HUKUM MEMUKUL ISTERI

Pertanyaan:
Izin bertanya, bolehkah seseorang ditahdzir lantaran dia memukul isterinya?

Jawaban:
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah mentahdzîr dari Abû Jahm dengan maksud supaya Fâthimah bintu Qais tidak menikah dengannya, beliau berkata:

أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ

“Adapun Abû Jahm maka tidaklah dia meletakkan tongkatnya dari bahunya.” Yakni biasa memukul wanita.
Oleh karena itu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan Fâthimah bintu Qais untuk tidak menikah dengannya.
Pria yang biasa memukul isterinya merupakan pria yang dha’îf meskipun dia merasa tsabât, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat itu pada pergulatan, hanyalah orang yang kuat adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah.” Riwayat Al-Bukhârî.
Dahulu para Shahabat merasa rendah apabila memukul wanita, tatkala ada dari mereka yang memukul wanita maka akan bergegas menyesal dan melakukan amalan sebagai penebusnya, ‘Umar Ibnul Khaththâb Radhiyallâhu ‘Anhu tatkala memukul adik perempuannya karena telah memeluk Islâm maka beliau bersegera sadar akibat memukulnya hingga meminta lembaran ayat yang dipelajari oleh adik perempuannya lalu beliau memeluk Islâm.
Demikian pula Mu’âwiyah bin Al-Hakam As-Sulamî Radhiyallâhu ‘Anhu tatkala beliau memukul budak perempuannya maka beliau merasa sangat menyesali perbuatannya hingga beliau berkata kepada Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:

أَفَلاَ أُعْتِقُهَا

“Tidakkah sebaiknya aku memerdekakannya?.”
Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam setelah menguji keimanan budak perempuannya, beliaupun berkata:

أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Merdekakanlah karena sesungguhnya ia adalah wanita beriman.” Riwayat Muslim.

Memukul budak perempuan sendiri itu sudah dianggap oleh Mu’âwiyah bin Al-Hakam As-Sulamî sebagai suatu kesalahan, lalu bagaimana dengan memukul isteri sendiri karena suatu masalah remeh? Isteri tidak bisa masak langsung dipukul, isteri masak nasi jadi bubur langsung dipukul, isteri makan jajanan sendirian langsung dipukul. Lebih mengagetkan lagi tatkala isteri dipaksakan menghafal matan kitâb, di saat tidak bisa menghafal langsung dipukul. Orang kalau benar pengikutannya terhadap Sunnah tentu tidak akan berbuat dengan perbuatan rendahan dan hina tersebut, karena Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan contoh yang terbaik, beliau berkata:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sungguh sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada isteriku daripada kalian.” Riwayat At-Tirmidzî.

Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada tanggal 11 Muharram 1442 / 30 Agustus 2020 di Rumah Qur’ãn Hadîts Bekasi.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/4940