KEUTAMAAN PUASA 6 HARI PADA BULAN SYAWWÂL SEPERTI PUASA SEPANJANG MASA
Pertanyaan:
Mâsyâ Allâh waktu Pak Ustâdz khutbah tadi saya senang, namun tadi Pak Ustâdz sebutkan puasa 6 hari pada bulan Syawwâl keutamaannya semisal puasa sepanjang masa, tapi saya pernah baca buku menyebutkan keutamaan puasa 6 hari itu seperti puasa setahun, ma’af Pak Ustâdz, mana yang benar? Mohon pencerahannya?
Jawaban:
Penyebutan puasa 6 hari pada bulan Syawwâl dengan keutamaan puasa setahun itu berdasarkan hadîts yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân dengan lafazh:
فَقَدْ صَامَ السَّنَةَ
“Maka sungguh dia telah puasa setahun.”
Pada lafazh ini ada huruf taukîd sebagai pemastian setahun saja. Sementara di dalam “Shahîh Muslim” dengan lafazh:
كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Keberadaan puasanya seperti puasa sepanjang masa.”
Pada lafazh ini ada huruf tasybîh sebagai perumpamaan waktu yang tidak terhingga jumlahnya. Ini sesuai dengan makna ad-dahr yang defenisinya:
مُدَّةُ الحَيَاةِ الدُّنْيَا كُلُّهَا
“Masa kehidupan dunia seluruhnya.”
Makna ini seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’ãn tentang perkataan suatu kaum:
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَاۤ اِلَّا الدَّهْرُ
“Mereka berkata: Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.” (Al-Jâsiyah: 24).
Penyebutan dengan lafazh as-sanah itu masuk di dalam keumuman lafazh ad-dahr, dengan demikian dapat dikompromikan dua lafazh tersebut dengan rincian:
Pertama: Jika orang yang berpuasa 6 hari di bulan Syawwâl itu dia lakukan hanya sekali dalam hidupnya maka keutamaannya setahun berpuasa, sebagaimana yang diperjelas di dalam “Musnad Ahmad”:
وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ
“Puasa 6 hari setelah ‘Îdul Fithri itu adalah penyempurna terhadap puasa setahun.”
Kedua: Jika seseorang berpuasa 6 hari di bulan Syawwâl itu dia lakukan semasa hidupnya maka keutamaannya seperti berpuasa sepanjang masa, yang tentu pahalanya tidak terhingga sebagaimana yang Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ sebutkan secara umum di dalam hadîts Qudsî:
الصِّيَامُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan memberi pahala padanya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dan Muslim dari Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu.
Adapun pada riwayat Al-Bukhârî dengan tambahan:
وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Satu kebaikan dilipatgandakan pahalanya 10 kali lipat.” Maka ini lafazh umum, masuk di dalamnya semua kebaikan.
Dan penyebutan di sini bukan pembatasan, karena di dalam Al-Qur’ãn disebutkan:
وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
“Allâh melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allâh adalah Wâsi’ (Maha Luas) lagi ‘Alîm (Maha Mengetahui).” (Al-Baqarah: 261).
Dengan demikian jelaslah bahwa makna puasa ad-dahr yang disebutkan pada keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawwal itu adalah seperti puasa sepanjang masa, sebagaimana keutamaan puasa 3 hari pada setiap bulan yang Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam sebutkan:
فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Karena sesungguhnya puasa 3 hari pada setiap bulan itu adalah puasa sepanjang masa seluruhnya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dan Muslim dari ‘Abdullâh bin ‘Amr bin Al-‘Âsh Radhiyallâhu ‘Anhumâ.
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh setelah shalat Jum’at pada 8 Syawwâl 1439 di masjid Baiturrahmân Kemang Pratama 3 Bekasi.