SUPAYA TIDAK MENYIMPANG DARI JALAN YANG LURUS
Pertanyaan:
Ustadz, sering saya lihat pada sebagian orang walau sudah terang sekali kebenaran, masih saja tidak mau, karena ikutnya hanya ke pimpinan syaikh-syaikhnya. Malahan meminta ke Allah agar tidak memisahkan dari pimpinan syaikh-syaikhnya, apakah seperti ini boleh dibilang masuk masalah jahiliyyah?. Dan satu lagi pertanyaan saya, bagaimana supaya tidak menyimpang dari jalan kebenaran, jalan Allah yang lurus?.
Jawaban:
Masya Allah mengingatkan masa lalu, saat kita banyak berbicara dan membantah hizbiyyah menurut versi sebagian guru kita, tiba-tiba ada seseorang mengatakan: “Aku yakin betul apa yang disuarakan oleh syaikh terpercaya kami sepenuhnya benar, pokoknya aku tidak akan berpaling darinya selamanya.”
Tidak terasa waktu berlalu hingga sepuluh tahun lebih, saat kita paparkan perkara Tauhid dan kewajiban menerapkan dua rukunnya serta penjelasan tentang keadaan kaum ‘adzirun, ia pun nampak seperti gunung dalam menampakkan kebersamaan dengan tokoh yang dia maksud tersebut, dalam berbagai perkara hingga rela memutus silaturrahim dan membabi buta dalam memboikot para penyelisih tokoh yang dia maksud, Subhanallah.
Demikian itulah model fanatik yang disebutkan di dalam “Muqarrarut Tauhid” yang kita kaji kemarin di rumah salah seorang ikhwah di Depok, bahwasanya di antara sebab seseorang menyimpang dari akidah shahihah adalah:
التعصب لما عليه الآباء والأجداد والتمسك به وإن كان باطلا وتَرْكُ ما خالفه وإن كان حقًا
“Fanatik kepada apa yang ada padanya para tokoh, nenek moyang dan berpegang teguh padanya meskipun kebatilan dan meninggalkan apa saja yang menyelisihinya meskipun kebenaran.”
Sungguh benar apa yang Allah Ta’ala terangkan di dalam kitab-Nya:
وَإِذَا قِیلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَیۡهِ ءَابَاۤءَنَاۤۚ أَوَلَوۡ كَانَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ یَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِیرِ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah oleh kalian apa yang telah Allah turunkan.” Mereka katakan: “(Tidak), bahkan kami akan mengikuti apa yang kami dapatkan padanya tokoh-tokoh kami.” Meskipun syaithan menyeru mereka kepada azab neraka yang menyala-nyala.” [Surat Luqman: 21].
Andaikan seseorang memohon kepada Allah untuk tidak memalingkannya dari kebenaran maka tentu itu lebih baik baginya, karena sungguh kebenaran hanyalah datangnya dari Allah ‘Azza wa Jalla dan hanya Dia-lah yang memberi hidayah kepada kebenaran:
قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَاۤءَكُمُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا یَهۡتَدِی لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡهَاۖ وَمَاۤ أَنَا۠ عَلَیۡكُم بِوَكِیلࣲ
“Katakanlah: “Wahai manusia, telah datang kepada kalian kebenaran dari Rabb kalian, sebab itu barangsiapa mendapat petunjuk maka sebenarnya petunjuk itu untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tersesat, sesungguhnya kesesatannya itu menimpa dirinya sendiri. Dan aku bukanlah pemelihara diri kalian.” [Surat Yunus: 108].
Dan supaya tidak menyimpang dari kebenaran maka jangan sekali-kali berpaling dari kebenaran yang telah sampai, karena yang menjadi penyebab Bani Israil menyimpang dari agama para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam adalah berpalingnya mereka dari kebenaran yang sampai kepada mereka:
فَلَمَّا زَاغُوۤا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِینَ
“Tatkala mereka berpaling maka Allah palingkan hati mereka, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” [Surat Ash-Shaf: 5].
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/350