MENJAGA SHALAT DHUHA SEBAGAIMANA NABI SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Pertanyaan:
Ijin bertanya Ustadz, apakah hadist ini shahih?: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq Radhiyallahu ‘Anhu, dia bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: “Apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa melaksanakan shalat dhuha?”. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menjawab: “Tidak, kecuali ketika beliau baru tiba setelah bepergian.” [Riwayat Muslim].
Terus bagaimana hukumnya yang melakukan shalat sunnah dhuha setiap hari?.
Jawaban:
Hadits tersebut shahih, Al-Imam Muslim telah meriwayatkannya di dalam “Shahih”nya, beliau katakan:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ: قُلْتُ لِعَائِشَةَ: هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى؟ قَالَتْ: لَا إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ
“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, beliau berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Yazid bin Zurai’, dari Sa’id Al-Jurairi dari ‘Abdullah bin Syaqiq, beliau berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apakah dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dhuha?” Beliau menjawab: “Tidak, kecuali saat beliau kembali dari safarnya.”
Peniadaan Ibu kita Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha di sini sebatas pengetahuannya, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shubuh tidak langsung kembali ke rumah, namun beliau kembali setelah shalat dua raka’at, beliau sunnahkan shalat tersebut pada waktu dhuha yaitu setelah terbitnya matahari, At-Tirmidzi meriwayatkan di dalam “Sunan”nya dari Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau berkata:
مَن صلى الفجرَ في جماعةٍ، ثم قَعَد يَذْكُرُ اللهَ حتى تَطْلُعَ الشمسُ، ثم صلى ركعتينِ، كانت له كأجرِ حَجَّةٍ وعُمْرَةٍ تامَّةٍ تامَّةٍ تامَّةٍ
“Siapa yang shalat shubuh berjama’ah, setelah itu dia duduk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari. Kemudian dia shalat dua raka’at maka baginya seperti pahala haji dan ‘umrah sesempurna-sempurnanya.”
Orang-orang menamai shalat dua raka’at ini sebagai shalat syuruq, padahal hakeknya ini termasuk shalat dhuha karena pelaksanaannya di waktu dhuha, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada banyak riwayat disebutkan bahwa beliau shalat dhuha, pada riwayat ‘Aisyah beliau disebutkan shalat dhuha empat raka’at, pada riwayat Abu Hurairah disebutkan shalat dhuha dua raka’at, pada riwayat Ummu Hani disebutkan delapan raka’at. Dan Asy-Syaikh Ibnu Bazz Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih pernah menerangkan tentang shalat dhuha, beliau katakan:
وأقل ذلك ركعتان من الضحى بعد ارتفاع الشمس إلى وقوفها عند الظهر، هذا كله ضحى
“Paling sedikitnya itu dua raka’at di waktu dhuha, setelah meninggi matahari hingga menjelang zhuhur. Ini semuanya waktu dhuha.”
Jadi, waktu dhuha itu luas, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya di masjid sebelum beliau kembali ke rumahnya di waktu dhuha itu. Dan shalat dhuha termasuk sunnah yang hendaklah seseorang merutinkannya dan menjaganya pada setiap harinya. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita untuk bisa menjaga shalat dhuha dan bisa senantiasa melakukannya.
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/13119
⛵️ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1422