MURJI’AH ZAMAN SEKARANG LEBIH PARAH DARIPADA MURJI’AH ZAMAN DAHULU

Pertanyaan:
Ustadz Abu Ahmad Hafizhakumullah. ‘Afwan Ustadz, saya beberapa kali ikut kajian kitab “Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah” di salah satu pondok manhaj Salaf dekat rumah, ketika pemateri membawakan contoh dari salah satu ajaran kaum musyrikin dahulu seperti menyembah orang shalih yang sudah mati, menyembelih untuk selain Allah beliau mencontohkan ritual sedekah laut, namun di akhir pembahasan beliau bilang: “Saudara-saudari Muslim kita”. Apa itu ciri khas dari murjiah Ustadz?.

Jawaban:
Tanpa ada keraguan lagi bahwa itu salah satu ciri murji’ah zaman ini, pemateri yang disebutkan telah berani sekali menyampaikan fatwa di atas kebodohan. Sungguh benar apa yang telah dikatakan oleh penulis kitab “Sittatu Mawadhi’ Minassirah”:

ثُمَّ يُفۡتُونَ هَٰؤُلَاءِ الۡمَرَدَةُ الۡجُهَّالُ أَنَّ هَٰؤُلَاءِ مُسۡلِمُونَ وَلَوۡ صَرَّحُوا بِذٰلِكَ كُلِّهِ إِذَا قَالُوا: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ. سُبۡحَانَكَ هَٰذَا بُهۡتَانٌ عَظِيمٌ

“Kemudian orang-orang yang sangat durhaka lagi paling bodoh tersebut memfatwakan bahwa mereka (yang melakukan kemurtadan secara terang-terangan) adalah orang-orang Muslim apabila mereka telah mengatakan “La Ilaha Illallah”, Mahasuci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar.”
Kaum murji’ah menganggap bahwa kemurtadan, kesyirikan atau kekafiran tidak akan berpengaruh kepada seseorang yang mengucapkan La Ilaha Illallah, dan telah masyhur perkataan mereka:

لَا يَضُرُّ مَعَ الْإِيمَانِ ذَنْبٌ لِمَنْ عَمِلَهُ

“Tidak akan berpengaruh terhadap iman, suatu dosa bagi orang yang melakukannya.”
Itu pernyataan murji’ah zaman dahulu tentang dosa secara umum. Adapun murji’ah zaman sekarang maka sungguh lebih parah keadaan mereka, dan mereka nyatakan sendiri bentuk dosanya yaitu syirik yang paling besarnya dosa, menurut mereka tidak membatalkan iman pelakunya, menurut mereka tetap dinamai Mu’min, menurut mereka tetap disebut Muslim bagi pelakunya.
Pentazkiyahan mereka sebagai “saudara-saudari Muslim” kepada para pelaku syirk akbar yang menyembelih untuk selain Allah atau mempersembahkan sesajen untuk arwah leluhur atau untuk keramat merupakan suatu kejahatan terhadap manhaj Salaf, tidak akan pernah didapati bahwa para Salaf Shalih mengakui para pelaku syirk akbar sebagai Saudara-saudari Muslim. Para Shahabat bersama Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam tidak pernah menamai orang-orang yang thawaf dan menyembah dzatu anwath sebagai “saudara-saudari Muslim”. Demikian pula para pengikut setia Musa ‘Alaihimush Shalatu was Salam tidak akan pernah didapati mereka menamai para penyembah alihah sebagai saudara-saudara Muslim.
Tatkala tidak didapati dari kalangan Salaf Shalih mengakui para pelaku syirk akbar seperti itu sebagai “saudara-saudari Muslim” maka siapakah yang kaum murji’ah anggap sebagai Salaf mereka?!. Mereka akui ataupun tidak, mereka sadari ataupun tidak, Dawud bin Jirjis adalah teladan mereka, walaupun mereka tidak mengakuinya akan tetapi mereka telah meniti jejaknya dalam upaya untuk menenggelamkan atau mengaburkan dakwah yang telah didakwahkan oleh para Aimmah Dakwah. Pada perkara yang sangat jelas dan terang sebagaimana pada penutup dari kitab “Sittatu Mawadhi’ Minassirah” saja, tetap masih saja mereka simpulkan dengan kesimpulan sangat berbeda seakan-akan mereka sedang membantah penulisnya, La Ilaha Illallah.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/10245