KELEZATAN ÎMÂN UNTUK WANITA YANG MENUNAIKAN HAK SUAMINYA
Wanita yang sangat bersemangat terhadap ilmu dan menyibukkan diri dengannya lalu ia tidak sempat menuaikan hak suaminya maka ia tidak akan merasakan kelezatan îmân, berkata Nabî ‘Alaihish Shalâtu wa Salâm:
وَلَا تَجِدُ امْرأَةٌ حَلاَوَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا
“Seorang wanita tidak akan merasakan kelezatan îmân sampai ia menunaikan hak suaminya.” Riwayat Al-Hâkim.
Demikian pula wanita yang menyibukkan diri dengan shalat-shalat sunnah dan puasa-puasa sunnah lalu tidak sempat menunaikan hak suaminya maka ia tidak akan merasakan kelezatan îmân. Maka bagaimana dengan wanita yang menyibukkan diri dengan perkara-perkara mubah hingga tidak menunaikan hak suaminya?.
Ash-Shiddîqah bintu Ash-Shiddîq Radhiyallâhu ‘Anhumâ sangat memahami akan pentingnya menunaikan hak suami sampai beliau mengakhirkan mengqadhâ puasa Ramadhân pada bulan Sya’bân, beliau berkata:
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ
“Dahulu ada padaku puasa dari bulan Ramadhân sedangkan aku tidak sanggup untuk mengqadhânya kecuali pada bulan Sya’bân.”
Di dalam riwayat Al-Bukhârî disebutkan sebab mengakhirkan mengqadhânya:
الشُّغْلُ مِنَ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Kesibukkan kepada Nabî atau kesibukkan terhadap Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.” Yakni dalam menunaikan hak-hak Nabî ‘Alaihish Shalâtu wa Salâm sebagai suaminya.
Fâidah Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Sabtu 11 Sya’bân 1442 / 27 Maret 2021 di Bekasi.