PENGAKUAN ABU THALIB TENTANG TAUHID
Pertanyaan:
‘Afwan pada materi kemarin disebutkan ‘Abdul Muththalib mengikrarkan Tauhid dan memotivasi orang lain, pengertian mengikrarkan Tauhid ini apa Ustadz?
Sedangkan di akhir hayatnya ‘Abdul Muththalib tidak mau mengikrarkan atau melafadzkan kalimat Tauhid ketika Nabi menyuruh mengucapkan kalimat Tauhid?.
Jawaban:
Bukan ‘Abdul Muththalib yang disebutkan tapi Abu Thalib, dan pengikrarannya terhadap Tauhid yaitu mengakui kebenarannya dan mengakui pula kejujuran serta keamanahan pembawanya Nabi Kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana yang dia katakan kepada beliau:
وَلَقَد صَدَقتَ وَكُنتَ ثَمَّ أَمينا
وَعَرَضتَ ديناً قَد عَلِمتُ بِأَنَّهُ
مِن خَيرِ أَديانِ البَرِيَّةِ دينا
لَولا المَلامَةُ أَو حِذاري سُبَّةً
لَوَجَدتَني سَمحاً بِذاكَ مُبينا
“Dan sungguh pasti engkau telah benar dan keberadaan engkau di sana terpercaya, engkau telah menunjukkan suatu agama yang sungguh aku telah mengetahui bahwa itu termasuk sebaik-baik agama dari berbagai agama manusia. Kalau bukan karena cercaan atau kewaspadaanku terhadap celaan maka sungguh engkau akan mendapatiku dengan terang-terangan sepenuh hati untuk beragama dengannya.”
Pada sya’ir yang dia ucapkan hanya berbentuk mengikrarkan dan mengakui agama Tauhid, mengakui kebenarannya dan membenarkannya. Hanya saja ini belum cukup untuk dianggap bertauhid, karena dia belum memenuhi ketentuan yang lainnya yaitu mengucapkan kalimat Tauhid La Ilaha Illah, dia enggan untuk mengucapkannya karena dia tahu konsekwensinya harus berlepas diri dari agama ayahnya ‘Abdul Muththalib dan membenci agamanya. Ini yang dia jadikan sebagai udzurnya untuk tidak mengucapkan kalimat Tauhid, apalagi dia perjelas sendiri untuk menghindari cercaan dan celaan terhadap ayahnya ‘Abdul Muththalib dan agamanya. Makanya, di saat dia ditalqin oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan terus menuntunnya supaya mengucapkan kalimat Tauhid La Ilaha Illallah, dia tidak mau mengucapkannya, karena dia tahu dengan mengucapkan kalimat Tauhid maka harus dia benci agama ayahnya ‘Abdul Muththalib, ditambah lagi ada Abu Jahl yang terus menguatkannya untuk bertahan di atas agama ayahnya ‘Abdul Muththalib. Saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam katakan kepada Abu Thalib:
يَا عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
“Wahai paman, ucapkanlah La Ilaha Illallah, ini suatu kalimat yang aku akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allah.”
Maka Abu Jahl katakan:
أتَرْغَبُ عن مِلَّةِ عبدِ المُطَّلِبِ
“Apakah kamu benci dengan agama ‘Abdul Muththalib?!.”
Abu Jahl dan Abu Thalib tahu benar konsekwensi mengucapkan La Ilaha Illallah harus mengkufuri thaghut, harus menganggap kafir ‘Abdul Muththalib dan agamanya. Maka dari itu Abu Thalib merasa keberatan, dia menganggap itu celaan dan cercaan terhada ayahnya. Itulah udzurnya, pada akhirnya dia su’ul khatimah dan mati tidak di atas Tauhid:
حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
“Sampai Abu Thalib berkata pada akhir dari apa yang dia katakan kepada mereka adalah di atas agama ‘Abdul Muththalib, dan dia enggan untuk mengucapkan La Ilaha Illallah.”
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/12597
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1014