ORANG-ORANG YANG WÂJIB MENGELUARKAN ZAKAT DAN YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT
Pertanyaan:
‘Afwân ada titipan pertanyaan, siapakah orang yang wâjib mengeluarkan zakat dan menerima zakat? Atas jawabannya Jazâkumullâhu khairan.
Jawaban:
Al-Imâm Al-Bukhârî semoga Allâh merahmati kita dan merahmati beliau mengatakan di dalam “Shahîh”nya:
باب صَدَقَةِ الْفِطْرِ عَلَى الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ
“Bâb zakat fithri wâjib atas orang kecil dan orang besar.”
Setelah beliau buat bâb ini beliau katakan:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ: حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ عَلَى الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالْحُرِّ وَالْمَمْلُوكِ
“Telah menceritakan kepada kami Musaddad, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahyâ dari ‘Ubaidillâh, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Nâfi’ dari Ibnu ‘Umar semoga Allâh meridhainya, beliau berkata: Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan zakat fithrah satu shâ’ berupa gandum atau satu shâ’ berupa korma atas orang kecil dan orang besar.”
Adapun kewajiban bagi anak kecil maka menjadi tanggungan orang tuanya, orang tuanya yang wâjib membayarkannya. Demikian pula hamba sahaya yang wâjib membayarkan zakatnya adalah tuannya. Zakat fithrah wâjib atas hamba sahaya sebagaimana anak kecil juga wâjib, Al-Bukhârî semoga Allâh merahmati kita dan merahmatinya mengatakan di dalam “Shahîh”nya:
باب صَدَقَةِ الْفِطْرِ عَلَى الْعَبْدِ وَغَيْرِهِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Bâb zakat fithrah wâjib atas hamba sahaya dan selainnya dari kalangan kaum Muslimîn”.
Setelah beliau bawakan bâb ini, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ، ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى، مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullâh bin Yûsuf, beliau berkata: Telah menceritakan kepada kami Mâlik dari Nâfi’ dari Ibnu ‘Abbâs semoga Allâh meridhainya, bahwa Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah mewajibkan zakat fithrah satu shâ’ berupa korma atau satu shâ’ berupa gandum atas setiap orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan dari kalangan kaum Muslimîn.”
Penyebutan dari kalangan kaum Muslimîn di sini bukan berarti hanya diwajibkan atas umat ini, namun kewajiban zakat merupakan kewajiban atas seluruh umat, dari umat terdahulu hingga umat ini. Allâh ‘Azza wa Jalla berkata tentang pernyataan ‘Îsâ Ibnu Maryam ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm:
وَجَعَلَنِی مُبَارَكًا أَیۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَـٰنِی بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَیࣰّا
“Allâh menjadikanku berberkah dimana saja aku berada dan telah mewajibkanku untuk melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat selama aku masih hidup.” [Surat Maryam: 31].
Allâh ‘Azza wa Jalla juga berkata tentang sikap Ismâ’îl bin Ibrâhîm ‘Alaihimash Shalâtu was Salâm:
وَكَانَ یَأۡمُرُ أَهۡلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرۡضِیࣰّا
“Dia memerintahkan keluarganya untuk melaksanakan shalat serta mengeluarkan zakat. Dan keberadaannya di sisi Rabbnya dalam keadaan diridhai.” [Surat Maryam: 55].
Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ wâjibkan zakat atas seluruh umat, yang Muslim maupun yang non Muslim. Orang yang Muslim yakni orang yang bertauhîd maka Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ menerima zakatnya, sedangkan orang yang non Muslim yakni yang tidak bertauhîd maka Allâh ‘Azza wa Jalla tidak menerima zakatnya sebagaimana orang-orang munâfiq, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ tidak menerima zakat mereka, berkata Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ:
وَمَا مَنَعَهُمۡ أَن تُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ نَفَقَـٰتُهُمۡ إِلَّاۤ أَنَّهُمۡ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦوَلَا یَأۡتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمۡ كُسَالَىٰ وَلَا یُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمۡ كَـٰرِهُونَ
“Tidaklah menghalangi mereka untuk diterima infâq mereka melainkan karena mereka benar-benar kâfir kepada Allâh dan Rasûl-Nya dan tidaklah mereka melaksanakan shalat melainkan dalam keadaan malas dan tidak pula mereka berinfâq melainkan dalam keadaan enggan (terpaksa).” [Surat At-Taubah: 54].
Demikian pula orang yang murtad atau orang yang batal keislamânnya, Allâh ‘Azza wa Jalla tidak menerima zakatnya sebagaimana orang-orang yang tidak beriman kepada takdir, Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ tidak menerima zakat mereka. Oleh karena itu berkata Ibnu ‘Umar semoga Allâh meridhai keduanya:
لَوْ أَنَّ لأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
“Kalau seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas yang besarnya semisal Uhud lalu dia menginfâqkannya maka Allâh tidak akan menerima darinya sampai dia beriman kepada takdir.”
Adapun yang wâjib atau yang dimaksudkan penanya yang berhak menerima zakat adalah orang-orang faqîr atau miskîn, berkata Al-Bukhârî semoga Allâh merahmatinya:
باب أَخْذِ الصَّدَقَةِ مِنَ الأَغْنِيَاءِ وَتُرَدَّ فِي الْفُقَرَاءِ حَيْثُ كَانُوا
“Bâb mengambil zakat dari orang-orang kaya lalu diberikan ke orang-orang faqîr dimana saja mereka berada.”
Setelah bâb ini beliau sebutkan hadîts yang Nabî Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam katakan kepada Mu’âdz bin Jabal semoga Allâh meridhainya:
فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
“Sampaikan kepada mereka bahwa Allâh benar-benar telah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada orang-orang faqîr mereka.”
Kalau tidak melihat ada orang faqîr atau miskîn untuk diberikan zakat kepadanya maka hendaklah melihat kepada salah seorang dari orang-orang yang disebutkan di dalam surat At-Taubah (ayat 60).
Dijawab oleh:
Al-Ustâdz Muhammad Al-Khidhir Hafizhahullâh pada tanggal 25 Ramadhân 1444 di Klapanunggal Bogor.