SIFAT KALAM BAGI ALLAH
Pertanyaan:
سدد الله خطاكم
Izin bertanya, Ustadzuna.
Sifat kalam adalah sifat fi’liyyah ‘aqliyyah. Mengapa digolongkan sifat ‘aqliyyah?. Apakah sesuatu yang disebut Tuhan harus bisa berbicara, Ustadzuna?.
جزاكم الله خيرا
Jawaban:
Disebut sebagai sifat fi’liyyah ‘aqliyyah karena itu adalah suatu sifat perbuatan bagi Allah yang sesuai dengan akal sehat manusia, pada contoh di sini adalah sifat kalam bagi Allah, sifat ini seperti yang diterangkan oleh Ahlussunah wal Jama’ah:
ما وَصَف اللهُ بها نفسَه وَوصَفَه بها رسولُه صَلى اللهُ عليه وَسلم، ودلت عليها العُقولُ
“Apa yang telah Allah sifati dengannya diri-Nya dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mensifati-Nya dengannya dan akal sehat telah menunjukkannya.”
Digolongkan sebagai sifat ‘aqliyyah karena telah dima’lumi oleh akal sehat manusia bahwa Allah ‘Azza wa Jalla benar-benar berbicara sekehendak-Nya:
وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِیمࣰا
“Allah telah mengajak bicara Musa dengan sebenar-benar pembicaraan.” [Surat An-Nisa’: 164].
Sebagian ahlul bid’ah mengingkari sifat kalam ini, karena mereka adalah orang-orang merasa paling pintar terhadap bahasa ‘Arab, mereka tahu bahwa maf’ul tidak mesti setelah fa’il namun bisa sebelum fa’il, maka dari itu mereka baca ayat pada Lafzhul Jalalah (Allahu) yang marfu’ dengan manshub ‘alat ta’zhim (Allaha), tujuan mereka untuk meniadakan pensifatan Allah benar-benar mengajak bicara Musa ‘Alaihish Shalatu was Salam. Namun kita Alhamdulillah sebagai Ahlussunah wal Jama’ah dapat membantah kecerdikan mereka dengan perkataan Allah Ta’ala yang telah mensifati diri-Nya benar-benar mengajak bicara Musa Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَلَمَّا جَاۤءَ مُوسَىٰ لِمِیقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ
“Tatkala datang Musa pada waktu yang telah Kami tentukan, lalu berkatalah kepadanya Rabbnya.” [Surat Al-A’raf: 143].
Ini menunjukkan bahwa yang disebut Rabb harus memiliki sifat berbicara, adapun yang tidak bisa berbicara maka itu adalah alihah (tuhan-tuhan), dan ini diperjelas oleh Allah ‘Azza wa Jalla pada kisah Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam bersama kaumnya:
قَالُوۤا۟ ءَأَنتَ فَعَلۡتَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَا یَـٰۤإِبۡرَ ٰهِیمُ ٠ قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِیرُهُمۡ هَـٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُوا۟ یَنطِقُونَ
“Mereka bertanya: Apakah engkau yang melakukan ini terhadap alihah (tuhan-tuhan) kami wahai Ibrahim?. Beliau menjawab: Bahkan yang melakukannya adalah ilah (tuhan) kalian yang besarnya ini, tanyalah oleh kalian alihah (tuhan-tuhan) kalian jika keberadaan mereka dapat berbicara.” [Surat Al-Anbiya’: 62-63].
Kaumnya tahu bahwa alihah (tuhan-tuhan) mereka tidak tersifati dengan sifat kalam sebagaimana yang mereka persaksikan sendiri hingga mereka katakan kepada Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam:
لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَـٰۤؤُلَاۤءِ یَنطِقُونَ
“Sungguh benar-benar engkau telah ketahui bahwa alihah (tuhan-tuhan) ini tidak dapat berbicara.” [Surat Al-Anbiya’: 65].
[Abu Ahmad Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].