FATWÂ AL-IMÂM IBNU BÂZ SEMOGA ALLÂH MERAHMATINYA TENTANG BERMADZHAB

السؤال
يسأل ويقول: هل هناك ضرر في اتباع أكثر من مذهب من المذاهب الإسلامية المعروفة، فإذا اتبعت المذهب الحنفي في بعض الأمور واتبعت الشافعي في غيرها هل ذلك جائز أفتونا جزاكم الله خيرًا

الجواب
إذا كان الإنسان طالب علم واتبع المذهب الحنفي في مسائل، ظهر له أنها صحيحة وأن مذهبه أولى من غيره، ثم اتبع مذهب الشافعي أو مالك أو أحمد في مسائل أخرى ظهر أن مذهبهم فيها هو الصحيح حسب الأدلة فلا بأس بهذا؛ لأن المؤمن حسب ما أعطاه الله من العلم يتبع الدليل وينظر في الدليل، فما قام عليه الدليل وجب الأخذ به، سواء وافق مذهب الشافعي أو أبي حنيفة أو مالك أو أحمد أو غيرهم من أهل العلم، المهم أن يوافق الدليل، وأن يدل عليه آية أو حديث شريف صحيح عن رسول الله عليه الصلاة والسلام، أما بالتشهي والهوى فلا، كونه يتلاعب تارةً كذا وتارةً.. هذا لا يجوز، ولكن عليه أن يحرص على معرفة الدليل وسؤال أهل العلم عما يشكل عليه، فإذا عرف بالدليل إذا كان طالب علم عرف بالدليل أن هذا المذهب في هذه المسألة أرجح وذاك في المسألة الأخرى أرجح فلا بأس، وإلا فعليه أن يسترشد بالعلماء ويستفتيهم ويعمل بما يرشدونه إليه من العلم
المقدم: جزاكم الله خيرًا

(الإمام ابن باز رحمه الله)

Pertanyaan:
Penanya bertanya: Apakah suatu kesalahan untuk mengikuti lebih dari satu madzhab dari madzhab-madzhab Islâm yang terkenal? Jika aku mengikuti madzhab Hanafî pada sebagian perkara dan mengikuti madzhab Asy-Syâfi’î pada perkara-perkara yang lain, apakah demikian itu boleh? Berilah fatwâ kepada kami semoga Allâh membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:
Jika keberadaan seseorang adalah penuntut ilmu dan dia mengikuti madzhab Hanafî pada berbagai masalah, lalu tampak baginya bahwa madzhab tersebut benar dan madzhabnya lebih unggul dari madzhab yang lainnya, kemudian dia mengikuti madzhab Asy-Syâfi’î, Mâlik atau Ahmad pada masalah-masalah lain, nampak bahwa madzhab mereka benar menurut dalîl-dalîl, maka hal ini tidak mengapa, karena orang beriman itu sesuai dengan ilmu yang Allâh berikan kepadanya, dia mengikuti dalîl-dalîl dan melihat dalîl-dalîlnya, apa saja yang tegak dalîl padanya maka wâjib untuk berpegang padanya, baik itu bersesuaian dengan madzhab Asy-Syâfi’î, Abû Hanîfah, Mâlik, Ahmad, atau selain mereka dari kalangan Ahlul ‘Ilmi. Yang penting bersesuaian dengan dalîl dan menunjukkan padanya ayat atau hadîts yang mulia lagi shahîh dari Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.
Adapun karena kecenderungan dan hawa nafsu maka tidak, karena keberadaan dia tidak berpendirian, terkadang ini dan terkadang itu. Ini tidak boleh, namun dia harus bersungguh-sungguh untuk mengetahui dalîlnya dan bertanya kepada orang-orang berilmu tentang apa yang menjadi masalah baginya. Jika dia penuntut ilmu dan dia mengetahui dalîlnya bahwa madzhab ini pada beberapa masalah lebih kuat dan madzhab itu pada masalah yang lain lebih kuat maka tidak masalah, jika tidak maka wajib baginya untuk mencari petunjuk dari para ‘ulamâ, meminta fatwâ mereka, dan beramal sesuai dengan apa yang mereka berikan berupa ilmu kepadanya.

Berkata pengantar pertanyaan: Semoga Allâh membalas Anda dengan kebaikan.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/8711