî Shallallâhu Alaihi wa Sallam telah memberikan jaminan bagi orang yang melangkahkan kakinya untuk memperoleh ilmu:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allâh memudahkan baginya jalan menuju Surga.” Riwayat Muslim.

Kedua: Dia melangkahkan kakinya dengan penuh ketulusan untuk hijrah di jalan Allâh Subhânahu wa Ta’âla.
Ini juga termasuk amalan yang paling besar keutamaannya, dengannya akan terhapuskan dosa-dosa, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âla:

وَمَن یَخۡرُجۡ مِنۢ بَیۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ یُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan hijrah karena Allâh dan Rasûl-Nya lalu kematian menjumpainya maka sungguh pahalanya telah ditetapkan oleh Allâh dan Allâh adalah Ghafûr (Maha Pengampun) lagi Rahîm (Maha Penyayang).” [Surat An-Nisâ’: 100].

Pada kisah seorang ahli ibadah yang dia beribadah selama 60 tahun kemudian dia berzina selama 6 hari, lalu dia bertaubat dari zinanya. Kemudian dia melakukan suatu amal kebaikan dengan bersedekah dengan satu roti kepada dua orang yang sangat membutuhkan, setelah itu dia wafat. Ternyata satu amal kebaikannya yang terakhir kalinya dia lakukan berupa sedekah itu menjadi penambah berat terhadap ibadah yang dia lakukan selama 60 tahun. Ibnu Abî Syaibah meriwayatkan dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallâhu ‘Anhu:

ثم بعث إليه ملك فقبض روحه، فوضع عمل ستين سنة في كفة، ووضعت السيئة في أخرى فرجحت، ثم جيء بالرغيف فرجح بالسيئة

“Kemudian Allâh mengutus malaikat untuk mencabut nyawanya, lalu diletakanlah amalan selama 60 tahun pada satu daun timbangan dan perbuatan (zina selama 6 hari)nya di daun timbangan yang lain, ternyata yang lebih berat adalah timbangan perbuatan (zina selama 6 hari)nya. Kemudian ditambahkan dengan sepotong roti maka amal kebaikannya lebih berat daripada amal keburukannya.”

Oleh karena itu, hendaklah kita membiasakan diri melakukan amal kebaikan di setiap kesempatan karena kita tidak tahu kapan kita akan menghadap Allâh Subhânahu wa Ta’âla, bisa jadi amalan baik yang kita lakukan itu sebagai amalan terakhir kita, yang dengannya akan menjadi pemberat timbangan amalan-amalan baik kita, berkata Nabiurrahmah ‘Alaihish Shalâtu was Salâm:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sesungguhnya amalan-amalan tergantung pada akhir-akhirnya.” Riwayat Al-Bukhârî.

[ Muhammad Al-Khidhir ].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6186