MEREKA MENINGGALKAN SHALAT KEMUDIAN MENYEMBAH SALIB

Pertanyaan:
Benarkah Ustadz bahwa pendahulu umat kristiani pada melaksanakan shalat?.
Jawaban:
Bila kita melihat kepada agama yang dibawa oleh Nabiullah ‘Isa ‘Alaihish Shalatu was Salam maka kita akan dapati bahwa para pengikut beliau ketika itu mendirikan shalat sebagaimana beliau shalat, demikian pula Ummu ‘Isa Maryam Ash-Shiddiqah ‘Alaihimash Shalatu was Salam mendirikan shalat, karena itu merupakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَٰمَرْيَمُ ٱقْنُتِى لِرَبِّكِ وَٱسْجُدِى وَٱرْكَعِى مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ
“Wahai Maryam, taatilah Rabbmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’”. [Ali Imran: 43].
Lalu kita lihat di zaman ini, apakah orang yang mengaku beragama dengan agama yang dibawa oleh Nabiullah ‘Isa ‘Alaihish Shalatu was Salam masih shalat sebagaimana mereka dahulu shalat?!. Tentu kita tidak dapati kecuali amalan baru yang diadakan-adakan setelah Nabiullah ‘Isa Alaihish Shalatu was Salam diangkat ke langit.
Pertanyaan:
Menyembah dan mengagungkan salib itu kapan terjadi?.
Jawaban:
Terjadi setelah Nabiullah ‘Isa ‘Alaihish Shalatu was Salam diangkat ke langit, beliau tidak pernah menyontohkan dan tidak pernah pula memerintahkan untuk beribadah dan mengagungkan salib. Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa peribadahan dan pengagungan kepada salib itu merupakan amalan baru yang diada-adakan di dalam agama, peribadahan dan pengagungan kepada salib itulah yang disebut bid’ah di dalam agama, yang bid’ah tersebut telah menjerumuskan pelakunya ke dalam kesyirikan, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganggapnya sebagai berhala, berkata ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘Anhu:
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ: يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ
“Aku datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas maka beliau berkata: Wahai ‘Adi lepaskan berhala ini darimu.”
Saat itu salib belum disembah, akan tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menamainya berhala. Lalu bagaimana kalau sudah disembah?, maka tentu orang yang menyembahnya akan dikatakan musyrik kafir.
[Tanya jawab bersama Al-Ustadz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullah pada kajian “Kitabut Tauhid”, hari Rabu 21 Dzulhijjah 1438 / 13 September 2017 di Masjid An-Nur PT. Reckkit Benckiser Cileungsi].