IKUT SHALAT GERHANA ATAU DIAM
Pertanyaan:
Ustâdz, apakah dibenarkan sikap orang yang pada santai dan berbincang-bincang dengan temannya, di saat orang-orang sedang ikut shalat gerhana? Alasannya dia tidak ikut karena tidak terlihat gerhana sebab mendung, bagaimana sikap yang baik?.
Jawaban:
Kalaupun tidak dia lihat gerhana terjadi maka tidakkah sebaiknya dia diam atau takut, kejadian berupa awan hitam atau mendung hendaklah dia takutkan, berkata ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘Anhâ tentang kekhawatiran dan rasa takut Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِي وَجْهِهِ. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا، رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ، وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِي وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ. فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا: هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا
“Beliau jika melihat awan atau angin maka diketahui pada wajahnya, aku berkata kepadanya: “Wahai Rasûlullâh, sungguh orang-orang tatkala melihat awan maka mereka bergembira, mereka berharap akan ada hujan dan aku melihatmu jika engkau melihat awan maka diketahui pada wajahmu ketidaksukaan. Beliau berkata: “Wahai ‘Âisyah, tidaklah aku merasa aman dari akan adanya azab, telah diazab suatu kaum dengan angin, sungguh suatu kaum telah melihat azab lalu mereka katakan: “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan untuk kami.” Riwayat Al-Bukhârî.
Orang-orang di zaman sekarang tatkala diberitahu tentang terjadinya gerhana, tidaklah membuat mereka takut, justru mereka menjadikan awan atau ketidakterlihatnya gerhana sebagai suatu pemandangan. Padahal Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah katakan:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
“Jika kalian melihat sedikitpun dari gerhana itu maka bergegaslah untuk berdzikir kepada Allâh, berdoa kepada-Nya dan beristighfâr kepada-Nya.”
Gerhana tidak dapat disamakan dengan melihat hilâl, karena melihat lihat kepada hilâl akan terasa menarik dan indah. Adapun gerhana, maka itu sesuatu yang menakutkan di mata orang-orang beriman, oleh karena itu Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam katakan:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهِا عِبَادَهُ
“Sungguh Allâh Ta’âlâ menakut-nakuti para hamba-Nya dengan gerhana itu.”
Maka dari itu, seseorang dianjurkan untuk bersegera ikut shalat bila benar telah terjadi gerhana di negerinya, gerhana terlihat oleh mata kepalanya ataupun tidak, hendaklah dia ikut shalat. Ini seperti yang diperbuat oleh Asmâ’ bintu Abî Bakr Ash-Shiddîq Radhiyallâhu ‘Anhumâ, beliau berkata:
أَتَيْتُ عَائِشَةَ وَهِيَ تُصَلِّي فَقُلْتُ مَا شَأْنُ النَّاسِ فَأَشَارَتْ إِلَى السَّمَاءِ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ، فَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ. قُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا، أَيْ نَعَمْ، فَقُمْتُ حَتَّى تَجَلاَّنِي الْغَشْيُ
“Aku datang menemui ‘Aisyah dalam keadaan beliau shalat, lalu aku bertanya: Ada apa dengan orang-orang? Beliau mengisyaratkan tangannya ke langit, ternyata orang-orang sedang shalat, beliau mengucapkan: Subhânallâh. Aku bertanya: “Ada kejadian gerhana?”, beliau mengisyaratkan dengan kepalanya yaitu iya ada gerhana. Akupun ikut shalat sampai berlalu gerhana.” Riwayat Al-Bukhârî.
Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Rabu, 14 Rabî’uts Tsânî 1444 di Bogor.