QUNUT WITIR TERKADANG ATAU TERUS MENERUS?
Pertanyaan:
Ustadz Abu Ahmad semoga Allah membimbing kita, tentang qunut di shalat witir yang dilakukan terus menerus, apa boleh mengambil pendapat tidak qunut terus menerus?. Hanya saja imam dan para jama’ah qunut sampai akhir shalat tarawih di sisa Ramadhan ini, sebab muncul pikiran nantinya akan timbul fitnah bagi yang lainnya.
Jawaban:
Boleh bagi seseorang yang shalat witir pada bulan Ramadhan dan selain Ramadhan untuk tidak qunut witir terus menerus, karena qunut witir hanyalah mustahab tidak sampai wajib, sebagaimana dalilnya telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya dan dishahihkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dari Al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata:
عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajariku beberapa kalimat supaya aku mengucapkannya di dalam qunut witir.”
Tidaklah datang pengamalan Al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhuma melakukan qunut witir terus menerus dan tidak pula datang dalam sunnah yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam qunut witir terus menerus dan tidak pula hanya terkadang saja qunut witir. Oleh karena itu telah cukup sebagai dalil tentang tidak mengapa untuk tidak qunut witir terus menerus, sebagaimana tidak mengapa untuk qunut witir terkadang saja, dan ini yang sesuai sunnah dan amalan para Salaf Radhiyallahu ‘Anhum. Dahulu para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum saat shalat witir pada bulan Ramadhan maka mereka qunut witir, berkata Ibnu Juraij Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih:
قلت لعطاء: القنوت في شهر رمضان؟ قال: أول من قنت فيه عمر. قلت: في النصف الآخر؟ قال: نعم
“Aku bertanya kepada ‘Atha: Apakah ada qunut pada bulan Ramadhan?.” Beliau menjawab: “Orang yang pertama qunut pada bulan Ramadhan adalah ‘Umar.” Aku bertanya: “Apakah pada setengah bulan terakhir Ramadhan?.” Beliau jawab: “Iya.
Dan diketahui bahwa ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu pertama kali qunut witir pada bulan Ramadhan karena beliau memerintahkan Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhuma saat mengimani shalat lail yakni shalat tarawih maka beliau perintahkan untuk qunut witir, berkata Al-Hasan:
أمر عمر أبي بن كعب يصلي بالناس، فكان إذا مضى النصف الأول واستقبلوا النصف الآخر ليلة ست عشرة قنتوا، فدعوا على الكفرة
“Umar memerintahkan Ubay bin Ka’ab untuk shalat mengimami manusia, apabila telah berlalu separuh pertama bulan Ramadhan dan masuk pada separuh yang terakhir yaitu masuk pada malam ke enambelas maka mereka qunut, mereka mendoakan keburukan atas orang-orang kafir.”
Ini menunjukkan tentang kebolehan untuk qunut witir tidak terus menerus sebagaimana kebolehan untuk terkadang qunut witir, Asy-Syaikh Ibnu Bazz Rahmatullah ‘Alaina wa ‘Alaih berkata:
النبي صلى الله عليه وسلم لما علم الحسن بن علي رضي الله عنهما القنوت في الوتر لم يأمر بتركه بعض الأحيان ولا بالمداومة عليه؛ فدل ذلك على جواز الأمرين
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala mengajarkan qunut witir kepada Al-Hasan bin ‘Ali semoga Allah meridhai keduanya, beliau tidak memerintahkan untuk meninggalkannya terkadang dan tidak pula memerintahkan untuk terus menerus padanya. Ini menunjukkan atas kebolehan kedua perkara tersebut.”
[Muhammad Al-Khidhir Ghafarallahu Lahu wa Radhiya ‘Anhu].
⛵️ https://t.me/majaalisalkhidhir/11715
⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/586