MENDAHULUKAN PUASA QADHÂ DARIPADA PUASA SUNNAH
📱 Pertanyaan:
Afwân Ustâdz ada pertanyaan dari seorang akhwat, beliau bertanya: Bolehkah kita perbanyak puasa sunnah di 10 hari awal bulan Dzulhijjah sedangkan kita belum membayar hutang puasa di bulan Ramadhân? Syukran, Jazâkallâhu khairan Ustâdz.
📲 Jawaban:
Allâh ‘Azza wa Jalla berkata di dalam hadîts qudsî:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang Aku wajibkan kepadanya.” Riwayat Al-Bukhârî dari Abû Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu, dari Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.
Pada hadîts tersebut menunjukkan keutamaan mendahulukan amalan yang wajib daripada amalan yang sunnah, sedangkan mengqadhâ puasa Ramadhân termasuk suatu kewajiban yang hendaklah disegerakan pelaksanaannya.
Dan amalan shâlih yang paling utama, paling besar pahalanya serta paling dicintai oleh Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ adalah amalan wajib seperti mengqadhâ puasa Ramadhân ini, oleh karena itu hendaklah didahulukan pelaksanaannya daripada puasa sunnah di awal-awal bulan Dzulhijjah ini, berkata Al-Bukhârî Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:
وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ فِي صَوْمِ الْعَشْرِ: لاَ يَصْلُحُ حَتَّى يَبْدَأَ بِرَمَضَانَ
“Berkata Sa’id Ibnul Musayyib tentang puasa di 10 hari permulaan bulan Dzulhijjah: Tidak sepantasnya melalukan puasa sunnah sampai memulai dengan mengqadhâ puasa Ramadhân.”
Perlu untuk kita ketahui bahwa mengqadhâ puasa Ramadhân ini termasuk amalan muthlaq pelaksanaannya, kapan saja dan di hari apa saja, dengan demikian hendaklah melakukannya di hari-hari yang Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ cintai ini, berkata Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam:
مَا مِنْ أيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هذِهِ الأَيَّام يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ
“Tidak ada dari hari-hari yang amalan shâlih di dalamnya lebih dicintai oleh Allâh dari pada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama dari permulaan Dzulhijjah.” Riwayat Al-Bukhârî dari ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘Anhumâ.
Dan boleh bagi seseorang menunda-nunda mengqadhâ puasa Ramadhân jika terpenuhi dua syarat:
◽️ Jika dia memiliki udzur syar’î.
◽️ Dan jika waktunya masih luang.
Dalîl dari dua syarat tersebut adalah hadîts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhârî dari ‘Âisyah Radhiyallâhu ‘Anhâ, beliau berkata:
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ
“Dahulu aku memiliki hutang puasa Ramadhân, aku tidak mampu mengqadhânya kecuali pada bulan Sya’bân.”
Disebutkan pada kelanjutan riwayat tentang sebab mengakhirkannya sampai bulan Sya’bân:
الشُّغْلُ مِنَ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Kesibukan bersama Nabî atau kesibukan dengan Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.”
Beliau melayani Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam atau melaksanakan kewajiban-kewajiban beliau terhadap Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.
Dengan sebab itulah tidak masalah mengakhirkan mengqadhâ puasa Ramadhân karena waktu mengqadhânya juga masih luang, sementara puasa sunnah seperti puasa ‘Arafah termasuk amalan muqayyad yang dipersyaratkan pelaksanaannya hanya pada tanggal 9 Dzulhijjah, adapun mengqadhâ puasa Ramadhân maka kita anjurkan untuk melakukannya sebelum tanggal 9 Dzulhijjah dan kalau masih belum semua terqadhâ maka hendaklah melakukannya setelah Ayyâmut Tasyrîq, berkata Al-Bukhârî Rahmatullâh ‘Alainâ wa ‘Alaih:
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لاَ بَأْسَ أَنْ يُفَرَّقَ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Berkata Ibnu ‘Abbâs: Tidak mengapa pelaksanaannya dipisah-pisah, karena perkataan Allâh Ta’âlâ: “Maka hendaklah menggantinya pada hari-hari yang lain.”
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh wa Ra’âh pada hari Senin 4 Dzulhijjah 1440 / 5 Agustus 2019 di Maktabah Al-Khidhir Bekasi.