TETAP BERBAKTI KEPADA ORANG TUA MESKIPUN MUSYRIK
Pertanyaan:
Ucapan Abû Fairûz dari hasil konsultasinya dengan Syaikh Al-Hajûrî dan syaikh-syaikh Yaman lainnya soal al-‘udzru bil jahli bahwa kalau ditiadakan bisa-bisa kâfirkan orang tua sendiri. Bagaimana menanggapi syubhatnya ini Ustâdz?.
Jawaban:
Itu menunjukkan kekokohan mereka di atas manhaj dan ‘aqîdah pendahulu mereka Dâwud bin Jirjîs Al-‘Irâqî, para pendahulu yang shâlih tidaklah berkeyakinan dengan keyakinan semacam keyakinan aliran Salafiyyûn Tsâbitûn itu, karena sungguh Allâh Ta’âlâ telah membimbing para pendahulu yang shâlih untuk berakhlak kepada orang tua dengan akhlak dan adab Al-Qur’ãn, berkata Allâh Ta’âlâ:
وَوَصَّیۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَ ٰلِدَیۡهِ حُسۡنࣰاۖ وَإِن جَـٰهَدَاكَ لِتُشۡرِكَ بِی مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمࣱ فَلَا تُطِعۡهُمَاۤ
“Kami wajibkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, jika keduanya memaksamu supaya kamu berbuat syirik kepada-Ku terhadap apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan padanya maka jangan kamu mentaati keduanya.” [Surat Al-Ankabût: 8].
Lihatlah betapa indahnya berakhlak kepada orang tua sesuai bimbingan Al-Qur’ãn, meskipun orang tua musyrik dan atau kâfir tetap diperintah berbuat baik kepadanya, mâsyâ Allâh sangat teramat indah. Namun aliran Salafiyyûn Tsâbitûn menampakkan seolah-olah mengerikan dan membahayakan, gambaran mereka ke orang lain kalau orang tua sudah musyrik maka seakan-akan langsung halâl darahnya untuk ditumpahkan oleh anaknya sendiri, itulah gambaran para provokator yang jauh dari akhlak salaf shâlih.
Lihatlah bagaimana Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu dalam memperlakukan ibunya yang musyrikah, beliau ajak hijrah ke Madînah, tinggal serumah dengan ibunya yang musyrikah, suatu saat ibunya mencela Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm yang membuat Abû Hurairah menangis mendengarkannya, tapi karena beliau menginginkan hidayah dan kebaikan kepada ibunya, beliaupun tidak langsung meninggalkan ibunya apalagi sampai menumpahkan darahnya, karena besar harapan beliau akan kebaikan buat ibunya. Beliaupun datang menemui Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengadukan perihal ibunya lalu beliau meminta Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam untuk mendoakan hidayah buat ibunya, Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pun mendoakan hidayah buat ibunya, dengan sebab itu ibunya masuk Islâm.
Lihatlah pula bagaimana Khalîlullâh Ibrâhîm ‘Alaihish Shalâtu was Salâm yang beliau telah menghukumi dan mensifati orang tuanya sendiri dengan kesyirikan:
یَـٰۤأَبَتِ لَا تَعۡبُدِ ٱلشَّیۡطَـٰنَۖ إِنَّ ٱلشَّیۡطَـٰنَ كَانَ لِلرَّحۡمَـٰنِ عَصِیࣰّا
“Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithân, sungguh syaithân itu durhaka kepada Ar-Rahmân (Allâh Yang Maha Pengasih).” [Surat Maryam: 44]. Namun beliau terus berbuat baik, beradab kepada orang tuanya, saat menyerunyapun dengan seruan “yâ abatî”, yang ini merupakan seruan terlembut dan teramat sopan, beliau tidak menyeru dengan seruan “yâ abî”, beliau memilih tutur kata yang paling baik. Beliau terus menyertai ayahnya supaya senantiasa berbakti namun ayahnya sendiri menampakkan sikap permusuhan nyata berupa ancaman merajam beliau, lalu membiarkan kaumnya untuk menghukum beliau dengan membakar beliau. Setelah nyata ayahnya tidak diharapkan lagi kebaikannya karena sudah nampak memusuhi terang-terangan maka beliaupun hijrah, meninggalkan dan menjauhinya.
Seperti itu pula sikap di antara para Shahabat Nabî ‘Alaihimush Shalâtu was Salâm dalam berakhlak dan beradab kepada orang tua yang musyrik, selama orang tua tidak memusuhi mereka terang-terangan maka mereka terus bersabar dalam berbakti kepada orang tua, tatkala orang tua mereka memusuhi terang-terangan, di antaranya dengan ikut serta bergabung bersama pasukan kaum musyrikîn dalam perang Badr maka di antara Shahabat berani membunuh orang tuanya sendiri saat di medan perang Badr, bila dibiarkan orang tuanya maka tentu akan bersemangat membantai kaum Muslimîn maka dibunuhlah sendiri oleh anaknya yang Muslim disebabkan dia kâfir yang nyata-nyata melakukan permusuhan.
(Abû Ahmad Al-Khidhir).