NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM BERLEPAS DIRI DARI DUA GOLONGAN UMATNYA

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sangat sayang terhadap umat beliau dan sangat senang memiliki umat terbanyak, namun ternyata ada dua golongan dari umat beliau yang beliau berlepas diri dari mereka setelah beliau mengetahui hakekat mereka.
Golongan pertama adalah golongan yang menganggap benar kedustaaan para pemimpin dan membantu mereka dalam berbuat kezhaliman.
Al-Imâm Ahmad telah meriwayatkan suatu hadîts yang shahîh bahwa Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

إنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءٌ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهمْ، فَلَيْسُ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ حَوْضِي، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya akan ada nanti para pemimpin sepeninggalku, barangsiapa masuk pada mereka lalu menganggap benar terhadap kedustaan mereka dan membantu kezhaliman mereka maka dia bukan termasuk dari golonganku dan aku bukan termasuk dari golongannya, dia tidak bisa mendatangi telagaku. Barangsiapa yang tidak menganggap benar terhadap kedustaan mereka, dan tidak menolong kezhaliman mereka, maka dia termasuk dari golonganku, dan aku termasuk dari golongannya, dan dia bisa mendatangi telagaku.”

Golongan kedua adalah golongan yang mengganti syari’at dengan perkara yang diada-adakan hingga menyeret mereka kepada kemurtadan.
Al-Bukhârî, Muslim dan selain keduanya telah meriwayatkan dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:

إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرُ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ، وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي

“Sungguh saat aku berada di telagaku, tiba-tiba aku melihat kepada orang-orang yang datang kepadaku dari kalangan kalian, lalu dijauhkan orang-orang dari mendekatiku, akupun berkata: “Wahai Rabb mereka itu dari golonganku dan dari umatku.”
Dalam suatu lafazh:

إِنَّهُمْ مِنِّي

“Sungguh mereka itu termasuk dari golonganku.”
Dalam suatu lafazh:

أُصَيْحَابِي

“Mereka para shahabatku dari generasi muda.”
Dalam suatu lafazh:

أَصْحَابِي

“Mereka para shahabatku.”

Beliau ingin memberi syafa’at kepada mereka supaya sampai ke telaganya, namun dikatakan kepada beliau:

إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Sungguh kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.”
Dalam suatu lafazh:

إِنَّ هَؤُلاَءِ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ

“Sungguh mereka senantiasa murtad keluar dari agama mereka sejak kamu berpisah dengan mereka.”
Dalam suatu lafazh:

هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ

“Tidakkah kamu menyadari terhadap apa yang telah mereka lakukan setelahmu, demi Allâh mereka terus menerus keluar dari agama mereka.”
Dalam suatu lafazh:

إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ

“Sungguh kamu tidak mengetahui apa yang telah mereka ganti dari ajaran agama mereka sepeninggalmu?!.”

Setelah mendengarkan itu, beliau langsung katakan:

سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي

“Jauhkan jauhkan dariku bagi siapa yang telah mengganti ajaran agama sepeninggalku.”

(Muhammad Al-Khidhir).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8766