AKIBAT TIDAK MENGETAHUI FIQIH JIHÂD?!

Pertanyaan:
Bagaimana menanggapi orang-orang yang jihâd terus seruan mereka, sampai-sampai rela bunuh diri dalam melakukan penyerangan dan pembunuhan ke orang yang dianggap termasuk dari anshâr thâghût (para penolong thâghût)?.

Jawaban:
Itulah akibat dari hanya bermodal semangat dan kecemburuan namun bodoh terhadap fiqih jihâd, mereka ingin memperjuangkan syari’at dengan cara menyelisihi syari’at, bagaimana mungkin mereka akan meraih kemenangan?!.
Syari’at tidak pernah membolehkan bunuh diri, jangankan di saat perjanjian atau adanya jaminan keamanan, yang itu bukan medan perang, di saat di medan perang pun tetap tidak ada pembolehan membunuh diri. Orang yang nekat membunuh dirinya maka dia terjatuh ke dalam dosa besar, ancamannya masuk Neraka, Nabî ‘Alaihish Shalâtu was Salâm pernah berkata tentang seorang pemberani di saat berjihâd di medan perang:

هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ

“Dia termasuk dari penghuni neraka.”
Sahl bin Sa’d As-Sâ’idî Radhiyallâhu ‘Anhu menceritakan tentang keberadaan orang tersebut:

فَجُرِحَ الرَّجُلُ جُرْحًا شَدِيدًا فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَوَضَعَ نَصْلَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَى سَيْفِهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ

“Orang tersebut terluka dengan luka yang sangat parah, dia ingin menyegerakan kematiannya lalu dia meletakkan gagang pedangnya ke tanah dan ujung pedang di dadanya lalu menikam dirinya sendiri, diapun membunuh dirinya sendiri.” Riwayat Muslim.

Adapun semangat jihâd orang-orang yang disebutkan pada pertanyaan, yang alasan mereka adalah memerangi anshâr thâghût maka mereka harus mengambil pelajaran dari Kalîmullâh Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm dalam membawa Banî Isrâil yang mereka hidup di tengah-tengah anshâr thâghût dan mereka tertindas, namun Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm tidak menyeru mereka untuk melakukan perlawanan atau pembunuhan di saat berkesempatan untuk membunuh anshâr thâghût, karena syari’at telah mengatur. Pada zaman Mûsâ Shallallâhu Alaihi wa Sallam di Mesir itu dikuasai oleh thâghût, yaitu Fir’aun, namun Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm tidak mengajarkan dan tidak pula menganjurkan untuk melakukan pembunuhan terhadap anshâr thâghût, bahkan Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm pernah tidak bersengaja membunuh seorang anshâr thâghût, dengan sebab tersebut, beliau menjadikan itu sebagai penyesalan beliau di dunia dan di akhirat, di dunia beliau berkata dengan penuh penyesalan:

هَـٰذَا مِنۡ عَمَلِ ٱلشَّیۡطَـٰنِ إِنَّهُۥ عَدُوࣱّ مُّضِلࣱّ مُّبِینࣱ

“Ini termasuk dari perbuatan syaithân, sungguh dia adalah musuh nyata yang menyesatkan.” (Surat Al-Qashshahs: 15).
Tidak hanya menyesali namun beliau ikutkan pula doa permohonan ampun:

رَبِّ إِنِّی ظَلَمۡتُ نَفۡسِی فَٱغۡفِرۡ لِی

“Wahai Rabbku, sungguh aku telah menzhalimi diriku maka berilah ampunan kepadaku.” (Surat Al-Qashshahs: 16).
Di akhirat beliau masih menyesali apa yang telah beliau perbuat berupa membunuh orang kâfir dari anshâr thâghût tersebut, beliau berkata:

إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنِّي قَدْ قَتَلْتُ نَفْسًا لَمْ أُومَرْ بِقَتْلِهَا

“Sungguh Rabbku benar-benar telah marah padaku dengan kemarahan yang belum pernah marah seperti kemarahan pada hari ini, dan tidaklah Rabbku marah dengan kemarahan setelah ini seperti kemarahan hari ini. Sungguh benar-benar aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintah untuk membunuhnya.” Riwayat Al-Bukhârî.
Dengan sebab itu, beliau menjadikannya sebagai alasan ketidakmampuan memberi syafa’at kepada manusia di hari Kiamat, di saat manusia datang kepada beliau dengan mengatakan:

يَا مُوسَى أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ، فَضَّلَكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ عَلَى النَّاسِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ

“Wahai Mûsâ, engkau adalah Rasûlullâh, Allâh melebihkanmu dengan risalah dan kalam-Nya atas seluruh manusia, berilah kami syafa’at kepada Rabbmu, apa engkau tidak lihat terhadap apa yang ada pada kami?!.” Riwayat Al-Bukhârî.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Rabu, 21 Jumâdil Awwal 1444 di Pondok Pesantren Majaalis Cipancur Klapanunggal Bogor.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7072