HUKUM BELAJAR QIRA’AH KE PARA DÂ’Î SHÛFIYYAH

Pertanyaan:
‘Afwân Ustâdzî, ana mau bertanya lau samahtum. Apakah boleh belajar ‘ilmu qira’ât kepada guru yang notabene guru tersebut shûfî?.

Jawaban:
Alhamdulillâh sekarang sudah pada ada ahli qira’ah sesuai zhahirnya dari kalangan Ahlussunnah, belajarlah kepada mereka, berkata Ibnu Sîrîn Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sungguh ilmu ini adalah agama maka lihatlah oleh kalian kepada siapa kalian mengambil agama kalian.”

Kecuali kalau mereka mematok bayaran yang mungkin kalian merasa berat dengannya, tapi kalau tidak memberatkan kalian maka hendaklah kalian belajar ke mereka.
Adapun belajar ke orang-orang Shûfî maka jangan, jagalah kehormatan sebagai Ahlussunnah, kecuali kalau mungkin tidak didapati lagi melainkan hanya ke mereka. Itupun harus diperhitungkan baik-baik, apalagi belajar qira’ah bukan fardhu ‘ain. Walaupun mungkin hanya belajar qira’ah, nahwu atau fikih madzhab, namun perlu memperhitungkan dan mempertimbangkan baik-baik, karena sudah banyak dari orang-orang yang kita kenal awalnya nampak sebagai Ahlussunnah, namun tatkala mereka merapat ke shûfî dengan alasan belajar ilmu ãlat atau ilmu penunjang lainnya, maka mulai terlihat berubah sedikit demi sedikit hingga menjadi sebarisan dengan mereka, Wallâhu Nas’aluhus Salâmata wal ‘âfiyah.

Kita dulu di Shan’a saksikan beberapa orang Indonesia yang belajar di Jâmi’ah datang ke Jâmi’, bertanya-tanya untuk belajar fiqih madzhab Syâfi’iyyah. Kita sarankan ke mereka untuk belajar hadîts dulu, belajar ‘Umdatul Ahkâm atau Bulûghul Marâm setelah itu baru belajar fiqih madzhab Syâfi’iyyah, kita inginkan mereka mengenal dalîl terlebih dahulu sehingga tidak tergiring ke dalam taklîd. Namun tidak sabaran mereka, hingga di antara mereka ke Hadramaut untuk belajar fiqih madzhab Syâfi’iyyah, setelah itu kita tidak tahu lagi keberadaan mereka.
Juga kita dapatkan beberapa orang yang sudah belajar ‘aqîdah, sudah pandai nahwu dan sebagian ilmu ãlat, karena tertarik dengan ilmu qira’ah hingga mereka datang belajar ke orang-orang Shûfî pada akhirnya mereka menjadi dâ’î pendukung maulidan dan acara-acara bid’ah lainnya, yang lebih parah dari itu mengakui para penyembah kubur sebagai ikhwah mereka seiman. Nas’alullâhas Salâmata wal ‘Âfiyah.

( Muhammad Al-Khidhir ).

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/7331