MENINJAU DERAJAT HADÎTS PUASA ENAM HARI PADA BULAN SYAWWÂL

Pertanyaan:
Ustâdz, mohon maaf mau nanya soal puasa enam hari Syawwâl. Apa benar hadîtsnya dha’îf walaupun itu hadîts Muslim?

Jawaban:
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan Ahlul Hadîts terhadap hadîts puasa enam hari pada bulan Syawwâl, sebagian mereka berpendapat tidak shahîh hadîts tentang puasa enam hari pada bulan Syawwâl, meskipun hadîtsnya ada di dalam “Shahîh Muslim”.
Hal itu karena Muslim meriwayatkan dari jalur Sa’d bin Sa’îd bin Qais, dari ‘Umar bin Tsâbit bin Al-Hârits Al-Khazrajî, dari Abû Ayyub Al-Anshârî Radhiyallâhu ‘Anhu, bahwasanya beliau menceritakan kepadanya bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa puasa Ramadhân kemudian dia mengikutkannya dengan puasa enam hari di sebagian bulan Syawwâl maka keberadaan puasanya seperti puasa satu tahun.”

Di dalam jalur periwayatan Muslim ini ada perawi yang bernama Sa’d bin Sa’îd, yang dia ini dha’îful hadîts sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad. Dan At-Tirimidzî juga berkata:

وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الحَدِيثِ فِي سَعْدِ بْنِ سَعِيدٍ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ

“Sungguh telah berbicara sebagian Ahlul Hadîts tentang Sa’d bin Sa’îd karena sebab hafalannya.”

Jika Sa’d bin Sa’îd dikritik dan didha’îfkan dari sisi hafalannya yang jelek maka tidaklah sampai hadîts yang diriwayatkannya ini harus ditolak, karena telah ada pendukung dari dua saudaranya yang meriwayatkan hadîts yang sama, yaitu ‘Abdu Rabbih bin Sa’îd dan Yahyâ bin Sa’îd. Masing-masing keduanya memiliki riwayat tersendiri tentang hadîts tersebut sebagaimana yang diriwayatkan oleh An-Nasâ’î. Dan kedua saudara Sa’d bin Sa’îd ini telah dinyatakan tsiqah oleh Ahmad.

Sebagai salah satu pendukung dan penguat terhadap hafalan Sa’d bin Sa’îd yang berkaitan dengan hadîts yang diriwayatkannya tersebut adalah riwayat An-Nasâ’î dari jalur Yahyâ bin Sa’îd dari ‘Umar bin Tsâbit, beliau berkata:

غَزَوْنَا مَعَ أَبِي أَيُّوبَ فَصَامَ رَمَضَانَ وَصُمْنَا، فَلَمَّا أَفْطَرْنَا، قَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، وَصَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ 

“Kami ikut berperang bersama Abû Ayyub lalu beliau puasa Ramadhân dan kami juga berpuasa, tatkala kami ber’idul fithri maka beliau berkhutbah di hadapan manusia, beliau berkata: Sungguh aku telah mendengar Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa puasa Ramadhân lalu dia puasa enam hari dari sebagian Syawwâl maka keberadaan puasanya seperti satu tahun.”

Dengan satu riwayat pendukung dari berbagai riwayat tentang puasa enam hari pada bulan Syawwâl ini sudah mencukupi untuk dijadikan pegangan, Walhamdulillâh.

Dijawab oleh:
Muhammad Al-Khidhir pada hari Jum’at 5 Syawwâl 1443 / 6 Mei 2022 di Binagriya Pekalongan.

⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/6425