HUKUM BERDOA DENGAN SELAIN BAHASA ARAB DI DALAM SHALAT
Pertanyaan:
‘Afwân Ustâdzî, Ahsanallâhu ilaikum, ana mau bertanya, di dalam shalat jenazah pada takbîr ketiga itu kan mendoakan mayyit, apakah boleh menggunakan bahasa Indonesia?
Jawaban:
Asy-Syaikh Al-Wâlid ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbâd Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih pernah ditanya:
هل يجوز الدعاء للميت في صلاة الجنازة بغير العربية؟
“Apakah boleh berdoa untuk mayyit di dalam shalat jinâzah dengan selain bahasa Arab?”
Beliau menjawab:
الأصل أن الإنسان يتعلم الأدعية الشرعية باللغة العربية، وإذا لم يتمكن من ذلك فإنه يدعو بأي لغة
“Pada asalnya, bagi seseorang hendaklah mempelajari doa-doa syar’î yang berbahasa ‘Arab, jika dia tidak berkemampuan untuk itu maka dia berdoa dengan bahasa mana saja yang dia mampui.”
Demikian jawaban beliau, namun yang terbaik bagi seseorang, jika tidak memungkingkan baginya atau dia tidak mampu menghafal doa seutuhnya maka cukup baginya menghafal beberapa lafazh saja, cukup baginya membaca:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ
“Yâ Allâh berilah ampunan kepadanya dan berilah rahmat kepadanya.”
Jika dia tidak sanggup juga, maka dia membaca hanya selafazh saja:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ
“Yâ Allâh berilah ampunan kepadanya.”
Seseorang membaca lafazh tersebut saja atau dia ucapkan berulang-ulang sambil menunggu takbîr imâm itu lebih baik baginya daripada dia mengucapkan dengan bahasa selain Arab, karena sungguh masalahnya ini di dalam shalat, yang sudah ditetapkan dengan berbahasa ‘Arab pada bacaan-bacaannya selama masih di dalam shalat, berbeda dengan di saat thawâf, berkhutbah dan ibadah lainnya yang selain daripada shalat.
Dan Allâh Subhânahu wa Ta’âla telah memberi kemudahan dalam beribadah dengan benar kepada-Nya dengan mengatakan:
فَٱتَّقُوا۟ ٱللهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ
“Bertaqwalah kalian dengan semampu kalian.” [Surat At-Taghâbun: 16].
Tatkala seseorang mampunya membaca doa hanya selafazh saja maka itu lebih baik baginya.
Semoga Allâh memberikan taufîq kepada orang tersebut untuk mampu menghafal doa seutuhnya dan juga semoga Allâh memberikan tambahan ilmu kepada kita dan kepadanya.
[ Muhammad Al-Khidhir ].