RUKHSHAH BAGI MUSAFIR

Pertanyaan:
Izin Ustadz bertanya, apakah seorang musafir yang sudah sampai di tempat atau negeri tujuan safarnya, masih boleh untuk mendapatkan rukhshah tidak berpuasa di bulan Ramadhan tersebut?.

Jawaban:
Kalau dia sampai di negeri tujuannya itu dengan niat menginap tidak lebih dari empat hari maka dia masih mendapatkan rukhshah untuk tidak berpuasa, sebagaimana telah berpendapat dengannya Asy Syafi’iyyah dan Jumhur ‘Ulama, berkata An Nawawi:

قال الشافعي والأصحاب: إن نوى إقامة أربعة أيام صار مقيما وانقطعت الرخص

“Berkata Asy Syafi’i dan para pengikut madzhabnya: “Jika musafir telah berniat untuk menetap empat hari maka jadilah dia mukim, dan terputuslah rukhshah.”
Dan berkata Asy Syaikh Ibnu Bazz:

فإذا أقام في أثناء السفر إقامة طويلة أكثر من أربعة أيام فإنه يصوم

“Jika musafir menetap di pertengahan safarnya dalam waktu lebih dari empat hari maka dia berpuasa.”
Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘Anhuma:

 أن النبي صلى الله عليه وسلم أقام بمكة في حجة الوداع أربعة أيام

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetap di Makkah pada haji Wada’ selama empat hari.”
Disebutkan pada kelanjutan hadits:

يقصر الصلاة

“Beliau mengqashar shalat.”
Berkata Ar Rafi’i dan An Nawawi:

الْأَصَح أَن المُرَاد بالأربعة غير يَوْم الدُّخُول وَيَوْم الْخُرُوج

“Yang benarnya bahwa yang dimaksudkan dengan empat hari adalah yang bukan hari masuknya ke Makkah dan hari keluarnya.”

Abu Ahmad Al Khidhir ‘Afallahu ‘Anhu, malam Kamis 15 Ramadhan 1447 / 5 Maret 2026 di Jatinegara Jakarta.

⛵ https://whatsapp.com/channel/0029Vb15hbQD8SDy7cwy460C/1911
⛵ https://t.me/majaalisalkhidhir/13700