TIDAK MENERIMA KEBENARAN KECUALI HANYA DARI KALANGAN MEREKA
Pertanyaan:
Ada jaringan salafiyyun tsabitun bilang kalau Ustadz Al-Limbori dan pengikut-pengikutnya rujukan mereka ke ahlu bid’ah tidak seperti salafiyyun tsabitun hanya merujuk ke Ahlus Sunnah, apa sudah ada jawaban Ustadz?.
Jawaban:
Itulah keterlaluan mereka dalam kecerdikan, di saat kita menerima suatu kebenaran yang datang dari seseorang, terlebih kalau kita menukilkan kebenaran tersebut dengan menyebutkannya maka seketika kita dicap oleh mereka telah menjadikannya sebagai rujukan hingga keluarlah berbagai vonis dan boikot. Makanya jangan heran perpecahan mereka yang kian berkelanjutan itu berputar pada masalah menerima dan menukilkan suatu kebenaran seperti itu di antaranya. Sudah pernah dulu kita beri tanggapan terhadap orang yang mempertanyakan mengambil faidah ilmu dari Syaikh Al-Albani karena katanya sudah dibantah oleh Syaikh Ibnul ‘Utsaimin dan telah menyebutkannya tidak memiliki ilmu sedikitpun karena beliau menganggap bid’ah adzan pertama hari Jum’at. Kita katakan bahwa dalam masalah menerima atau menukilkan suatu kebenaran itu akan menjadi masalah berat bagi mereka bila menerima atau menukilkan dari orang yang tidak mereka anggap sebagai Ahlussunnah, jangankan menerima atau menukilkan dari tokoh ahli bid’ah semisal Sayyid Qutub, mau menerima atau menukilkan dari syaikh yang seperguruan dengan mereka saja itu sudah jadi masalah besar bila syaikh yang bersangkutan sudah menyelisihi petuah mereka. Pernah kita katakan bahwa mereka itu lebih merusak daripada Haddadiyyah, karena petuah Haddadiyyah menganjurkan membakar Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari yang alasannya jelas karena kesalahan-kesalahan dalam masalah aqidah di dalamnya, dan anjurannya itu pun kita pastikan sebagai suatu kesalahan, hanya saja masih mending dia daripada mereka tadi, karena mereka memerintahkan bakar atau boikot kitab sebagian syaikh bukan karena bukti kesalahan pada kitabnya namun karena orangnya yang mereka anggap sebagai mubtadi’. Ini yang sudah mereka anggap sebagai mubtadi’, ternyata yang belum teranggap sebagai mubtadi’ di kalangan mereka saja karena sudah berseteru, itu sudah saling memboikot dan tidak boleh lagi mengambil ilmu darinya, jangankan mengambil ilmu secara umum, kebenaran pun sudah enggan menerima darinya, padahal masih satu petuah, bahkan masih satu rujukan. Itu masih sesama mereka, apalagi dengan selain mereka maka tidak akan mereka terima, kalau pun harus menerima maka menggunakan cara yang tidak wajar, karena hakekat mereka seperti yang disebutkan oleh Al-Imam Ibnu ‘Abdil Wahhab di dalam “Masailul Jahiliyyah”:
أنهم لا يقبلون من الحق إلا الذي مع طائفتهم كقوله: قَالُوا۟ نُؤۡمِنُ بِمَاۤ أُنزِلَ عَلَیۡنَا
“Bahwasanya mereka tidak akan melakukan penerimaan terhadap kebenaran kecuali dari orang yang bersama kelompok mereka, seperti perkataan-Nya: “Mereka berkata: Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” [Surat Al-Baqarah: 91].
[Abu Ahmad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu, pada hari Kamis (12 Dzulqa’dah 1447 / 30 April 2026) di Bogor].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14003
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2145