PERMUSUHAN TERHADAP AL-MAHDI

Pertanyaan:
Pada kisah Al-Mahdi dibai’at di Ka’bah, itu disebutkan setelah matinya khalifah lalu anak-anaknya memperebutkan jabatannya tapi tidak ada yang dapatkan. Dimaksudkan khalifah tersebut khalifah daulah Islamiyyah seperti sultan di kesultanan atau malik di mamlakah?.

Jawaban:
Yang dimaksudkan khalifah pada hadits adalah pemimpin yang menjadi penguasa kota Makkah dan kota-kota sekitarnya, kalau di zaman sekarang yaitu raja di Kerajaan Saudi Arabia. Hanya saja kita tidak tahu apakah zaman berikutnya masih dikuasai raja dari kerajaan itu ataukah sudah berpindah ke penguasa yang lain?! Dan Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an:

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِی ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَاۤءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَاۤءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاۤءُۖ بِیَدِكَ ٱلۡخَیۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱ

“Katakanlah: “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sungguh Engkau atas segala sesuatu adalah Qadir (Maha Mampu).” [Surat Ali ‘Imran: 26].
Yang berkuasa di kota Makkah pada zaman ini adalah raja, bisa jadi zaman berikutnya penguasa yang lain, mudah bagi Allah untuk menggantikannya. Dan yang jelasnya Imam Al-Mahdi dibai’at di saat tidak ada satu pun dari putra khalifah yang menjadi penerus kekhalifahan, di saat ketidakadanya yang menjadi pengganti maka di situlah Imam Al-Mahdi dijadikan Khalifatullah dan dilakukan pembai’atan kepada beliau sebagaimana disebutkan di dalam suatu hadits dengan lafazh:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ، كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ، ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ

“Akan berperang di sisi kanzu (harta perbendaharaan) kalian tiga orang, semua mereka adalah putra khalifah, kemudian tidak seorang pun di antara mereka yang menjadi khalifah.”
Jelas ini bukan ujian kecil dan ringan, namun ini menjadi ujian besar dan berat, ini benar-benar akan menjadi huru hara besar karena pertikaian di antara mereka dari para putra khalifah, tentu masing-masing mereka berpengikut dan memiliki pendukung. Adapun berperangnya mereka di sisi al-kanzu (harta perbendaharaan) maka Ahlul ‘Ilmi berbeda pendapat tentang al-kanzu ini, sebagian mereka menyebutkan bahwa al-kanzu itu yang berada di Ka’bah dan sebagian lagi menyebutkan itu emas yang berada di sungai Eufrat. Kalau dimaknakan peperangan antara putra khalifah itu di sisi sungai Eufrat maka dimungkinkan mereka putra-putra khalifah yang berkuasa di sana, bukan putra-putra khalifah yang berkuasa di kota Makkah serta kota-kota sekitarnya. Dan yang nampak pada kita Wallahu A’lam mereka adalah putra-putra khalifah yang berkuasa di kota Makkah dan kota-kota sekitarnya, karena Imam Al-Mahdi awal dibai’at di sisi Ka’bah, dan itu kejadiannya setelah beliau lari keluar dari huru hara yang terjadi di Madinah, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فيأتيه ناسٌ مِن أهل مَكة فيخرجونه وَهو كاره، فَيبايعونَهُ بَين الركن والمقام

“Kemudian datang kepada Al-Mahdi sekelompok orang dari penduduk Makkah, lalu mereka mengeluarkannya dari rumahnya dalam keadaan beliau tidak ingin, setelah itu mereka membai’atnya di antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim.”
Mereka bergegas membai’atnya karena sudah tidak ada seorang pun dari putra-putra khalifah yang bisa menjadi pengganti khalifah.


Pertanyaan:
Ada yang bilang bahwa yang benarnya khalifah yang disebut di hadits itu khalifah dari Daulah Islamiyyah, karena khalifah-khalifah mereka dari Bani Hasyim Quraisy. Dan khalifah harus dari Quraisy, bagaimana ini Ustadz?.

Jawaban:
Kita tidak bisa pastikan, kalau ada yang bisa memastikan khalifah tersebut dari Daulah Islamiyyah maka perlu datangkan hujjah, kalau pun itu dianggap dari Daulah Islamiyyah maka tidakkah dilihat pada akhirnya, yaitu tiga putra khalifah bertikai dan berperang, jelas masing-masing telah dibai’at oleh para pengikut dan para pendukungnya, ini bukan perang kecil tapi ini perang dahsyat. Maka separah itukah berakhirnya kekhalifahan?!. Masing-masing mereka memperebutkan kekhalifahan, sesama saudara saja mereka rela berperang karena perebutan kekhalifahan lalu bagaimana yang di luar saudara yang bukan putra khalifah saat dibai’at tiba-tiba menjadi Khalifatullah yang bukan sekedar khalifah biasa, tentu mereka akan lebih memusuhi. Lihat permusuhan mereka yang tidak menerima Imam Al-Mahdi saat dinyatakan sebagai Khalifatullah yang dibai’at di sisi Ka’bah di antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim, sampai mereka mempersiapkan pasukan dari Syam yang lafazh haditsnya:

فيُجهَّزُ إليه جيشٌ مِن الشَّامِ حتَّى إذا كانوا بالبَيداءِ خُسِف بهم

“Lalu dipersiapkan pasukan dari Syam untuk menumpasnya, namun di saat mereka berada di Baida’ mereka pun ditenggelamkan ke dalam bumi.”
Demikianlah yang dikatakan oleh Nabi Akhir Zaman Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud serta Ath-Thabrani. Dan datang pula dengan lafazh yang lain:

ويُبعث إليه بَعث مِن الشام فيُخسف بهم بالبيداء بَين مكةَ والمدينةِ

“Dan dikirimkan suatu pasukan dari Syam untuk memeranginya, lalu ditenggelamkan mereka di Baida’ yaitu suatu padang antara Makkah dan Madinah.”

[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13512