MENGHIDUPKAN AYYAMUT TASYRIQ SEBAGAI HARI RAYA TAMBAHAN ‘IDUL ADHHA

Pertanyaan:
Bismillah, Ahsanallahu ilaik, Ustadz, ada teman yang bertanya apakah praktek menggabungkan 2-3 ekor sapi kemudian baru dibagi rata 1/3 untuk yang masing-masing berkurban itu boleh adanya?. Mengingat pasti sapi-sapi itu tidak sama beratnya masing-masing.
Atau hanya bisa 1 sapi kemudian dibagi sesuai aturan syar’i untuk 7 nama yang tercatat itu. Kata teman itu karena harga sapi sama adanya mungkin panitia membuat pembagian seperti itu dengan menggabungkan dulu baru dibagi setelahnya.
Jazakallahu khairan.

Jawaban:
Jika mereka yang berqurban meridhai maka tidak mengapa, karena perkaranya kembali kepada keridhaan mereka, jangankan dibagi rata pada masing-masing, di antara mereka saja kadang tidak mau mengambil bagiannya, dan ada pula yang mengambil sekedarnya saja dan ada pula yang mengambil sesuai kadarnya. Ini menunjukkan perkaranya itu kembali pada keridhaan mereka. Dan juga melihat pada kesiapan dan kesediaan panitia, karena dimungkinkan panitia mengambil solusi yang lebih memudahkan dan meringankan. Hanya saja kita nasehatkan sebaiknya bagi panitia tidak menargetkan penuntusan penyembelihan dan pembagian di hari ‘Idul Adhha, karena masih ada keluangan waktu hingga akhir dari ayyamut tasyriq. Hendaklah hewan qurban dibagi penyembelihannya, sebagian di tanggal 10, sebagian lagi di tanggal 11 hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Itu lebih baik Insya Allah, selain tidak menguras tenaga bagi panitia, juga suasana hari raya masih ada hingga akhir ayyamut tasyriq, berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

ويومُ النَّحرِ وأيَّامُ التَّشريقِ عيدُنا أهلَ الإسلامِ وهي أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Dan hari ‘Idul Adhha (10 Dzulhijjah) serta ayyamut tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah hari raya kita wahai orang-orang Islam, itu adalah hari-hari untuk makan-makan dan minum-minum.”
Jangankan besok, hari ini saja kita lihat suasananya seakan-akan sudah bukan hari raya lagi, jangankan takbiran yang sudah tidak terdengar, acara makan-makan pun sudah seperti tidak ada lagi. Di negeri kita, suasananya dikalahkan oleh suasana sesudah ‘Idul Fithri, banyak orang memeriahkannya sampai beberapa hari setelah ‘Idul Fithri, berbeda sekali dengan hari raya ‘Idul Adhha dan Ayyamut Tasyriq.
Makanya kita menginginkan mempergunakan hari-hari raya ini dengan sebaik mungkin, suasana dari tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah kita inginkan tetap sama sebagai hari raya kita yaitu hari-hari bergembira dan makan-makan serta takbiran, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Ayyamut Tasyriq adalah hari-hari untuk makan-makan dan minum-minum serta berdzikir kepada Allah.”

[Abu Ahmad Al-Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu, 12 Dzulhijjah 1447 di Bogor].

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/14139
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/2264