ORANG MUNÂFIQ BERJU BAH SALAFIYYAH
Pertanyaan:
Ustâdz mungkinkah ada orang munâfiq berjubah salafiyyah?
Jawaban:
Sangat memungkinkan, jangankan di zaman kita ini, di zaman Nabî Shallallâhu Alaihi wa Sallam saja banyak orang-orang munâfiq menampakan diri sebagai para shahabat, padahal mereka bukan termasuk dari para shahabat, penampilan mereka dalam menampakan keislâman membikin orang kagum, kalau mereka berbicara tentang sesuatu yang nampak sebagai kebenaran maka membuat orang banyak tertipu, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ terangkan:
وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ
“Apabila kamu melihat mereka maka tubuh-tubuh mereka itu membikinmu kagum. Dan jika mereka berkata maka kamu akan mendengarkan perkataan mereka seakan-akan mereka adalah kayu yang tersandar”. [Al-Munâfiqûn: 4].
Bahkan di antara mereka kalau membaca Al-Qur’ãn itu sangat indah bacaan nya. Oleh karena itu Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sebutkan dalam suatu permisalan:
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ أَوْ خَبِيثٌ وَرِيحُهَا مُرٌّ
“Permisalan bagi orang munâfiq yang membaca Al-Qur’ãn itu seperti raihânah, wanginya harum namun rasanya pahit, dan permisalan bagi orang munâfiq yang tidak membaca Al-Qur’ãn seperti hanzhalah, rasanya pahit atau busuk dan baunya busuk”.
Sifat orang munâfiq seperti itu sudah kami dapatkan pada beberapa orang ketika di Dammâj duhulu, ada salah seorang bernama Sulaimân Al-Yamanî, menampamkan diri sebagai seorang salafî, bahkan sering datang bertemu langsung dan bertanya kepada syaikh Dammâj, ketika terjadi perang, dia aktif ke tempat-tempat perbatasan, memposisikan dirinya sebagai tim medis, ketika dia berada di perbatasan Wathan, lalu ada tembakan dari pihak Hûtsî yang mengarah ke arah Wathan maka dia berkata: “Pasti di Wathan ada mata-mata, kalau saya tahu maka pasti saya akan membunuhnya”. Ternyata dialah mata-matanya.
Ketika kami bersama Abul Âliyah Muhammad Ar-Râfi’î Al-Jâwî Rahmatullâhi ‘Alainâ wa ‘Alaih di perbatasan Ãlu Mannâ’ maka muncul lagi Sulaimân munâfiq tersebut, berkata kepada kami: “Kalian orang Indonesia sebagai pemegang mortir, berbicaralah sesama kalian pakai bahasa Indonesia sehingga mata-mata tidak mengerti rencana kalian”. Dari sarannya nampak sebagai penasehat yang bisa dipercaya, dia berkata juga: “Kalau pas tidak ada serangan Hûtsî, bawa masuk mortir ke ruangan, jangan dibiarkan di depan kalian, takut mata-mata merusaknya atau menyuruh hutsî menembak ke tempat mortir itu”. Usulan dan sarannya benar-benar membuat orang tidak curiga kepadanya, namun anehnya setiap kali Asy-Syaikh Abdullâh Muzâhim Rahimahullâh bergerak mesti tembakan tank, meriam atau mortir dari Hûtsî mengarah ke arah beliau, ketika Asy-Syaikh Abdullâh Muzâhim Rahimahullâh shalat maghrib bersama beberapa pengawalnya, ternyata percikan dari tembakan mortir Hûtsî mengeni kepala beliau, dan itu tidak sampai membuat beliau terbunuh karena masih teranggap luka ringan, namun Sulaimân munâfiq tersebut yang membunuh beliau dengan cara menusukan jarum suntik ke perut beliau. Dari sinilah diketahui kalau Sulaimân tersebut ternyata seorang munâfiq, lebih jelas lagi buktinya, didapati di HP-nya ada sms laporan kepada pimpinan Hûtsî bahwa dia telah berhasil membunuh Asy-Syaikh Abdullâh Muzâhim Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih.
Dengan demikian tidak menutup kemungkinan akan ada orang munâfiq yang menyusup di tengah-tengah salafiyyûn, bisa dicurigai pada orang yang menampakan diri di atas manhaj salafî yang kokoh, tegas dan pemberani, pandai dalam mentahdzir dan menghajr namun pada sisi pelaksanaan kewajibannya ternyata paling lalai karena tersibukan dengan makarnya, setiap malamnya larut mendebati orang-orang beriman dan sibuk membantah serta mencari-cari aib pembawa Sunnah, hingga setiap kali shalat shubuhnya tidak dia tegakkan kecuali dia lakukan di waktu setelah berlalu waktu Shubuh, berkata Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
أَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ الْعِشَاءُ وَالْفَجْرُ
“Paling beratnya shalat bagi orang munâfiq adalah shalat isyâ’ dan shubuh”.
Dan Abdullâh bin Umar Radhiyallâhu ‘Anhumâ berkata:
كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الرَّجُلَ فِى صَلاَةِ الْعِشَاءِ وَالْفَجْرِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ
“Dahulu jika kami kehilangan seseorang pada shalat isyâ dan shalat shubuh maka kami berprasangka jelek kepadanya”.
Semoga Allâh melindungi kita dari kemunâfiqan dan menjauhkan kita darinya serta memisahkan kita dari orang-orang munâfiq.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Raâh pada tanggal 20 Dzulhijjah 1438 di Kemang Pratama 3 Bekasi.