USAHA TIDAK MENYELISIHI TAKDIR

Pertanyaan:
Mau bertanya Ustadz, terkait takdir, kan ada dalil tentang: “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai kaum tersebut yang mengubahnya.” Berlaku kah, dengan perumpamaan kejadian begini: Anak tidak berobat, meninggal.
Dengan anak yang berobat dan sembuh. Apakah semisal anak yang meninggal tersebut diobati dengan baik, maka akan tetap hidup?. Ataukah takdir kematian akan tetap mendatanginya di saat tersebut, meskipun sudah diobati?. Dulu pernah dengar kajian terkait takdir umur seorang hamba (lupa ustadz siapa), dikatakan bahwa umur hamba tersebut sudah dicatat 50.000 tahun sebelum hamba tersebut diciptakan. Namun ada pilihan di mana dia bisa memilih untuk menjalankan amalan yang bisa memanjangkan umur. Kayak menyambung silaturrahmi, bersedekah, atau yang semisalnya. Padahal jatah umurnya misal 50 tahun, namun asbab amalan tersebut jadi umurnya bisa sampai di 60 tahun. Apakah yang demikian termasuk keadaan yang diubah oleh manusia itu sendiri?.
Jadi takdir yang sudah tertulis itu bisa diubah tergantung dengan amalan, atau bagaimana?. Sedangkan ada juga yang bilang, kalau amalan yang manusia lakukan itu juga termasuk takdir Allah. Sinkron tidak ustadz?. Atau bagaimana penjelasan yang benar terkait takdir yang demikian?.
Amalan yang dilakukan itu termasuk takdir atau pertolongan Allah?.

Jawaban:
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang dia telah diciptakan padanya.”
Jika seseorang sudah ditentukan umurnya 50 tahun maka dia akan dipermudah melakukan sebab-sebab untuk bisa mencapai umur tersebut, tatkala umurnya sudah mencapai 50 tahun, lalu dia melakukan sebab yang lain supaya bisa bertambah umurnya maka dia tidak akan mencapai umur lebih dari itu, dan ini sesuai dengan perkataan Allah ‘Azz wa Jalla:

أَیۡنَمَا تَكُونُوا۟ یُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِی بُرُوجࣲ مُّشَیَّدَةࣲۗ

“Dimana saja kalian berada maka kematian akan menjemput kalian, meskipun keberadaan kalian di dalam benteng yang kokoh.” [Surat An-Nisa’: 78].
Setiap orang diperintah untuk menjalankan sebab, dalam menjalankannya tidak semua akan sesuai keinginan, karena terkadang seseorang di saat menjalankan sebab itu justru dia mati, ada orang lari dari serangan musuh lalu dia berdiam di dalam benteng, tiba-tiba bentengnya roboh hingga tertindas reruntuhan, diapun mati seketika, maka inilah yang disebut takdirnya. Demikian pula seseorang ingin menjalankan sebab supaya sembuh dari penyakitnya, diapun merujuk ke rumah sakit, ternyata sampai di rumah sakit dia diberi obat justru tidak menambah sembuh malah menjadi penyebab kematiannya, maka inilah yang disebut takdir. Oleh karena itu kita dilarang untuk mengatakan:

لو أني فعلتُ لكانَ كذا وكذا

“Seandainya aku berbuat begini maka akan begini dan begini.”
Orang yang menjalankan sebab untuk keberlangsungan hidupnya terkadang sesuai harapan, terkadang tidak sesuai harapan dan itu semua dari Allah Ta’ala, yang telah Dia tetapkan sebagai takdir, berkata Allah Jalla wa ‘Ala:

وَإِن تُصِبۡهُمۡ حَسَنَةࣱ یَقُولُوا۟ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَیِّئَةࣱ یَقُولُوا۟ هَـٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ قُلۡ كُلࣱّ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ

“Jika kebaikan terlimpahkan kepada mereka maka mereka katakan: “Ini dari sisi Allah dan jika kejelekan menimpa mereka maka mereka katakan: Ini dari sisimu. Katakanlah: Semua dari sisi Allah.” [Surat An-Nisa’: 78].
Termasuk kesalahan bagi seseorang tatkala dia tidak mau menjalankan sebab, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan untuk menjalankan sebab, pernah ditanyakan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى} الْآيَةَ

“Wahai Rasulullah, kalau begitu, bagaimana bila kita bersandar saja kepada takdir kita dengan tanpa beramal?” beliau menajawab: “Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang diciptakan baginya. Barangsiapa yang diciptakan sebagai orang-orang bahagia maka dia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang bahagia. Namun, barangsiapa yang diciptakan sebagai orang-orang sengsara maka dia akan dimudahkan pula untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.” Kemudian beliau membacakan ayat: “Barangsiapa yang memberi, dan bertakwa serta membenarkan kebaikan).” Ayat.
Adapun masalah berobat maka ini juga perlu dilihat jenis obatnya, terkadang ada orang tidak tahu aturan dan resep dalam berobat hingga memadharatkan. Pernah ada seseorang sakit lalu bertanya kepada seorang thabib karbitan, diapun disarankan makan habatu sauda’ secukupnya, namun setelah itu muncul bintik-bintik di kulitnya seakan-akan jerawat ganas. Alhamdulillah ada kawannya menyarankan untuk jangan memakan habatu sauda’ lagi, Alhamdulillah setelah itu hilang bintik-bintik tersebut. Ini menunjukan kalau orang tersebut tidak cocok atau salah penakaran atau tidak tahu resep dalam mempergunakan habatu sauda’, maka dari itu, bagi yang tidak tahu aturan dan takaran dalam menggunakan habatu sauda’ untuk bertanya supaya tidak memadharatkannya, disebutkan di dalam suatu hadits:

ألا سألوا إذْ لَم يعلَموا فإنَّما شفاءُ العيِّ السُّؤالُ

“Mengapa mereka tidak bertanya jika mereka tidak mengetahui, karena sungguh obat kelemahan itu bertanya.”
Ini yang berkaitan dengan obat herbal lalu bagaimana dengan obat kimia zaman ini?!. Banyak orang berkeyakinan bahwa imunisasi itu menjamin kesehatan bayi hingga usia tua, demikian pula vaksinasi, sebagian orang menganggapnya ampuh dalam menguatkan imun tubuh dan melindungi dari serangan virus, namun kenyataan justru sudah banyak yang setelah vaksinasi menjadi bertambah sakit, ada yang lumpuh dan ada pula mati padahal sebelumnya tidak pernah sakit berat. Ini menunjukan ketidakcocokan padanya maka di saat orang tidak berobat dengan obat seperti itu maka jangan dikatakan tidak ingin merubah keadaannya untuk menjadi lebih sehat. Kita sangat menganjurkan untuk selalu menjalankan berbagai sebab, namun dalam menjalankan sebab-sebab hendaklah dengan penuh ketelitian.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/10355