MUJÂHIDÎN FÎ SABÎLILLÂH ADALAH WALI-WALI ALLÂH
Pertanyaan:
‘Afwân, izin bertanya Ustâdz Abû Ahmad Muhammad Al-Khidhir Hafidzahullâh. Apa bisa dikatakan para mujâhidîn fî Sabîlillâh itu para Auliyâ’ullâh Ustâdz? Atau bahkan lebih tinggi penamaannya dari para Waliyullâh?.
Jawaban:
Mujâhidîn fî Sabîlillâh (orang-orang yang berperang di jalan Allâh), mereka termasuk Auliyâ’ullâh (wali-wali Allâh), dan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ yang menyebut mereka sebagai orang-orang yang memerangi Auliya’usy Syaithân:
ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱلطَّـٰغُوتِ فَقَـٰتِلُوۤا۟ أَوۡلِیَاۤءَ ٱلشَّیۡطَـٰنِۖ إِنَّ كَیۡدَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ كَانَ ضَعِیفًا
“Orang-orang beriman berperang di jalan Allâh, dan orang-orang kâfir berperang di jalan thâghût. Maka perangilah aulia’us syaithân (wali-wali syaithân) itu. Sungguh tipu daya syaithân itu lemah.” [Surat An-Nisá’: 76].
Allâh Jalla wa ‘Alâ menjadikan mujâhidîn sebagai para auliyâ’-Nya dan Allâh memberi keutamaan tersendiri bagi mereka:
وَفَضَّلَ ٱللَّهُ ٱلۡمُجَـٰهِدِینَ عَلَى ٱلۡقَـٰعِدِینَ أَجۡرًا عَظِیمࣰا * دَرَجَـٰتࣲ مِّنۡهُ وَمَغۡفِرَةࣰ وَرَحۡمَةࣰۚ
“Dan Allâh mengutamakan para mujâhidîn atas qâ’idîn (orang-orang yang tidak berjihâd) dengan pahala yang besar, serta ketinggian derajat di sisi-Nya, ampunan dan rahmat.” [Surat An-Nisâ’: 95-96].
(Muhammad Al-Khidhir).