SERPIHAN SANGAHANATAS USTÂDZ KUNINGAN

Apa yang dikatakan oleh Al-Ustâdz Abû Ismâ’îl ‘Abdul ‘Âlim pada perkataannya bahwa “masalah udzur bil jahl sudah disebutkan juga oleh Syaikh Muhammad Rahimahullâh di dalam kitâb-kitâb beliau yang paling dasar”, ternyata tidak bisa dia buktikan kesharîhannya dari kitâb-kitâb dasarnya, dia menyebutkan dari kitâb-kitâb dasar ternyata hanya satu kitâb yaitu “Kasyfusy Syubuhât”. Itupun perkataan beliau yang sepenggal saja yang dia sebutkan, padahal sangat berkaitan dengan perkataan-perkataan sebelumnya, yang dia sebutkan ghairu sharîh bila disendirikan. Kalau dia anggap itu bisa disendirikan tanpa harus penjelas perkataan-perkataan sebelumnya atau penjelas yang lain dari penulisnya maka penting sekali baginya untuk perhatikan nasehat Fadhîlatusy Syaikh Shâlih Ãlusy Syaikh Hafizhahullâh:

كلام أئمة الدعوة فيه محكم ومتشابه فليس الشأن أن تأخذ أي كلام وتقول هذا هو الفهم، ليس الأمر كذلك. إلخ

“Perkataan para Imâm Dakwah ada padanya yang jelas dan ada yang belum jelas, bukanlah suatu upaya untuk kamu ambil perkataan mana saja lalu kamu katakan: “Inilah pemahaman”, bukanlah perkara seperti itu.” Sampai akhir perkataan beliau.

Kita maklumi kalau kitâb “Kasyfusy Syubuhât” ini dianggap oleh Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim sebagai salah satu kitâb dasar, karena memang dia thâlib senior, adapun thuwailib yunior akan anggap ini kitâb lanjut. Dulu waktu kita di Yaman, ada salah seorang thâlib yang merupakan yuniornya dia, thâlib ini datang ke kita meminta untuk kita ajarkan kitâb “Kasyfusy Syubuhât”, dia anggap ini kitâb lanjut, karena dia telah menyelesaikan kitâb-kitâb di bawahnya, kitapun bacakan dan jelaskan, Walhamdulillâh.
Bagi Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim hendaklah tidak perlu bertele-tele dan tidak perlu berhias dengan kata-kata yang nampaknya kebenaran namun terselubung padanya kebatilan, kalau memang lebih condong kepada paham dan ‘aqîdah Yahûdî Ahli Kiblah maka tidak perlu meniru prilaku Yahûdî Banî Isrâ’îl yang menutupi sepenggal ayat rajam. Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Alim hanya menyebutkan sepenggal saja karena nampak baginya ada al-‘udzru bil jahli, coba kalau dia sebutkan perkataan Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh sebelum perkataan itu!.
Alhamdulillâh sebelum penggalan ucapan Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb Rahimahullâh yang dikutipkan oleh Al-Ustâdz ‘Abdul ‘Âlim itu telah diperjelas oleh beliau Rahimahullâh:

أن نقول إن بني إسرائيل لم يفعلوا ذلك، وكذلك الذين سألوا النبي صلى الله عليه وسلم لم يفعلوا ذلك، ولا خلاف أن بني إسرائيل لو فعلوا ذلك لكفروا. إلخ

“Kita katakan: Bahwa Banî Isrâ’îl (yang meminta Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu wa Salâm untuk dibuatkan sesembahan) itu mereka belum melakukan, demikian pula orang-orang yang meminta Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam (untuk dibuatkan dzâtu anwâth supaya dijadikan sesembahan) juga belum melakukan itu. Dan tidak ada khilâf (perbedaan pendapat) bahwa Banî Isrâ’îl kalau melakukan itu maka pasti kâfirlah mereka.” Sampai pada akhir perkataan beliau.

Seorang Ustâdz yang pernah kita bacakan dan jelaskan kepadanya kitâb “Kasyfusy Syubuhât” waktu di Shan’â’ dulu bila mendengarkan bantahan ‘Abdul ‘Âlim selaku ustâdz seniornya ini tentu akan tersenyum dan atau tertawa. Yâ Subhânallâh, tidak perlu bagi Al-Ustâdz untuk menyebut diri banyak belajar, banyak dan banyak sehingga tidak semakin menampakkan diri, karena sungguh:

العبرة بالحقائق لا بالمسميات

“Pelajaran itu pada hakekat-hakekat, bukan pada penyebutan-penyebutan (penamaan-penamaan).”
Alhamdulillâh bagi mereka yang meminta kepada Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm untuk dibuatkan sesembahan itu sangat jelas belum melakukan, demikian pula mereka yang meminta Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam untuk dibuatkan dzâtu anwâth sangat jelas pula belum melakukan. Adapun yang sudah melakukan kekâfiran maka tanpa ada udzur lagi, langsung dikâfirkan, sebagaimana yang diterapkan oleh Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam kepada orang-orang munâfiq yang mengolok-olok beliau:

لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِیمَـٰنِكُمۡ

“Jangan kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kâfir setelah kalian beriman.” [At-Taubah: 65-66].
Para ‘ulama telah jelaskan:

وما قبل عذرهم فحكم عليهم بالكفر ظاهرا وباطنا

“Tidak diterima udzur mereka, bahkan dihukumi atas mereka dengan kekafiran lahir dan batin.”
Setelah mereka dihukumi kâfir, maka kewajiban mereka adalah bertaubat dari kekafiran mereka, dan termasuk kebaikan bagi yang mengkâfirkan untuk memberi nasehat, mendakhwahi, membimbing dan mendoakan hidâyah.

Disampaikan oleh:
Abû Ahmad Al-Khidhir pada tanggal 19 Jumâdal Ûlâ 1445, ba’da maghrib sebelum kajian “Shahîhul Bukhârî” di Masjid Muti’ah Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8404