ANCAMAN BAGI PELAKU LGBT
Pertanyaan:
Apakah boleh pelaku LGBT dihukum bunuh seperti di Nusantara ini?.
Jawaban:
Urusan memberi hukuman bunuh di negeri ini adalah urusan penguasa atau pemerintah Nusantara ini. Kewâjiban kita sebagai rakyat biasa yang tidak memiliki kekuasaan di negeri ini adalah berdakwah, mengajak kepada kebaikan dan mengingkari kemungkaran, mengajak beriman kepada Allâh serta mentauhîdkan-Nya dan mengkufuri thâghût serta kesyirikan. Itu di antara kewajiban kita di negeri ini.
Keberadaan kita sekarang ini sebagaimana Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu was Salâm bersama Banî Isrâ’îl tatkala mereka di Mesir, terkhusus Mûsâ ‘Alaihish Shalâtu wa Salâm selama di Mesir tidak pernah melakukan pembunuhan dengan bersengaja. Tatkala beliau memukul seorang kâfir dari pengikut Fir’aun, dengan sebab pukulannya membuat orang kafir itu mati, beliaupun menyesali dan menganggapnya itu sebagai amalan syaithân:
قَالَ هَـٰذَا مِنۡ عَمَلِ ٱلشَّیۡطَـٰنِ إِنَّهُ عَدُوࣱّ مُّضِلࣱّ مُّبِینࣱ
“Beliau berkata: “Ini termasuk dari amalan syaithân, sungguh syaithân adalah musuh yang jelas menyesatkan.” [Surat Al-Qashash: 15].
Beliau dapat menerapkan hukum Allâh berupa memerangi atau merajam orang berzinâ yang sudah menikah itu setelah beliau membawa keluar Banî Isrâ’îl dari Mesir, dan di saat beliau sudah berkuasa sebagai pemimpin Banî Isrâ’îl.
Di saat beliau pergi menuntut ilmu dan ditemani oleh muridnya Yûsya’ ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm, beliaupun tidak melakukan sebagaimana yang beliau lakukan di saat memimpin Banî Isrâ’îl di negeri yang mereke kuasai. Makanya tatkala beliau pergi menuntut ilmu kepada Al-Khidhir ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm lalu beliau melihatnya membunuh seorang anak, beliaupun mengingkarinya:
قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسࣰا زَكِیَّةَۢ بِغَیۡرِ نَفۡسࣲ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَیۡـࣰٔا نُّكۡرࣰا
“Beliau berkata: “Mengapa engkau membunuh seorang jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain?! Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” [Surat Al-Kahfi: 74].
Beliau mengingkari Al-Khidhir ‘Alaihimash Shalâtu wa Sallam karena beliau tidak mengetahui kalau Al-Khidhir ‘Alaihish Shalâtu was Salâm melakukan pembunuhan karena diperintah oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, makanya beliau mengingkari.
Oleh karena itu, tidak pantas bagi siapapun yang tidak memiliki kekuasaan untuk melakukan pembunuhan, meskipun dia benar, dia mengetahui atau menyaksikan orang melakukan perbuatan LGBT, lebih-lebih perbuatan kekufuran atau kesyirikan, atau dia melihat orang-orang kâfir melakukan kerusakan yang nyata-nyata di depan matanya sementara dia keberadaannya seperti kita sekarang ini atau seperti keadaan Mûsâ bersama Banî Isrâ’îl tatkala di Mesir, maka tidak dibenarkan untuk melakukan pembunuhan atau memerangi, karena yang melakukan pembunuhan atau memerangi itu di saat memiliki kekuatan atau kekuasaan, Wallâhul Musta’ân.
(Muhammad Al-Khidhir).