SALAFIYYÛN TSÂBITÛN BEDA SAMA HIZBIYYÛN

Penempatan istilah “tsâbit” saja mereka sudah keliru dan salah, bagaimana kemudian mengaku sebagai orang-orang tsâbit atau yang mereka tenarkan sebagai salafiyyûn tsâbitûn?! Kalau tsâbit (kokoh) di atas al-‘udzru bil jahli memang benar merekalah ahlinya, tapi kalau kokoh di atas ‘aqîdah shahîhah maka haihâta haihât.
Kalau mereka beralasan kokoh sebagaimana Al-Imâm Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Rahimahullâh, maka ketahuilah perkara beliau ketika itu pada masalah mempertahankan kalimat:

القرآن كلام الله غير مخلوق

“Al-Qur’ãn adalah perkataan Allâh bukan makhluk.”
Orang-orang yang mengatakan seperti yang dikatakan oleh Al-Imâm Ahmad Rahimahullâh maka mereka adalah orang-orang tsâbit. Sedangkan yang mengatakan Al-Qur’ãn adalah makhluk maka mereka kâfirkan, bahkan dengan terang-terangan Al-Imâm Sufyân bin ‘Uyainah Rahimahullâh katakan:

القُرْآنُ كَلامُ اللهِ عَزَّ وجَلَّ، من قال: مخلوقٌ، فهو كافِرٌ، ومن شَكَّ في كُفرِه فهو كافِرٌ

“Al-Qur’ãn adalah perkataan Allâh ‘Azza wa Jalla, barangsiapa mengatakan: Al-Qur’ãn adalah makhluk maka dia kâfir, barangsiapa ragu tentang kekâfirannya maka dia kâfir.”

Kalau salafiyyûn tsâbitûn menempatkannya pada masalah mempertahankan kalimat:

عبد الرحمن العدني حزبي

“‘Abdurrahmân Al-‘Adnî adalah hizbî.”
Ini diberlakukan untuk yang ingin menjadi seperti mereka sebagai salafiyyûn tsâbitûn harus mengakui ‘Abdurrahmân Al-‘Adnî adalah hizbî, yang tidak mengatakan namun masih menampakkan bersama mereka maka terus diwaspadai dan dicurigai, atau kalau meragukan kehizbiyahannya hingga tetap mengatakannya sebagai salafî maka dihukumi sama sebagai hizbî.
Itu pada perkara jarh wat ta’dîl yang mereka namai atau perkara manhaj yang mereka sebut, namun pada perkara ‘aqîdah tauhîd mereka adalah ‘âdzirûn atau menjadi para pembela ‘âdzirûn, yang mereka memerangi orang-orang yang menjelaskan kesesatan kaum ‘âdzirûn.

Kemudian pecahan salafiyyûn tsâbitîn di Indonesia dan Malaysia membuat lagi tambahan masalah yaitu mempertahankan kalimat:

أبو حازم حزبي

“Abû Hâzim adalah hizbî.”

Orang yang menghizbikannya maka dia kokoh, yang tidak menghizbikan atau bahkan yang menghizbikan namun masih mendekatinya dan diketahui bermajlis dengannya maka diikutkan sama dengannya.

(Disadur dari penjelasan Muhammad Al-Khidhir pada kajian terakhir kitâb “Syarhu Tsalâtsatil Ushûl”).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7973